Menu

Mode Gelap

Materi · 13 Agu 2026 20:03 WIB ·

Latihan Soal Kimia Kelas 12 Materi Elektrokimia dan Pembahasan


Latihan Soal Kimia Kelas 12 Materi Elektrokimia dan Pembahasan Perbesar

Elektrokimia menjadi salah satu cabang kimia fisik yang paling sering bikin siswa kelas 12 berkeringat dingin saat ujian. Bukan tanpa alasan, materi ini memadukan konsep reaksi redoks, perhitungan matematis, hingga aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari seperti baterai dan proses pelapisan logam.

Buat kamu yang sedang bersiap menghadapi PAT, UTBK, atau sekadar pengen mendalami elektrokimia lebih jauh, kumpulan soal berikut ini bakal membantu mengasah pemahaman. Setiap soal di lengkapi pembahasan rinci agar kamu nggak cuma tahu jawabannya, tapi juga paham alur berpikirnya.

Penentuan Potensial Sel Standar

Di ketahui data potensial reduksi standar berikut:

Zn²⁺ + 2e⁻ → Zn     E° = -0,76 V
Cu²⁺ + 2e⁻ → Cu     E° = +0,34 V

Hitunglah potensial sel standar (E°sel) dari reaksi:

Zn + Cu²⁺ → Zn²⁺ + Cu

Pembahasan:

Langkah pertama yang harus di lakukan adalah menentukan mana yang bertindak sebagai anoda dan katoda. Dalam sel volta, logam dengan E° lebih negatif akan menjadi anoda (tempat terjadinya oksidasi), sementara logam dengan E° lebih positif menjadi katoda (tempat reduksi).

Di sini, Zn memiliki E° = -0,76 V (lebih negatif) sehingga ia teroksidasi. Cu dengan E° = +0,34 V mengalami reduksi.

Rumus potensial sel standar:

E°sel = E°katoda – E°anoda
E°sel = (+0,34) – (-0,76)
E°sel = +1,10 V

Nilai positif menunjukkan reaksi berlangsung spontan. Inilah prinsip kerja sel Volta yang sering di jumpai dalam baterai kering.

Deret Volta dan Reaksi Spontan

Perhatikan logam-logam berikut: Mg, Pb, Ag, dan Ni. Jika data potensial reduksi standarnya:

Mg²⁺ + 2e⁻ → Mg     E° = -2,37 V
Pb²⁺ + 2e⁻ → Pb     E° = -0,13 V
Ag⁺ + e⁻ → Ag     E° = +0,80 V
Ni²⁺ + 2e⁻ → Ni     E° = -0,25 V

Manakah pasangan logam yang akan menghasilkan reaksi spontan jika di susun dalam sel Volta?

Pembahasan:

Reaksi spontan terjadi ketika logam dengan E° lebih rendah (anoda) di pasangkan dengan logam yang E°-nya lebih tinggi (katoda). Semakin besar selisih potensialnya, semakin besar pula E°sel yang di hasilkan.

Mari kita coba beberapa pasangan:

  • Mg dengan Ag: E°sel = 0,80 – (-2,37) = 3,17 V (sangat spontan)

  • Pb dengan Ag: E°sel = 0,80 – (-0,13) = 0,93 V (spontan)

  • Ni dengan Ag: E°sel = 0,80 – (-0,25) = 1,05 V (spontan)

  • Mg dengan Pb: E°sel = -0,13 – (-2,37) = 2,24 V (spontan)

Semua pasangan di atas memberikan E°sel positif. Namun, pasangan Mg-Ag memberikan potensial sel terbesar. Dalam praktiknya, logam dengan E° sangat negatif seperti Mg akan bereaksi hebat dengan ion Ag⁺.

Yang perlu di ingat, deret Volta dari kiri ke kanan menunjukkan sifat reduktor yang semakin lemah. Logam di sebelah kiri (E° lebih negatif) dapat mereduksi ion logam di sebelah kanannya.

PSel Elektrolisis dan Hukum Faraday

Arus listrik sebesar 5 ampere di alirkan ke dalam larutan CuSO₄ selama 30 menit menggunakan elektroda inert. Berapa massa tembaga yang mengendap di katoda? (Ar Cu = 63,5; 1 Faraday = 96.500 C/mol)

Pembahasan:

Ini adalah soal elektrolisis yang penyelesaiannya menggunakan Hukum Faraday I.

Langkah pertama, tulis reaksi di katoda. Dalam larutan CuSO₄, ion Cu²⁺ akan tereduksi menjadi Cu:

Cu²⁺ + 2e⁻ → Cu

Jumlah muatan listrik yang di alirkan:

Q = I × t
Q = 5 A × (30 × 60 detik)
Q = 5 × 1800
Q = 9000 Coulomb

Jumlah mol elektron:

mol e⁻ = Q / F
mol e⁻ = 9000 / 96.500
mol e⁻ = 0,0933 mol

Dari stoikiometri reaksi, 1 mol Cu membutuhkan 2 mol elektron. Maka:

mol Cu = ½ × mol e⁻
mol Cu = ½ × 0,0933 = 0,04665 mol

Massa Cu yang mengendap:

massa = mol × Ar
massa = 0,04665 × 63,5
massa = 2,96 gram

Jadi, tembaga yang mengendap di katoda sekitar 2,96 gram.

Sel Konsentrasi

Sebuah sel konsentrasi tersusun dari dua elektroda Zn yang di celupkan ke dalam larutan ZnSO₄ dengan konsentrasi berbeda. Elektroda pertama di celupkan ke dalam larutan ZnSO₄ 0,01 M, sedangkan elektroda kedua dalam larutan ZnSO₄ 1 M. Berapa potensial sel yang di hasilkan pada suhu 25°C? (n = 2)

Pembahasan:

Sel konsentrasi memiliki elektroda yang sama tetapi konsentrasi ion berbeda. Prinsipnya, sel akan berusaha menyamakan konsentrasi melalui transfer elektron. Elektroda dalam larutan encer (0,01 M) akan bertindak sebagai anoda, sementara elektroda dalam larutan pekat (1 M) menjadi katoda.

Rumus Nernst untuk sel konsentrasi:

Esel = (0,0592/n) × log (Cpekat/Cencer)
Esel = (0,0592/2) × log (1/0,01)
Esel = 0,0296 × log 100
Esel = 0,0296 × 2
Esel = 0,0592 V

Potensial sel yang di hasilkan hanya 0,0592 volt. Kecil memang, karena perbedaan konsentrasi hanya dua orde magnitudo. Sel konsentrasi biasanya menghasilkan tegangan rendah dan cepat habis begitu konsentrasi mulai setimbang.

Aplikasi Elektroplating

Sebuah benda logam akan di lapisi kromium menggunakan larutan CrCl₃ dengan arus 10 ampere selama 2 jam. Berapa gram kromium yang menempel pada benda tersebut? (Ar Cr = 52; 1 Faraday = 96.500 C/mol)

Pembahasan:

Elektroplating atau penyepuhan logam adalah aplikasi elektrolisis yang sering di temui dalam industri otomotif dan perhiasan. Pada proses ini, benda yang akan di lapisi di jadikan katoda.

Reaksi reduksi ion Cr³⁺ menjadi Cr:

Cr³⁺ + 3e⁻ → Cr

Muatan listrik:

Q = I × t
Q = 10 × (2 × 3600)
Q = 10 × 7200
Q = 72.000 Coulomb

mol elektron = Q/F = 72.000/96.500 = 0,746 mol

Dari reaksi, 1 mol Cr membutuhkan 3 mol elektron, maka:

mol Cr = ⅓ × mol e⁻ = ⅓ × 0,746 = 0,249 mol

Massa Cr = mol × Ar = 0,249 × 52 = 12,95 gram

Jadi, kromium yang melapisi benda sekitar 12,95 gram. Dalam praktik, efisiensi arus seringkali kurang dari 100% karena adanya reaksi samping seperti pelepasan gas hidrogen di katoda.

Reaksi Disproporsionasi

Perhatikan reaksi berikut:

2Cu⁺ → Cu²⁺ + Cu

Apakah reaksi ini berlangsung spontan? Di ketahui:

Cu²⁺ + e⁻ → Cu⁺     E° = +0,15 V
Cu⁺ + e⁻ → Cu     E° = +0,52 V

Pembahasan:

Reaksi disproporsionasi adalah reaksi di mana suatu spesi mengalami oksidasi dan reduksi sekaligus. Untuk menentukan spontanitas, kita harus memecah reaksi menjadi setengah-reaksi oksidasi dan reduksi.

Oksidasi: Cu⁺ → Cu²⁺ + e⁻     (E°oks = -E°red = -0,15 V)
Reduksi: Cu⁺ + e⁻ → Cu     (E°red = +0,52 V)

E°sel = E°red + E°oks (karena ini reaksi redoks gabungan)
E°sel = 0,52 + (-0,15) = 0,37 V

Karena E°sel positif, reaksi berlangsung spontan. Ion Cu⁺ memang tidak stabil dalam larutan dan cenderung membentuk Cu²⁺ serta endapan Cu. Inilah sebabnya garam tembaga(I) jarang di temukan dalam bentuk murni di laboratorium.

Pengaruh pH terhadap Potensial Sel

Reaksi reduksi ion permanganat dalam suasana asam:

MnO₄⁻ + 8H⁺ + 5e⁻ → Mn²⁺ + 4H₂O     E° = +1,51 V

Jika pH larutan di naikkan dari 0 menjadi 4 (pada suhu 25°C), bagaimana perubahan potensial reduksinya? Asumsikan konsentrasi MnO₄⁻ dan Mn²⁺ tetap 1 M.

Pembahasan:

Soal ini menguji pemahaman tentang pengaruh konsentrasi ion H⁺ terhadap potensial elektroda menggunakan persamaan Nernst.

Persamaan Nernst untuk reaksi ini:

E = E° – (0,0592/n) × log ([Mn²⁺]/[MnO₄⁻][H⁺]⁸)

Karena [Mn²⁺] = [MnO₄⁻] = 1 M, maka:

E = 1,51 – (0,0592/5) × log (1/[H⁺]⁸)
E = 1,51 – 0,01184 × log (1/[H⁺]⁸)
E = 1,51 – 0,01184 × (-8 log [H⁺])
E = 1,51 – 0,01184 × 8pH
E = 1,51 – 0,09472 × pH

Pada pH = 0: E = 1,51 V (sesuai kondisi standar)
Pada pH = 4: E = 1,51 – 0,09472 × 4 = 1,51 – 0,379 = 1,131 V

Terlihat bahwa potensial reduksi menurun seiring kenaikan pH. Ini menjelaskan mengapa ion permanganat adalah oksidator kuat dalam suasana asam, tetapi kekuatannya berkurang drastis dalam suasana basa.

Stoikiometri Elektrolisis Berurutan

Larutan AgNO₃ dan CuSO₄ dielektrolisis secara seri dengan arus yang sama selama 1 jam. Jika di katoda pertama (Ag) mengendap 10,8 gram perak, berapa massa tembaga yang mengendap di katoda kedua? (Ar Ag = 108, Ar Cu = 63,5)

Pembahasan:

Elektrolisis seri berarti arus yang mengalir melalui kedua sel sama besar, sehingga jumlah muatan yang di lewatkan identik.

Untuk Ag: Ag⁺ + e⁻ → Ag
mol Ag = massa/Ar = 10,8/108 = 0,1 mol
mol elektron yang di gunakan = mol Ag × 1 = 0,1 mol (karena 1 Ag membutuhkan 1 e⁻)

Untuk Cu: Cu²⁺ + 2e⁻ → Cu
mol elektron yang tersedia sama, yaitu 0,1 mol
mol Cu = ½ × mol elektron = ½ × 0,1 = 0,05 mol
massa Cu = 0,05 × 63,5 = 3,175 gram

Jadi, massa tembaga yang mengendap adalah 3,175 gram. Prinsip ini sering dipakai dalam industri untuk menghitung hasil pelapisan logam secara bersamaan.

Menentukan Waktu yang Diperlukan

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengendapkan 5 gram kalsium dari lelehan CaCl₂ menggunakan arus 15 ampere? (Ar Ca = 40)

Pembahasan:

Elektrolisis lelehan CaCl₂ menghasilkan kalsium di katoda dan gas klorin di anoda. Reaksi di katoda:

Ca²⁺ + 2e⁻ → Ca

mol Ca = massa/Ar = 5/40 = 0,125 mol
mol elektron = 2 × mol Ca = 2 × 0,125 = 0,25 mol

Muatan yang diperlukan:
Q = mol elektron × F = 0,25 × 96.500 = 24.125 C

Waktu:
t = Q/I = 24.125/15 = 1.608 detik
t ≈ 26,8 menit

Jadi, di perlukan sekitar 26,8 menit untuk mengendapkan 5 gram kalsium. Proses ini menggambarkan bagaimana logam alkali tanah diperoleh melalui elektrolisis lelehan garamnya, karena jika menggunakan larutan air, air akan tereduksi lebih dulu.

Membandingkan Kekuatan Oksidator

Urutkan kekuatan oksidator dari yang terkuat hingga terlemah berdasarkan data berikut:

F₂ + 2e⁻ → 2F⁻     E° = +2,87 V
Cl₂ + 2e⁻ → 2Cl⁻     E° = +1,36 V
Br₂ + 2e⁻ → 2Br⁻     E° = +1,07 V
I₂ + 2e⁻ → 2I⁻     E° = +0,54 V

Pembahasan:

Kekuatan oksidator berbanding lurus dengan nilai potensial reduksi standar. Semakin positif E°, semakin mudah spesi tersebut menerima elektron, yang berarti semakin kuat sifat oksidatornya.

Berdasarkan data di atas, urutan kekuatan oksidator dari yang terkuat ke terlemah adalah:

F₂ > Cl₂ > Br₂ > I₂

Fluorin adalah oksidator terkuat di antara halogen, bahkan mampu mengoksidasi air. Inilah sebabnya fluorin tidak bisa diperoleh melalui elektrolisis larutan air, melainkan harus dari lelehan garamnya.

Di sisi lain, I₂ adalah oksidator paling lemah di antara keempatnya. Bahkan ion iodida (I⁻) justru bertindak sebagai reduktor yang cukup kuat. Urutan ini juga menjelaskan reaksi halogen yang lebih reaktif dapat menggantikan halogen yang kurang reaktif dari garamnya.

Menentukan Anoda dan Katoda pada Sel Bahan Bakar

Sel bahan bakar hidrogen-oksigen menggunakan reaksi:

2H₂ + O₂ → 2H₂O

Pada elektroda mana gas hidrogen dioksidasi dan gas oksigen direduksi? Tuliskan reaksi masing-masing elektroda jika menggunakan elektrolit KOH (basa).

Pembahasan:

Sel bahan bakar adalah salah satu aplikasi elektrokimia yang ramah lingkungan karena produk sampingnya hanya air. Dalam sel ini, energi kimia dari reaksi hidrogen dan oksigen diubah langsung menjadi energi listrik.

Pada anoda (elektroda negatif), gas hidrogen mengalami oksidasi:

Anoda: 2H₂ + 4OH⁻ → 4H₂O + 4e⁻

Pada katoda (elektroda positif), gas oksigen mengalami reduksi:

Katoda: O₂ + 2H₂O + 4e⁻ → 4OH⁻

Jika kedua reaksi dijumlahkan:

2H₂ + O₂ → 2H₂O

Gas hidrogen bertindak sebagai bahan bakar (reduktor), sementara oksigen dari udara menjadi oksidator. Elektrolit KOH berfungsi menghantarkan ion OH⁻ antara kedua elektroda.

Keunggulan sel bahan bakar adalah efisiensinya yang tinggi dan tidak menghasilkan polusi. Teknologi ini sudah diterapkan dalam kendaraan listrik berbasis fuel cell dan misi luar angkasa.

Korosi dan Perlindungan Katodik

Sebuah pipa besi (Fe) akan dilindungi dari korosi dengan metode perlindungan katodik menggunakan logam magnesium. Diketahui:

Fe²⁺ + 2e⁻ → Fe     E° = -0,44 V
Mg²⁺ + 2e⁻ → Mg     E° = -2,37 V

Jelaskan mengapa magnesium efektif melindungi besi dari korosi!

Pembahasan:

Korosi besi terjadi karena besi teroksidasi menjadi ion Fe²⁺ dalam lingkungan lembap:

Fe → Fe²⁺ + 2e⁻

Perlindungan katodik bekerja dengan cara mengorbankan logam yang lebih reaktif (anoda korban) untuk melindungi logam utama. Magnesium memiliki E° yang jauh lebih negatif daripada besi, sehingga Mg akan lebih mudah teroksidasi.

Dalam pasangan Mg-Fe, magnesium bertindak sebagai anoda:

Mg → Mg²⁺ + 2e⁻

Sementara besi menjadi katoda dan terlindungi. Reaksi yang terjadi di katoda (dalam lingkungan netral/basa) adalah reduksi oksigen:

O₂ + 2H₂O + 4e⁻ → 4OH⁻

Ion Mg²⁺ yang terbentuk akan larut, sedangkan besi tetap utuh. Seiring waktu, batang magnesium akan terkikis dan harus diganti secara berkala. Metode ini banyak digunakan pada pipa bawah tanah, tangki penyimpanan, dan badan kapal.

Perhitungan Arus pada Elektrolisis Campuran

Larutan yang mengandung ion Au³⁺ dan Ag⁺ dielektrolisis dengan arus konstan. Setelah 20 menit, di katoda ditemukan endapan logam dengan massa total 3,52 gram yang terdiri dari emas dan perak. Jika massa perak yang mengendap 2,16 gram, berapa besar arus yang dialirkan? (Ar Au = 197, Ag = 108)

Pembahasan:

Soal ini sedikit lebih kompleks karena melibatkan dua ion logam yang bersaing untuk direduksi di katoda. Namun, kita bisa menyelesaikannya dengan menghitung mol elektron total yang diperlukan.

Massa Ag = 2,16 gram → mol Ag = 2,16/108 = 0,02 mol
Massa Au = 3,52 – 2,16 = 1,36 gram → mol Au = 1,36/197 = 0,0069 mol

Reaksi reduksi:
Ag⁺ + e⁻ → Ag     (1 mol Ag membutuhkan 1 mol e⁻)
Au³⁺ + 3e⁻ → Au     (1 mol Au membutuhkan 3 mol e⁻)

mol elektron total = (1 × 0,02) + (3 × 0,0069) = 0,02 + 0,0207 = 0,0407 mol

Muatan total Q = 0,0407 × 96.500 = 3.927,55 C

Waktu t = 20 × 60 = 1.200 detik

Arus I = Q/t = 3.927,55/1.200 = 3,27 ampere

Jadi, arus yang dialirkan sekitar 3,27 A. Dalam praktik, pemisahan logam dengan elektrolisis sering memanfaatkan perbedaan potensial reduksi agar logam dengan E° lebih positif mengendap lebih dulu.

Galvani dengan Jembatan Garam

Suatu sel Volta tersusun dari elektroda Zn dalam larutan Zn(NO₃)₂ dan elektroda Cu dalam larutan CuSO₄, dihubungkan dengan jembatan garam berisi KCl. Jika diketahui E° Zn²⁺/Zn = -0,76 V dan E° Cu²⁺/Cu = +0,34 V, tentukan:

a. Reaksi sel total
b. Arah aliran elektron
c. Fungsi jembatan garam

Pembahasan:

Ini adalah sel Volta klasik yang biasa disebut sel Daniell.

a. Reaksi sel total

Anoda (oksidasi): Zn → Zn²⁺ + 2e⁻
Katoda (reduksi): Cu²⁺ + 2e⁻ → Cu
Reaksi total: Zn + Cu²⁺ → Zn²⁺ + Cu

b. Arah aliran elektron

Elektron mengalir dari anoda (Zn) ke katoda (Cu) melalui rangkaian luar. Jadi, elektron bergerak dari elektroda Zn menuju elektroda Cu.

c. Fungsi jembatan garam

Jembatan garam memiliki peran vital dalam sel Volta. Saat reaksi berlangsung, ion Zn²⁺ terbentuk di larutan anoda sehingga larutan menjadi kelebihan muatan positif. Sementara di katoda, ion Cu²⁺ berkurang karena diendapkan menjadi Cu, menyebabkan larutan kelebihan muatan negatif (dari ion SO₄²⁻).

Jembatan garam KCl menyediakan ion K⁺ yang bergerak ke katoda untuk menetralkan kelebihan muatan negatif, dan ion Cl⁻ yang bergerak ke anoda untuk menetralkan kelebihan muatan positif. Tanpa jembatan garam, sel akan cepat mati karena terjadi penumpukan muatan yang menghambat aliran elektron.

Menentukan Massa Ekivalen dari Data Elektrolisis

Dalam elektrolisis lelehan suatu garam logam LCl₂ dengan arus 2,5 ampere selama 30 menit, dihasilkan 1,14 gram logam L. Tentukan massa atom relatif logam L!

Pembahasan:

Data yang kita miliki: I = 2,5 A, t = 30 menit = 1.800 s, massa L = 1,14 gram.

Rumus Hukum Faraday I: m = (e × I × t) / 96.500, di mana e adalah massa ekivalen (Ar/n).

Atau bisa ditulis: massa = (Ar × I × t) / (n × 96.500)

Untuk LCl₂, ion logamnya adalah L²⁺, sehingga n = 2.

1,14 = (Ar × 2,5 × 1.800) / (2 × 96.500)
1,14 = (Ar × 4.500) / 193.000
Ar × 4.500 = 1,14 × 193.000 = 220.020
Ar = 220.020 / 4.500 = 48,89 ≈ 49

Massa atom relatif logam L sekitar 49, yang mendekati massa atom Ti (titanium = 48). Namun perlu diingat, ini hanya pendekatan karena dalam praktik efisiensi arus bisa mempengaruhi hasil.

Potensial Sel pada Kondisi Non-Standar

Hitung potensial sel untuk reaksi:

Mg + Pb²⁺ → Mg²⁺ + Pb

Jika konsentrasi Mg²⁺ = 0,01 M dan Pb²⁺ = 2 M pada suhu 25°C. (E° Mg²⁺/Mg = -2,37 V; E° Pb²⁺/Pb = -0,13 V)

Pembahasan:

Pertama, hitung E°sel standar:

E°sel = E°katoda – E°anoda = (-0,13) – (-2,37) = 2,24 V

Reaksi sel: Mg + Pb²⁺ → Mg²⁺ + Pb
Jumlah elektron yang terlibat (n) = 2

Persamaan Nernst untuk reaksi di atas:

E = E°sel – (0,0592/n) × log ([Mg²⁺]/[Pb²⁺])

E = 2,24 – (0,0592/2) × log (0,01/2)
E = 2,24 – 0,0296 × log (0,005)
E = 2,24 – 0,0296 × (-2,301)
E = 2,24 + 0,0681
E = 2,308 V

Potensial sel menjadi lebih besar dari keadaan standar. Ini terjadi karena konsentrasi reaktan (Pb²⁺) lebih tinggi daripada konsentrasi produk (Mg²⁺), sehingga reaksi cenderung bergeser ke kanan sesuai asas Le Chatelier.

Elektrolisis Larutan Na₂SO₄

Tuliskan reaksi yang terjadi di katoda dan anoda pada elektrolisis larutan Na₂SO₄ dengan elektroda grafit!

Pembahasan:

Elektrolisis larutan garam yang mengandung ion logam aktif (seperti Na, K, Ca) dengan elektroda inert tidak akan menghasilkan logamnya di katoda, melainkan air yang tereduksi.

Larutan Na₂SO₄ terurai menjadi ion Na⁺ dan SO₄²⁻. Air juga terionisasi sebagian menjadi H⁺ dan OH⁻.

Di katoda (potensial reduksi lebih mudah):
Air memiliki E° lebih positif daripada Na⁺. Jadi air yang tereduksi:

2H₂O + 2e⁻ → H₂ + 2OH⁻

Di anoda (potensial oksidasi lebih mudah):
Ion SO₄²⁻ sulit dioksidasi karena merupakan oksidator lemah. Air yang teroksidasi menghasilkan gas oksigen:

2H₂O → O₂ + 4H⁺ + 4e⁻

Reaksi total elektrolisis larutan Na₂SO₄ sebenarnya adalah elektrolisis air:

2H₂O → 2H₂ + O₂

Elektrolisis air ini efektif karena Na₂SO₄ berfungsi sebagai elektrolit untuk meningkatkan konduktivitas larutan tanpa ikut bereaksi.

Hubungan Potensial Sel dengan Energi Bebas Gibbs

Untuk reaksi sel dengan E°sel = 1,10 V dan n = 2, hitunglah ΔG° reaksi tersebut!

Pembahasan:

Hubungan antara potensial sel standar dan energi bebas Gibbs standar dinyatakan dengan rumus:

ΔG° = -n × F × E°sel

dimana:
n = jumlah mol elektron yang terlibat
F = konstanta Faraday (96.500 C/mol)
E°sel = potensial sel standar

ΔG° = -2 × 96.500 × 1,10
ΔG° = -212.300 J/mol
ΔG° = -212,3 kJ/mol

Nilai ΔG° yang negatif menegaskan bahwa reaksi berlangsung spontan. Semakin positif E°sel, semakin negatif ΔG°-nya. Ini adalah prinsip dasar yang menghubungkan termodinamika dengan elektrokimia: reaksi yang spontan memiliki potensial sel positif dan energi bebas Gibbs negatif.

Pengaruh Temperatur pada Potensial Sel

Bagaimana pengaruh kenaikan temperatur terhadap potensial sel? Berikan penjelasan berdasarkan persamaan Nernst dan termodinamika.

Pembahasan:

Pengaruh temperatur terhadap potensial sel tidak selalu sederhana. Ada dua faktor yang perlu diperhatikan.

Dari persamaan Nernst:

E = E° – (RT/nF) × ln Q

Secara matematis, jika Q < 1 (kondisi reaktan lebih dominan), kenaikan T akan membuat suku (RT/nF) ln Q menjadi lebih negatif, sehingga E meningkat. Sebaliknya, jika Q > 1, kenaikan T justru menurunkan E.

Namun, E° sendiri juga bergantung pada temperatur karena:

ΔG° = -nFE°
dan ΔG° = ΔH° – TΔS°

Sehingga E° = -(ΔH° – TΔS°)/nF = (TΔS° – ΔH°)/nF

Jika ΔS° reaksi positif, maka E° akan naik seiring kenaikan temperatur. Jika ΔS° negatif, E° akan turun.

Secara umum, untuk sel Volta, kenaikan temperatur seringkali menurunkan tegangan karena peningkatan gerakan acak partikel mengurangi efisiensi transfer elektron. Namun, pada sel bahan bakar tertentu, temperatur tinggi justru meningkatkan kinetika reaksi sehingga performa sel lebih baik.

Analisis Diagram Sel

Suatu sel elektrokimia memiliki notasi sel:

Al | Al³⁺ || Zn²⁺ | Zn

Jika diketahui E° Al³⁺/Al = -1,66 V dan E° Zn²⁺/Zn = -0,76 V, tentukan:

a. Reaksi sel
b. Apakah reaksi spontan?
c. Jika tidak spontan, bagaimana agar reaksi dapat berlangsung?

Pembahasan:

a. Reaksi sel

Notasi sel menunjukkan anoda di kiri dan katoda di kanan. Al adalah anoda, Zn adalah katoda.

Anoda (oksidasi): Al → Al³⁺ + 3e⁻
Katoda (reduksi): Zn²⁺ + 2e⁻ → Zn

Untuk menyetarakan elektron, reaksi anoda dikalikan 2 dan reaksi katoda dikalikan 3:

2Al → 2Al³⁺ + 6e⁻
3Zn²⁺ + 6e⁻ → 3Zn

Reaksi total: 2Al + 3Zn²⁺ → 2Al³⁺ + 3Zn

b. Apakah spontan?

E°sel = E°katoda – E°anoda = (-0,76) – (-1,66) = 0,90 V

E°sel positif, sehingga reaksi spontan. Namun tunggu dulu! Jika kita lihat notasi sel, seharusnya Al (E° lebih negatif) sebagai anoda dan Zn sebagai katoda. Ini memang menghasilkan E°sel positif 0,90 V. Jadi reaksi berlangsung spontan.

c. Tidak perlu membuat reaksi spontan karena sudah spontan. Akan tetapi, jika seandainya E°sel negatif, kita bisa membuat reaksi spontan dengan membalik arah reaksi (menukar posisi anoda dan katoda) atau memberikan sumber tegangan dari luar pada sel elektrolisis.

Soal Bonus, Hubungan Kuantitatif Elektrolisis

Dalam proses pemurnian tembaga, arus 20 ampere dialirkan selama 24 jam. Berapa massa tembaga murni yang diendapkan di katoda jika efisiensi arus 92%? (Ar Cu = 63,5)

Pembahasan:

Pemurnian tembaga secara elektrolisis melibatkan anoda dari tembaga kotor dan katoda dari tembaga murni. Ion Cu²⁺ dari anoda akan berpindah dan mengendap di katoda.

Ini adalah soal Hukum Faraday dengan tambahan faktor efisiensi.

Q teoritis = I × t = 20 × (24 × 3600) = 20 × 86.400 = 1.728.000 C

mol elektron teoritis = Q/F = 1.728.000/96.500 = 17,907 mol

Karena efisiensi 92%, mol elektron efektif = 0,92 × 17,907 = 16,474 mol

Reaksi di katoda: Cu²⁺ + 2e⁻ → Cu
mol Cu = ½ × mol elektron = ½ × 16,474 = 8,237 mol

massa Cu = 8,237 × 63,5 = 523,05 gram

Jadi, tembaga murni yang dihasilkan sekitar 523 gram. Pemurnian tembaga secara elektrolisis mampu menghasilkan tembaga dengan kemurnian hingga 99,99%, yang sangat dibutuhkan dalam industri kabel listrik dan perangkat elektronik.

 

Kumpulan soal di atas mencakup berbagai aspek penting dalam elektrokimia, mulai dari perhitungan dasar potensial sel, aplikasi Hukum Faraday, sel konsentrasi, hingga fenomena korosi dan pemurnian logam. Pola pikir yang perlu dibangun adalah memahami bahwa elektrokimia menghubungkan konsep redoks dengan besaran listrik yang terukur. Setiap reaksi yang melibatkan perpindahan elektron dapat dihitung potensialnya, massanya, maupun energinya secara kuantitatif.

Latihan rutin dengan variasi soal seperti ini akan membangun intuisi kimia yang kuat. Jangan ragu untuk mengulang pembahasan yang terasa berat, karena dalam elektrokimia, pemahaman konsep jauh lebih penting daripada sekadar menghafal rumus. Selamat belajar dan semoga sukses menghadapi ujian!

Komentar
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Catatan Belajar Kelas 11 tentang Kolonialisme di Indonesia

13 Agustus 2026 - 20:33 WIB

Panduan Belajar Matematika Kelas 9 Materi Kesebangunan dan Kekongruenan

13 Agustus 2026 - 16:39 WIB

Soal Analisis Bahasa Indonesia Kelas 12 Materi Novel Sejarah

12 Agustus 2026 - 22:51 WIB

Catatan Belajar Kelas 9 tentang Pidato Persuasif

12 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Pembahasan Lengkap Materi Puisi untuk Kelas 8

12 Agustus 2026 - 06:52 WIB

LKPD Interaktif Matematika Kelas 11 Semester 2 Materi Matriks

11 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Trending di Materi