Menu

Mode Gelap
Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2026 20 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia Versi QS Asia 2026 Materi Belajar SD/MI Kelas 1 Kurikulum Merdeka Tips Mendidik Anak Menjadi Pelajar Berprestasi

Film · 3 Jun 2026 20:24 WIB ·

Rekomendasi Drama Korea tentang Kehidupan Sehari-Hari


Rekomendasi Drama Korea tentang Kehidupan Sehari-Hari Perbesar

Pernah nggak sih, habis seharian capek kerja atau kuliah, terus malah nonton drakor yang alurnya bikin deg-degan kebanyakan? Atau drakor yang tokoh utamanya punya kekuatan super, ketemu alien, atau bisa balik waktu? Seru sih, tapi kadang yang paling terasa nyaman di hati itu justru drakor yang biasa-biasa aja. Drama tentang orang-orang yang bangun pagi, pergi kerja, masak mie instan tengah malam, atau sekadar duduk di balkon sambil minum kopi.

Drakor bergenre slice of life ini punya keistimewaan sendiri. Nggak perlu kaya raya mendadak atau menghadapi kiamat. Cukup lihat karakter yang kalap karena tumpukan cucian, stres mikirin besok bawa bekal apa, atau deg-degan ngirim pesan ke gebetan. Terasa banget, kan?

Nah, kalau kamu sedang butuh tontonan yang hangat dan terasa seperti pelukan, berikut beberapa rekomendasi drama Korea tentang kehidupan sehari-hari yang paling menyentuh.

1. Reply 1988 (2015-2016)

Siapa yang nggak kenal Reply 1988? Banyak yang bilang ini drama slice of life terbaik sepanjang masa. Ceritanya berlatar tahun 1988 di sebuah kompleks perumahan sederhana di Ssangmundong. Lima keluarga bertetangga dengan segala dinamikanya. Ada ibu-ibu yang setiap malam duduk di teras sambil kupas sayur dan bergosip, bapak-bapak yang pulang kerja lalu langsung tidur di depan TV, dan lima anak muda yang menghabiskan waktu dengan main monopoli sambil dengerin radio.

Yang bikin drama ini istimewa adalah betapa detailnya menggambarkan momen-momen kecil yang sering kita lewatkan. Misalnya, kebiasaan bertukar makanan antar tetangga. Suatu keluarga punya sedikit kimchi, tetangganya punya sedikit sup, yang lain punya telur dadar, lalu pada bolak-balik ke rumah masing-masing. Akhirnya piring bertumpuk, tapi rasa kekeluargaannya luar biasa.

Ada juga momen saat Deok-sun, tokoh utama, menangis karena nggak punya cita-cita sementara teman-temannya tahu mau jadi apa. Atau saat Jung-hwan yang bingung mau ngungkapin perasaan ke sahabatnya sendiri. Drama ini nggak cuma nostalgia era 80-an, tapi juga cerminan hidup yang relate sampai sekarang.

2. Because This Is My First Life (2017)

Pernah kepikiran buat nikah cuma biar bisa ngontrak rumah lebih murah? Atau jadi contract marriage karena tekanan orang tua? Because This Is My First Life mengangkat tema itu dengan ringan tapi penuh makna.

Jung So-min berperan sebagai penulis naskah drama yang gagal terus. Uangnya habis, nggak punya tempat tinggal. Lee Min-ki sebagai pengembang aplikasi yang kaku, kutu buku, dan hanya ingin hidup sendiri dengan aturan super ketat. Mereka akhirnya sepakat jadi suami istri kontrak.

Yang menarik, drama ini nggak berusaha romantis secara berlebihan. Justru menampilkan bagaimana dua orang dewasa yang asing satu sama lain belajar membagi ruang hidup. Ada perjanjian tertulis sampai warna seprai dan jam berapa boleh nyalakan mesin cuci. Kelihatan aneh, tapi banyak dari kita yang juga punya aturan sendiri di rumah, kan? Apalagi tinggal bareng orang baru.

Drama ini juga menyentil realitas sosial tentang pernikahan di Korea. Bagaimana perempuan di usia 30-an sering dapat pertanyaan “kapan nikah?” atau laki-laki yang di anggap gagal karena masih ngontrak. Dialog-dialognya terasa seperti curhat sama temen.

3. My Mister (2018)

Jujur, drama ini bukan tontonan ringan. My Mister berat. Tapi justru karena beratnya, drama ini terasa sangat nyata.

Cerita tentang Park Dong-hoon, pria paruh baya yang kerja di perusahaan konstruksi. Hidupnya biasa saja: istri yang dingin, dua saudara yang juga gagal di hidupnya, dan utang yang numpuk. Lalu ada Lee Ji-an, karyawan kontrak muda yang hidupnya lebih suram. Tinggal bersama nenek tua yang tak bisa bicara, kerja serabutan, dan punya utang sama rentenir yang kejam.

Pertemuan mereka bukan romansa. Jangan bayangkan ada adegan saling jatuh cinta. Yang ada adalah dua orang yang sama-sama lelah, lalu secara nggak sengaja saling menyelamatkan tanpa drama lebay. Dong-hoon cuma melihat Ji-an sebagai “anak kecil yang perlu dilindungi”, sementara Ji-an melihat Dong-hoon sebagai “satu-satunya orang baik yang pernah ia temui”.

Sepanjang 16 episode, kita di ajak melihat hari-hari mereka yang monoton. Bangun, kerja, lembur, pulang larut, tidur, ulangi. Tapi di tengah monoton itu ada percakapan di tempat minum kopi kantin, ada jalan pulang bareng di stasiun kereta, ada diam-diam membantu tanpa perlu bilang terima kasih.

Buat yang pernah merasa hidup ini nggak ada harapan atau capek dengan rutinitas, drama ini seperti di temani orang yang bilang “aku juga, kok.”

4. Fight for My Way (2017)

Nah, kalau yang ini lebih ceria tapi tetap relatableFight for My Way cerita tentang empat anak muda yang usianya hampir 30-an tapi hidupnya nggak seperti yang mereka impikan dulu.

Ada Ko Dong-man, mantan atlet taekwondo berbakat yang sekarang kerja jadi tukang bersih-bersih di pusat kebugaran. Ada Choi Ae-ra, perempuan bercita-cita jadi penyiar TV, tapi malah kerja di meja informasi pusat perbelanjaan. Mereka berteman sejak kecil, saling ledek, saling jahil, tapi juga saling support.

Yang bikin drama ini beda adalah cara mereka nggak malu-maluin dengan pilihan hidupnya. Dong-man akhirnya kembali ke taekwondo meski umurnya udah di anggap “tua” buat atlet. Ae-ra nekat ikut audisi penyiar sambil tetap jadi karyawan biasa. Mereka gagal berkali-kali, ditertawain orang, tapi tetap bangun lagi besoknya.

Drama ini cocok buat kamu yang lagi merasa “telat” buat ngejar mimpi. Atau lagi bimbang antara ikut kata hati atau kata orang tua. Karena seperti kata Ae-ra, “Hidup ini milik kita sendiri. Kalau bukan kita yang berjuang, siapa lagi?”

5. Hometown Cha-Cha-Cha (2021)

Balada si desa pesisir yang bikin siapa aja pengen pindah ke Gongjin. Hometown Cha-Cha-Cha awalnya mungkin keliatan seperti drama romantis biasa. Tapi begitu nonton, yang bikin betah justru kehidupan komunitas warganya.

Yoon Hye-jin, dokter gigi dari Seoul yang pindah ke desa karena satu dan lain hal. Di sana dia ketemu Hong Du-sik, pria serba bisa yang di juluki “Kepala Desa serabutan”. Mau benerin atap bocor? Du-sik. Mau bikin lemari? Du-sik. Mau nyari camilan tengah malam? Du-sik.

Tapi keindahan drama ini bukan di romance mereka. Justru di momen-momen kecil warga desa. Ada ibu-ibu yang setiap pagi olahraga tepi pantai sambil gosipin tetangga. Kakek-kakek yang main catur di warung kopi. Tetangga yang tahu persis rumah siapa yang lagi kesusahan lalu diam-diam ngasih bantuan.

Yang paling ikonik adalah kebiasaan warga Gongjin yang selalu makan bareng di dapur umum. Semua masak satu menu besar, lalu duduk melingkar sambil berbagi cerita dan tawa. Rasanya hangat, kayak kita lagi nonton kehidupan tetangga yang sebenarnya juga mirip dengan di kampung kita sendiri.

6. Thirty-Nine (2022)

Persahabatan tiga perempuan yang usianya 39 tahun. Thirty-Nine beda karena temanya lebih dewasa dan nggak takut ngangkat sisi kelam kehidupan.

Cha Mi-jo, Jung Chan-young, dan Jang Joo-hee bersahabat sejak SMA. Sekarang Mi-jo jadi direktur klinik kecantikan, Chan-young guru akting, dan Joo-hee pegawai biasa di kosmetik. Mereka tiap malam kumpul, makan enak, minum anggur, dan cerita apa aja.

Tapi drama ini nggak cuma tentang happy hour. Episode-episode akhir justru menghadapkan penonton dengan realita paling pahit: kehilangan. Salah satu sahabatnya divonis sakit parah. Sisa waktu mereka berduka, merawat, dan berusaha tegar.

Yang bikin Thirty-Nine terasa nyata bukan karena sedihnya, tapi karena momen-momen kecil yang ditampilkan di antara tangisan. Misalnya, saat mereka tetap membeli jajanan favorit walau rumah sakit melarang. Atau saat salah satu dari mereka nekat keluar dari rumah sakit cuma buat makan daging bakar. Atau saat mereka menulis surat perpisahan tanpa tahu harus memulai dari mana.

Drama ini untuk siapa aja yang pernah atau sedang kehilangan. Atau yang takut kehilangan. Karena kita jadi ingat, sebaik-baiknya hidup bukan di hari besar, tapi di hari-hari biasa yang dihabiskan dengan orang yang kita sayang.

7. Summer Strike (2022)

Pernah mikir buat kabur dari semua tekanan dan tinggal di desa? Summer Strike jawabannya.

Lee Yeo-reum, perempuan usia 28-an yang hidupnya penuh kegagalan. Kerja di kantor toxic, atasan galak, kolega jahat, ibunya terus menuntut, dan pacarnya selingkuh. Suatu hari, dia memutuskan berhenti dari semua. Pindah ke desa kecil bernama Angok. Nggak bawa banyak rencana, nggak punya skill spesial, cuma butuh istirahat.

Di Angok, dia bertemu Ahn Dae-beom, pustakawan yang pendiam, hampir nggak pernah bicara, dan hidupnya sangat sederhana. Perlahan mereka belajar hidup tanpa ambisi berlebihan. Yeo-reum belajar masak, tanam sayur, dan berkenalan dengan tetangga yang aneh-aneh. Dae-beom perlahan mulai bicara lebih dari tiga kata.

Pesan utama drama ini sederhana tapi sulit di lakukan: hidup nggak harus menang setiap saat. Kadang kita boleh berhenti, ambil napas, dan nggak ngapa-ngapain.

Banyak adegan diam yang justru paling berbicara. Adegan Yeo-reum duduk di emperan toko sambil minum es teh, melihat matahari terbenam. Dae-beom yang hanya membaca buku di perpustakaan kosong. Adegan hujan deras lalu mereka berlindung di bawah pohon tanpa bicara. Rasanya kayak lagi diajak istirahat juga.

8. One Day Off (2023)

Yang ini formatnya unik. Cuma 8 episode, setiap episode hanya 30 menit. Cerita tentang Park Ha-kyung, guru SMA yang setiap hari Sabtu mengambil satu hari untuk dirinya sendiri. Dia naik kereta ke kota kecil, menginap satu malam, lalu kembali Minggu pagi.

Setiap episode, Ha-kyung pergi ke tempat berbeda. Pekan ini ke toko buku bekas di kota pantai, pekan depan ke kafe yang menjual kue tradisional, pekan berikutnya ke sanggar tembikar. Sepanjang perjalanan, dia bertemu orang-orang asing, mendengar cerita mereka, dan merefleksikan hidupnya sendiri.

Yang membuat One Day Off terasa seperti diary pribadi adalah cara penceritaannya yang lambat dan intim. Kamu diajak berjalan-jalan, melihat langit senja, merasakan angin laut, dan mendengarkan obrolan ringan yang ternyata bermakna.

Drama ini cocok banget ditonton Sabtu pagi sambil minum kopi. Atau saat kamu lagi butuh “liburan” tapi nggak punya waktu dan uang untuk benar-benar liburan.

9. Would You Like a Cup of Coffee? (2021)

Drama ini bahkan lebih lambat dari semua rekomendasi sebelumnya. Tapi di situlah letak keindahannya.

Cerita tentang Kang Go-bi, pemuda yang magang di kedai kopi kecil di Gangneung. Pemilik kedai adalah Kang Dae-won, pria paruh baya yang jarang bicara dan sangat perfeksionis soal kopi. Sepanjang drama, Go-bi belajar bukan hanya tentang teknik menyeduh kopi, tapi juga tentang pelanggan yang datang.

Setiap episode seperti satu babak kecil. Misalnya, ada pelanggan yang setiap hari datang memesan americano tapi selalu duduk di sudut sambil menangis diam-diam. Ada sepasang lansia yang datang setiap minggu dengan satu cangkir untuk dua orang. Ada anak muda yang pesan kopi paling aneh karena nggak mau terlihat “norak”.

Dialog di drama ini sangat minim. Kamu lebih banyak melihat proses menyeduh kopi dari biji digiling, air dipanaskan, hingga kopi menetes perlahan. Dan anehnya, itu sangat menenangkan.

Would You Like a Cup of Coffee? mengingatkan bahwa di setiap cangkir kopi, ada cerita. Sama seperti setiap hari biasa yang kita jalani, sebenarnya juga istimewa. Tapi kita terlalu sibuk untuk menyadarinya.

Kenapa Drakor Slice of Life Terasa Berbeda?

Mungkin kamu bertanya, kenapa sih drama tanpa konflik besar bisa terasa begitu mengena? Jawabannya sederhana: karena hidup kita sendiri juga seperti itu.

Kita nggak setiap hari dikejar mafia atau jadi pewaris chaebol yang amnesia. Tapi kita pernah nggak tidur semalaman karena mikirin utang, pernah diam-diam iri sama teman yang hidupnya keliatan lebih mulus, pernah nangis di kamar mandi setelah dimarahi bos, atau pernah senang luar biasa cuma karena akhirnya bisa beli camilan favorit setelah gajian.

Drama-drama di atas melakukan satu hal dengan sangat baik: mereka mengakui bahwa perasaan kecil itu penting. Bahwa drama ketika kamu lupa beli beras padahal udah malem itu nyata. Stres karena nggak tahu mau makan apa itu valid. Kebahagiaan sederhana seperti tidur siang di hari libur itu layak dirayakan.

Kalau sedang lelah dengan tuntutan hidup, rekomendasi drama Korea tentang kehidupan sehari-hari ini bisa jadi teman. Nggak perlu banyak belajar atau mikir. Cukup duduk, tonton, dan rasakan bahwa kamu nggak sendirian dalam menjalani hari-hari yang biasa-biasa saja ini.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Daftar Drama Korea Komedi yang Menghibur

3 Juni 2026 - 21:53 WIB

Daftar Film Komedi Indonesia yang Bikin Ngakak

3 Juni 2026 - 16:33 WIB

Daftar Film Animasi Jepang Terbaik yang Wajib Ditonton

2 Juni 2026 - 23:38 WIB

Rekomendasi Film Action Seru yang Penuh Aksi

2 Juni 2026 - 20:50 WIB

10 Film Paling Banyak Ditonton 2025

22 Juli 2025 - 00:58 WIB

Rekomendasi Film Korea Cocok Untuk Gen Z, Ada Train to Busan

2 November 2023 - 19:46 WIB

Rekomendasi Film Korea
Trending di Film