Menu

Mode Gelap
Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2026 20 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia Versi QS Asia 2026 Materi Belajar SD/MI Kelas 1 Kurikulum Merdeka Tips Mendidik Anak Menjadi Pelajar Berprestasi

Travel · 8 Jun 2026 22:24 WIB ·

Rekomendasi Tempat Wisata di Semarang yang Bersejarah


Ilustrasi Lawang Sewu (img: gramedia) Perbesar

Ilustrasi Lawang Sewu (img: gramedia)

Semarang punya pesona yang unik. Kota metropolitan ini tidak hanya menawarkan hiruk-pikuk perkotaan dan kuliner lumpia yang legendaris, tetapi juga menyimpan banyak sekali sudut-sudut bisu yang bicara banyak tentang masa lalu. Buat saya pribadi, berjalan-jalan di Semarang seperti sedang membuka buku sejarah raksasa. Kita bisa melihat langsung bagaimana percampuran budaya Jawa, Belanda, dan Tionghoa membentuk karakter kota ini.

Nah, buat kamu yang sedang merencanakan liburan edukatif atau sekadar ingin jalan-jalan sambil belajar sejarah, berikut beberapa rekomendasi tempat wisata bersejarah di Semarang yang sayang banget untuk dilewatkan. Dijamin, liburanmu tidak akan terasa membosankan karena setiap tempat punya cerita mistis, heroik, atau romantis tersendiri.

1. Lawang Sewu: Saksi Bisu Perjuangan dan Misteri

Hampir tidak ada daftar wisata sejarah Semarang yang lengkap tanpa menyebut Lawang Sewu. Bangunan megah bergaya kolonial Belanda ini dulu bernama Het Administratiegebouw van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Meskipun namanya berarti “Seribu Pintu”, jumlah pintunya sebenarnya tidak sampai seribu, hanya sekitar 600-an lebih. Tapi, efek lengkung kaca besarnya yang berjajar rapi memang menciptakan ilham “seribu”.

Dulu, tempat ini digunakan sebagai kantor administrasi kereta api. Namun, masa pendudukan Jepang mengubahnya menjadi lokasi yang kelam termasuk ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara dan eksekusi. Di masa perang kemerdekaan, Lawang Sewu juga menjadi saksi heroik Pertempuran Lima Hari di Semarang. Sekarang, duduk di lorongnya yang sejuk atau naik ke menara airnya, kamu bisa membayangkan bagaimana gigihnya para pejuang merebut gedung ini dari tangan tentara Jepang.

Tips dari pengalaman orang yang sudah sering ke sana: Jangan lupa ikut tur malam jika kamu suka sensasi misteri. Banyak pengunjung yang mengaku merasakan hawa dingin aneh atau melihat penampakan di area ruang bawah tanah. Tapi tenang, siang harinya, Lawang Sewu justru jadi spot foto aesthetic dengan ornamen kaca patri yang memukau.

2. Kota Lama Semarang: Little Netherland di Tropis

Hampir persis seperti judul filmnya, kawasan ini sering disebut sebagai Little Netherland. Bedanya, tidak ada salju di sini, melainkan terik matahari yang menembus daun-daun tua. Kota Lama atau Outstadt adalah pusat perdagangan pada abad ke-18 sampai awal 20-an. Di sinilah berdirinya bangunan-bangunan ikonik seperti Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) dengan kubahnya yang bulat dan unik.

Berjalan-jalan di kawasan ini serasa teleportasi ke Eropa. Kamu akan melihat arsitektur bergaya Art Deco, Neo-Renaisans, hingga Indische. Yang paling seru, banyak kafe-kafe kekinian yang menyelinap di antara gedung-gedung tua. Jadi, setelah puas memotret dinding dengan ukiran klasik, kamu bisa bersantai menikmati kopi susu di bangku kayu sambil melihat matahari sore meluncur di sela-sela gedung.

Sedikit cerita: Dulu kawasan ini sempat terlantar dan kumuh. Kini, setelah revitalisasi, ia berubah jadi pusat kreatif anak muda. Tempat wajib singgah adalah Taman Srigunting, tempat biasa diadakan pertunjukan musik atau bazar kuliner.

3. Klenteng Sam Poo Kong: Jejak Laksamana Cheng Ho

Kalau bicara sejarah akulturasi, Klenteng Sam Poo Kong adalah juaranya. Tempat ini dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, penjelajah muslim dari Tiongkok yang singgah di Semarang pada abad ke-15. Bedanya dengan klenteng lain, suasana di sini terasa lebih sakral nan teduh. Di dalam kompleks ini, ada patung besar Laksamana Cheng Ho dan area gua tempatnya pernah bertapa.

Yang unik, klenteng ini tidak hanya ramai dikunjungi etnis Tionghoa. Banyak juga warga pribumi dan turis asing yang datang untuk sekadar berdoa atau sekadar mengagumi arsitektur perpaduan Tiongkok, Jawa, dan Eropa. Di belakang klenteng, ada Batu Kenong, sebuah batu besar yang konon digunakan Laksamana Cheng Ho untuk beristirahat. Banyak orang percaya bahwa mengusap batu ini bisa membawa keberuntungan.

Saran mengunjungi: Datanglah saat perayaan Cap Go Meh. Suasananya meriah, lampion bertebaran, dan ada pertunjukan barongsai yang bikin bulu kuduk merinding sekaligus meriah.

4. Stasiun Tawang: Lebih dari Sekedar Tempat Naik Kereta

Sebagian besar orang hanya lewat sini untuk bepergian ke luar kota. Padahal, Stasiun Tawang adalah salah satu stasiun kereta tertua di Indonesia yang masih beroperasi dengan sangat baik. Bangunan bergaya Art Deco dengan ornamen khas Belanda ini diresmikan pada tahun 1914. Coba perhatikan jendela-jendela besarnya dan plafon tinggi di ruang tunggu. Tanpa pendingin ruangan pun, stasiun ini terasa adem sebuah keajaiban arsitektur tropis kuno.

Dari pelataran depan stasiun, kamu bisa melihat langsung kawasan Kota Lama karena posisinya yang bersebelahan. Banyak wisatawan yang sengaja mampir ke stasiun ini hanya untuk berfoto dengan latar lokomotif kuno yang dipajang di luar gedung. Rasanya seperti sedang berada di film-film perjuangan tempo dulu.

5. Benteng Pendem (Benteng Willem I): Misteri di Bawah Tanah

Sesuai namanya, “Benteng yang Terpendam”. Terletak di daerah Tugurejo, benteng ini unik karena sebagian besar bangunannya terkubur tanah, hanya atap-atapnya yang tampak dari permukaan. Dibangun pada abad ke-18 atas perintah Gubernur Jenderal Willem I, benteng ini aslinya dipakai untuk markas militer dan penyimpanan amunisi.

Menelusuri lorong-lorong bawah tanah di Benteng Pendem membutuhkan nyali. Udara di dalamnya lembab, gelap, dan hanya diterangi lampu darurat yang remang-remang. Anda akan melihat sel-sel tahanan dan ruang pengintaian. Penduduk lokal sering bercerita tentang suara-suara aneh atau hawa mistis di area tertentu, tapi jangan khawatir—saat siang hari, banyak keluarga yang justru piknik di atas rerumputan benteng sambil melepas layangan.

6. Gudang Ransel (Museum Ronggowarsito)

Bagi pemburu sejarah militer, Gudang Ransel tidak boleh terlewat. Tempat ini dulunya adalah gudang logistik tentara Jepang dan Belanda. Kini, bangunan bercat hijau itu diubah menjadi museum yang menyimpan koleksi peralatan perang, meriam kuno, hingga mobil kepresidenan zaman dahulu. Lokasinya yang tidak terlalu ramai membuatnya ideal buat wisatawan yang ingin belajar sejarah tanpa desakan keramaian.

Saya pribadi paling suka melihat koleksi peralatan dapur dari zaman kolonial yang terpajang di sini. Sederhana, tetapi sungguh menggambarkan betapa kerasnya kehidupan di masa lalu.

7. Tugu Muda: Monumen Pertempuran Lima Hari

Tidak jauh dari Lawang Sewu, ada Tugu Muda yang menjulang anggun. Tugu ini adalah monumen peringatan untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang (15-19 Oktober 1945). Bentuknya menyerupai lilin atau obor yang menyala simbol semangat yang tak pernah padam.

Di sekeliling tugu, ada relief yang mengisahkan kronologi pertempuran rakyat Semarang melawan tentara Jepang. Kalau kamu datang saat sore, banyak keluarga duduk-duduk santai di taman sekitar sambil mengajarkan anak-anak tentang sejarah bangsanya. Pemandangan malam di Tugu Muda juga kece abis, dengan lampu-lampu yang menerangi patung dan air mancur menari.

Tips Jalan-Jalan Hemat dan Berkesan di Semarang

  • Gunakan transportasi umum atau sewa motor: Semarang terkenal dengan kemacetan di jam sibuk. Namun, spot-spot bersejarah seperti Kota Lama dan Lawang Sewu itu berdekatan. Kamu bisa sewa sepeda santai di sekitar Kota Lama untuk berkeliling.

  • Waktu terbaik berkunjung: Antara bulan Mei hingga September. Hindari musim hujan karena sebagian tempat seperti Benteng Pendem cukup licin. Datanglah pagi-pagi untuk menghindari panas menyengat dan antrean panjang di Lawang Sewu.

  • Padukan dengan kuliner: Jangan lupa coba Lumpia Semarang di daerah Simpang Lima, lalu Tahu Gimbal di kawasan Pasar Semawis (yang biasanya buka malam hari).

Semarang itu seperti taman arkeologi hidup. Kamu bisa menyentuh tembok tua, duduk di kursi yang mungkin pernah diduduki komandan perang, atau sekadar merasakan angin laut yang sama seperti yang dirasakan Laksamana Cheng Ho berabad lalu. Jadi, kapan kamu berencana menyusuri jejak sejarah di kota yang satu ini?

Komentar
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Destinasi Liburan Hemat untuk Backpacker Pemula

7 Juni 2026 - 21:25 WIB

Tips Hemat Liburan

Tempat Wisata Kekinian yang Sedang Hits Saat Ini

7 Juni 2026 - 19:53 WIB

Rekomendasi Wisata Danau Terindah di Indonesia

7 Juni 2026 - 17:27 WIB

Papua

Rekomendasi Wisata Alam untuk Melepas Penat

7 Juni 2026 - 13:11 WIB

Manfaat Study Tour

Destinasi Wisata Kota Tua yang Penuh Sejarah

6 Juni 2026 - 21:00 WIB

Rekomendasi Wisata Murah

Tips Packing Praktis untuk Liburan Singkat

6 Juni 2026 - 20:22 WIB

Trending di Travel