Menu

Mode Gelap
Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2026 20 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia Versi QS Asia 2026 Materi Belajar SD/MI Kelas 1 Kurikulum Merdeka Tips Mendidik Anak Menjadi Pelajar Berprestasi

Kuliner · 12 Jun 2026 18:50 WIB ·

Rekomendasi Makanan Tradisional yang Mulai Langka


img: detimes.com Perbesar

img: detimes.com

Siapa di sini yang masih ingat rasa getuk Lindri atau kue cucur yang legit? Atau mungkin kerak telor yang dulu mudah di temui di acara-acara tertentu? Zaman berubah begitu cepat. Mall menjamur, makanan cepat saji masuk ke berbagai pelosok, dan generasi muda lebih familiar dengan burger di banding jajanan pasar.

Pelan tapi pasti, warisan kuliner Nusantara ini mulai menghilang. Bukan karena rasanya kalah enak, tapi karena proses pembuatannya yang rumit dan minimnya regenerasi. Mari berkenalan dengan beberapa makanan tradisional yang kini masuk kategori “langka” dan sayang jika hanya jadi kenangan.

1. Kerak Telor (Betawi)

Dulu, setiap ada hajatan atau perayaan 17 Agustus di Jakarta, kerak telor selalu hadir. Kini, hanya tersisa di beberapa sudut Kota Tua atau acara tertentu. Kerak telor terbuat dari beras ketan putih, telor ayam atau bebek, ebi, dan kelapa sangrai. Yang sulit ditiru adalah cara memasaknya dengan arang di atas wajan besi, lalu dibalik hingga matang sempurna tanpa gosong. Anak muda sekarang malas repot. Lagipula, modalnya cukup besar sementara penjualan tidak setiap hari ramai.

2. Kue Rangi (Betawi)

Satu lagi dari Betawi yang mulai susah dicari: kue rangi. Terbuat dari tepung sagu dan parutan kelapa muda, lalu dimasak di cetakan khusus berbentuk setengah lingkaran. Rasa gurih dari kelapa dipadu saus gula merah cair yang kental. Bedanya dengan kue pancong? Kue pancong pakai santan dan lebih padat, sementara rangi lebih ringan dan teksturnya berserat. Sayangnya, karena cetakan besi yang berat dan harus dioles terus menerus, banyak penjual beralih ke jajanan praktis.

3. Jalangkote (Makassar)

Jalangkote mirip pastel, tapi isiannya lebih kaya: rebung, telur, kentang, wortel, dan daging ayam atau udang. Bedanya lagi, jalangkote punya topping saus kacang yang manis pedas. Dulu mudah di temui di pedagang keliling Makassar. Sekarang, hanya beberapa toko oleh-oleh tertentu yang masih memproduksi. Proses melipat pinggiran kulitnya dengan pola khas seperti anyaman tipis butuh keterampilan khusus. Anak-anak muda di Sulawesi Selatan lebih memilih jualan batagor atau cilor karena lebih simpel.

4. Kue Sagon (Jawa)

Sagon adalah kue kering dari kelapa parut yang dicampur tepung beras dan gula, lalu dibakar di atas daun pisang. Ada dua jenis: sagon bakar yang keras renyah dan sagon kukus yang lembut. Yang mulai hilang adalah sagon bakar khas Banyumas dan sekitarnya. Kenapa langka? Karena kelapa harus diparut manual, bukan dari kelapa kering instan. Proses pembakaran dengan arang juga butuh kesabaran. Di pasaran, banyak sagon instan dari kelapa kering yang rasanya jauh berbeda.

5. Wajik Ketan Hitam

Wajik biasa masih banyak ditemui. Tapi wajik dari ketan hitam asli mulai susah. Perbedaannya terletak pada warna ungu alami dan rasa yang lebih earthy. Proses memasak ketan hitam dengan gula kelapa sampai mengental dan mengilap butuh waktu berjam-jam. Pengadukan tidak boleh berhenti, kalau tidak gosong. Banyak produsen sekarang pakai pewarna dan gula pasir demi menghemat waktu. Hasilnya? Lengket dan terlalu manis tanpa aroma khas gula kelapa.

6. Dodol Garut (Asli)

Dodol Garut sih terkenal, tapi dodol asli dengan proses tradisional mulai langka. Makanan ini otentik diaduk dalam kuali besar selama 8-10 jam menggunakan kayu bakar. Timnya bergantian mengaduk tanpa henti. Dodol modern yang dijual di supermarket dibuat dengan meski dan pengawet, teksturnya lebih keras dan tidak sekenyal dodol hasil adukan manual. Pabrik-pabrik kecil di Garut yang masih setia dengan metode lama tinggal beberapa. Anak-anak pemilik usaha rata-rata ogah melanjutkan karena capek.

7. Rujak Jinggo (Bali)

Rujak jinggo versi Bali berbeda dengan rujak lainnya. Porsinya kecil, di bungkus daun pisang segitiga, dan pakai saus dari gula aren, terasi, serta cabai rawit. Nama “jinggo” artinya “makan” dalam bahasa Bali alus. Dulu banyak penjual nongkrong di pinggir jalan. Sekarang, rujak jinggo asli sulit di temukan karena generasi muda Bali lebih tertarik jualan nasi campur atau western food. Yang masih berjualan kebanyakan ibu-ibu sepuh dengan tempat yang tidak tetap.

8. Kue Lumpur Lapis Surabaya

Banyak yang salah sangka kue lumpur itu hanya satu jenis. Padahal, kue lumpur lapis Surabaya punya tekstur berlapis: bawah gurih dari santan dan kentang, atas manis dari gula jawa. Proses memanggangnya unik, adonan dituang setengah matang dulu, lalu ditaburi gula jawa, baru di tuang sisa adonan di atasnya. Hasilnya, ketika digigit, ada sensasi meleleh dari gula jawa di tengah. Kini, hanya penjual kue pasar tertentu yang masih berani bikin. Sebab, tingkat kegagalannya tinggi: sering bantat atau gula jawa turun ke dasar.

9. Colenak (Sunda)

Colenak singkatan dari “di cocol enak”. Roti bakar dari singkong yang di sajikan dengan saus kinca (gula merah cair dengan santan). Bedanya dengan singkong biasa, singkong untuk colenak di kukus dulu, lalu di bakar di atas bara api sampai ada aroma smoky. Sayangnya, singkong berkualitas baik makin susah didapat karena lahan pertanian beralih ke komoditas lain. Banyak yang mengganti dengan roti tawar bakar, tapi itu bukan colenak namanya.

10. Apem Selimut

Apem biasa masih ada, tapi apem selimut hampir punah. Ini kue apem berukuran kecil seperti kue mangkok, lalu dibungkus atau “diselimuti” dengan parutan kelapa yang sudah diberi garam. Keunikan lainnya, apem ini difermentasi alami dengan tape singkong, bukan ragi instan. Rasanya sedikit masam dan wangi. Sekarang, sebagian besar apem pakai ragi sehingga rasa dan aromanya standar. Proses fermentasi alami butuh waktu 12 jam lebih, tidak praktis untuk jualan harian.

11. Lempuk Durian (Jambi dan Kalimantan)

Lempuk adalah manisan durian yang dimasak dengan gula hingga menjadi pasta kental seperti selai. Beda dengan dodol durian, lempuk punya tekstur lebih lembut dan tidak pakai tepung. Hanya daging durian, gula, dan sedikit garam. Di masak selama 4-5 jam dengan api kecil. Ke langkaannya karena harga durian yang mahal dan proses masak yang melelahkan. Sekarang, banyak yang jual lempuk durian tapi sudah di campur labu kuning atau tepung.

12. Geplak (Yogyakarta)

Geplak terbuat dari parutan kelapa muda yang di campur gula pasir dan sedikit tepung beras, lalu di bentuk bulat atau lonjong. Rasanya manis sekali dan legit. Yang membedakan geplak asli dengan yang palsu: geplak asli akan lumer di mulut karena kadar kelapanya tinggi. Geplak yang banyak di jual di toko oleh-oleh sekarang keras dan seperti permen. Penyebab langka? Kelapa muda berkualitas makin sulit didapat di luar musim, sementara permintaan stabil. Akhirnya, produsen mengurangi komposisi kelapa.

13. Sagon Koci (Minangkabau)

Ini beda dengan sagon Jawa. Sagon koci adalah kue basah berisi unti kelapa (kelapa dan gula merah), lalu dibungkus daun pisang bentuk kerucut atau “koci”. Bedanya dengan lepet, sagon koci menggunakan adonan luar dari tepung beras dan tepung sagu, lebih kenyal. Di Padang dan sekitarnya, kue ini mulai sulit di temukan karena pembungkus daunnya merepotkan. Para ibu penjual kue beralih ke bungkusan plastik yang praktis, padahal aroma daun pisang justru ciri khasnya.

14. Kue Ku Biji Salak

Bukan kue yang bentuknya biji salak, tapi kue ku berisi potongan kolang-kaling yang warnanya oranye seperti buah salak. Uniknya, kue ini hanya muncul saat musim buah salak atau saat ada acara tertentu di Jawa Timur. Kulit luarnya dari tepung ketan, di isi kolang-kaling yang sudah di masak gula merah, lalu di cetak menyerupai buah salak mungil. Kenapa langka? Kolang-kaling yang bagus susah di dapat, plus proses mengisi dan mencetak butuh ketelitian. Anak muda lebih memilih jualan kue ku isi kacang hijau yang lebih simpel.

15. Brem Padang

Brem di Jawa terkenal sebagai minuman fermentasi beras. Tapi brem Padang adalah penganan padat dari sari tape ketan yang di keringkan. Teksturnya mirip kertas atau keripik, rasa manis dan sedikit asam. Dulu, brem Padang menjadi oleh-oleh andalan. Kini, hanya beberapa home industry di Sicincin yang masih memproduksi. Proses pengeringan butuh sinar matahari penuh selama 3-4 hari. Jika hujan, produksi gagal. Generasi penerus lebih memilih kerja di pabrik atau jualan online yang tidak tergantung cuaca.

 

Menjaga makanan tradisional bukan soal nostalgia semata. Ini tentang mempertahankan keanekaragaman hayati (banyak bahan lokal yang mulai di tinggalkan), keterampilan yang di wariskan turun-temurun, dan tentu saja, rasa yang tidak bisa di gantikan oleh makanan instan mana pun.

Kita tidak perlu jadi penjual untuk ikut melestarikan. Cukup beli ketika bertemu, ajak anak atau keponakan mencicipi, atau sekadar ceritakan makanan-makanan ini di media sosial. Setiap orang yang tahu dan menghargai adalah bagian dari usaha agar makanan-makanan ini tidak benar-benar musnah. Selamat berburu kuliner lawas di kota masing-masing.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya

Resep Pempek Palembang Asli yang Kenyal

11 Juni 2026 - 19:23 WIB

Rekomendasi Kuliner Street Food yang Murah dan Enak

11 Juni 2026 - 19:07 WIB

4 Kuliner Khas Malang Paling Hits Selain Bakso Malang

Rekomendasi Kuliner Khas Padang yang Terkenal Lezat

11 Juni 2026 - 18:55 WIB

Resep Soto Ayam Kuah Gurih yang Menghangatkan

10 Juni 2026 - 21:29 WIB

Soto Mie Bogor

Resep Ayam Bakar Bumbu Kecap yang Menggoda

10 Juni 2026 - 19:11 WIB

Resep Tumis Kangkung Pedas yang Praktis

8 Juni 2026 - 21:54 WIB

Manfaat Kangkung Bagi Kesehatan
Trending di Kuliner