Menu

Mode Gelap

Teknologi · 24 Jul 2026 18:34 WIB ·

Tips Menghindari Penipuan Link Phishing di WhatsApp


Img: infokomputer Perbesar

Img: infokomputer

Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba dapat pesan dari nomor tak dikenal atau bahkan dari teman sendiri yang ngirim link dengan ajakan menggiurkan? Misalnya, “Klaim gratis saldo Rp 500.000 di sini,” atau “Cek undangan pernikahanku, yuk!” lalu disusul tautan pendek yang nggak jelas asal-usulnya. Hati-hati, itu bisa jadi jebakan phishing yang lagi marak di WhatsApp.

Modusnya makin canggih. Pelaku nggak cuma menyamar sebagai bank atau e-commerce, tapi juga memakai nama kerabat dekat dengan menyadap akun korban sebelumnya. Begitu kamu klik link, kamu bisa diarahkan ke halaman palsu yang meniru tampilan resmi. Di situ, kamu diminta masukin data pribadi: nomor KTP, PIN ATM, sampai kode OTP. Sekali kamu kasih, dompet digital atau rekeningmu bisa dikuras dalam hitungan menit.

Lalu, gimana cara melindungi diri sendiri dan keluarga dari ancaman ini? Nggak perlu jadi ahli IT kok. Yang penting waspada dan tahu kebiasaan kecil yang bisa menyelamatkan data serta uangmu.

1. Jangan Klik Tautan yang “Terlalu Manis”

Ini aturan nomor satu. Setiap kali ada pesan berisi hadiah, undian berhadiah, atau bantuan sosial yang nggak pernah kamu daftarkan, anggap saja itu merah. Penipu mengandalkan rasa penasaran dan keinginan cepat kaya. Mereka tahu psikologi manusia: kalimat seperti “Waktu terbatas!” atau “Khusus untuk kamu!” bikin kita refleks klik sebelum mikir.

Biasakan jeda. Bacaan ulang pesannya. Perhatikan ejaan aneh, tata bahasa yang kaku, atau logo yang sedikit berbeda dari biasanya. Situs palsu sering punya kesalahan kecil, misalnya domain www.bni.co.id diubah jadi www.bni-login.xyz. Jika ada yang mencurigakan, lebih baik tanyakan langsung ke official customer service lewat aplikasi resmi, bukan lewat link yang dikirim.

2. Periksa Siapa Pengirimnya, Jangan Cuma Nama

Di WhatsApp, nama kontak bisa diubah sesuai keinginan. Pelaku sering mengganti nama mereka jadi “Dukcapil”, “Bank Central Asia”, atau “GoPay Official”. Tapi cek lebih dalam: lihat nomor teleponnya. Biasanya nomor penipu internasional atau pakai kode negara asing seperti +62 tapi dengan pola tak lazim, atau bahkan nomor +855 (Kamboja) yang sering dipakai sindikat.

Kalau pesan datang dari teman atau saudara, tapi bahasanya aneh dan tiba-tiba ngirim link tanpa basa-basi, itu tandanya akun temanmu mungkin sudah dibajak. Segera konfirmasi lewat panggilan suara atau telepon langsung, bukan lewat chat. Jangan malah balas di WhatsApp karena bisa jadi pelaku yang menjawab.

3. Aktifkan Verifikasi Dua Langkah (Two-Step Verification)

Fitur ini sering disepelekan, padahal ampuh. Di WhatsApp, kamu bisa aktifkan PIN 6 digit yang diminta setiap kali mau verifikasi nomor di perangkat baru. Caranya: buka Settings > Account > Two-step verification > Enable. Nanti kamu juga diminta masukkan alamat email cadangan untuk reset PIN jika lupa.

Dengan PIN ini, meski pelaku berhasil mencuri kode OTP SMS-mu, mereka tetap nggak bisa login ke akun WhatsApp-mu tanpa PIN. Ini lapisan pertahanan ekstra yang bikin mereka males lanjut.

4. Jangan Pernah Bagikan Kode OTP atau Kode QR

Ini penting banget. Tidak ada satupun bank, operator seluler, atau platform pembayaran yang akan meminta kode OTP lewat WhatsApp. Kalau ada yang minta, itu pasti tipu. OTP cuma boleh kamu ketik sendiri di aplikasi resmi saat transaksi yang kamu inisiasi.

Begitu juga dengan kode QR. Jangan sembarangan scan QR dari orang asing yang katanya buat “verifikasi akun” atau “top-up saldo”. Pelaku bisa pakai QR untuk mengalihkan notifikasi login ke perangkat mereka.

5. Manfaatkan Fitur “Report” dan “Block” Tanpa Ragu

Kalau kamu yakin pesan itu penipuan, langsung laporkan. Di WhatsApp, ada opsi Report yang akan mengirimkan pesan tersebut ke tim WhatsApp untuk ditinjau. Setelah itu, blokir nomornya. Jangan takut salah lapor. Lebih baik memblokir 10 nomor palsu daripada kehilangan tabungan karena satu klik ceroboh.

Selain itu, kamu juga bisa memberitahu kontak lain yang mungkin menjadi target berikutnya. Buat grup keluarga atau teman dekat, kasih tahu modus terbaru yang kamu temui. Ini bentuk perlindungan kolektif yang sangat efektif.

6. Waspada pada Link yang Dipendekkan (Shortlink)

Link seperti bit.ly, tinyurl, atau short.link sangat disukai penipu karena menyembunyikan alamat asli. Meski terkadang digunakan untuk hal sah, kamu tetap bisa mengecek tujuannya. Gunakan situs seperti checkshorturl.com atau expandurl.net untuk melihat ke mana link itu mengarah tanpa harus mengkliknya.

Cara lain: copy link-nya, tempel di notes, lalu lihat secara seksama. Apakah ada tambahan kata aneh setelah domain utama? Misalnya https://wa.me/6281234567890?text=... masih aman karena itu link resmi WhatsApp. Tapi kalau ada https://whatsapp-update.xyz/verify, itu sudah jelas palsu.

7. Perbarui Aplikasi Secara Rutin

Versi WhatsApp terbaru biasanya sudah menyertakan pembaruan keamanan untuk menutup celah yang dimanfaatkan penipu. Jangan malas klik “Update” di Play Store atau App Store. Ini langkah kecil tapi berpengaruh besar, terutama untuk perlindungan dari malware yang bisa menyusup lewat file APK bajakan.

8. Edukasi Orang Tua dan Anak di Rumah

Generasi tua dan anak-anak sering jadi sasaran empuk karena mereka belum terlalu paham modus digital. Luangkan waktu untuk duduk bareng, tunjukkan contoh pesan penipuan, dan ajarkan cara cek nomor. Katakan pada mereka: “Kalau ada link, jangan klik dulu. Tanya saya dulu.” Kebiasaan ini bisa mencegah kerugian besar.

Buat kesepakatan kecil di keluarga: setiap kali menerima link hadiah atau undangan, wajib di-screen capture dan dikirim ke grup keluarga untuk dicek bersama. Ini seru sekaligus mendidik.

9. Jangan Terpancing Emosi

Penipu suka pakai taktik urgensi dan ketakutan. Contoh: “Rekeningmu akan dibekukan dalam 1 jam. Klik link ini untuk verifikasi.” Atau “Ada transaksi mencurigakan atas namamu, segera konfirmasi.” Saat panik, kita jadi kehilangan logika. Tarik napas, tenang, dan ingat: institusi resmi nggak pernah mengancam lewat chat pribadi.

Kalau memang khawatir, buka sendiri aplikasi bank atau e-commerce-mu, jangan lewat link dari siapapun. Cek saldo dan riwayat transaksi secara mandiri. Itu jauh lebih aman.

10. Gunakan Antivirus dan Firewall di Ponsel

Meski WhatsApp sendiri cukup aman, kadang link phishing mengarah ke situs yang otomatis mengunduh file berbahaya. Pasang antivirus terpercaya seperti Kaspersky, Bitdefender, atau Avast yang punya fitur perlindungan saat browsing. Mereka akan memberi peringatan jika situs yang kamu buka masuk daftar hitam.

Jadikan Skeptisisme sebagai Kebiasaan

Di era digital, sikap nggak mudah percaya itu sehat. Bukan berarti kamu jadi paranoid, tapi cukup bertanya: “Apa ini masuk akal?” “Kenapa aku yang dipilih?” “Kenapa harus lewat WhatsApp, bukan aplikasi resmi?” Pertanyaan-pertanyaan kecil ini akan menyelamatkanmu dari banyak jebakan.

Cerita korban phishing selalu sama: awalnya ragu, tapi karena tergiur atau takut, akhirnya klik. Padahal, kalau mereka menahan diri 5 menit untuk cek fakta, semua bisa dihindari. Jadi, mulai sekarang, jadikan jari-jarimu lebih pintar dari kata-kata manis di layar.

Selamat berselancar di WhatsApp dengan lebih tenang. Dan ingat, menjaga data pribadi adalah tanggung jawab paling mendasar di dunia yang serba terhubung ini. Setiap kali ragu, lebih baik tanya, verifikasi, dan kalau perlu, abaikan saja. Karena nggak semua yang muncul di notifikasi layak mendapat perhatianmu.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Tools AI untuk Membantu Coding bagi Pemula

24 Juli 2026 - 20:02 WIB

langkah belajar coding

Cara Menggunakan AI di Excel untuk Membuat Formula

24 Juli 2026 - 19:57 WIB

Tools AI untuk Transkrip Audio Bahasa Indonesia

24 Juli 2026 - 17:44 WIB

Apa Itu Spatial Computing dan Contoh Penggunaannya

24 Juli 2026 - 15:34 WIB

Apa Itu Deepfake dan Cara Mengenali Video Palsu

23 Juli 2026 - 20:19 WIB

Cara Menggunakan Fitur Nearby Share antar Perangkat

23 Juli 2026 - 19:35 WIB

Trending di Teknologi