Pagi itu di kelas enam, Bu Ratna membuka pelajaran dengan pertanyaan sederhana. “Siapa yang pernah makan rendang?” Hampir semua tangan angkat. “Siapa yang pernah makan papeda?” Tangan turun, tinggal dua tiga anak yang mengaku pernah. “Siapa yang pernah makan kerak telor?” Suasana kelas langsung riuh. Ada yang mengangkat tangan, ada yang mengernyitkan dahi, ada pula yang bertanya apa itu kerak telor. Dari makanan saja, kelas itu sudah menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar: Indonesia.
Anak-anak kelas enam berada di usia yang menarik. Mereka sudah bisa berpikir lebih jauh, tapi masih polos dalam melihat perbedaan. Di fase inilah materi tentang persatuan dalam keberagaman menjadi sangat relevan. Bukan sekadar hafalan semboyan, tetapi bagaimana mereka memahami bahwa perbedaan yang ada di sekitar mereka—di kelas, di rumah, di lingkungan tempat tinggal—adalah kenyataan yang perlu dirawat, bukan ditakuti.
Bhinneka Tunggal Ika, Bukan Sekadar Tulisan di Dinding
Semboyan yang tertulis di pita yang dicengkeram burung Garuda itu sering kali hanya menjadi hiasan kelas. Padahal, maknanya dalam. Frasa Bhinneka Tunggal Ika diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, seorang pujangga dari masa Majapahit . Artinya, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sebuah kalimat yang sudah berumur ratusan tahun, jauh sebelum Indonesia berdiri, tapi relevansinya tidak pernah pudar.
Menariknya, semboyan ini tidak lahir dari meja rapat atau pidato politik. Ia lahir dari sebuah karya sastra yang berbicara tentang toleransi antara dua ajaran besar pada masanya . Mpu Tantular menulisnya dalam konteks yang jauh dari kata “modern”, tapi pesannya justru melampaui zamannya. Anak kelas enam bisa diajak melihat bahwa gagasan tentang persatuan dalam perbedaan bukan hal baru. Nenek moyang kita sudah memikirkannya jauh sebelum kita lahir.
Di kelas, guru bisa memulai dengan hal-hal kecil. Misalnya, meminta siswa menuliskan asal daerah orang tua mereka. Hasilnya pasti beragam. Ada yang berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau bahkan dari luar negeri. Dari situ, percakapan bisa mengalir: mengapa kita berbeda, mengapa kita tetap satu, dan apa yang membuat perbedaan itu justru terasa indah.
Perbedaan Itu Nyata, dan Itu Wajar
Indonesia memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau. Di dalamnya tinggal ratusan suku bangsa dengan bahasa, adat, dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang tinggal di pegunungan, ada yang di pesisir. Ada yang makan nasi, ada yang makan sagu. Ada yang merayakan tahun baru dengan kembang api, ada yang dengan tradisi yang sama sekali berbeda. Semua itu bukan rekayasa, melainkan kenyataan geografis dan historis yang membentuk bangsa ini.
Di tingkat kelas, perbedaan itu sering kali lebih sederhana. Ada teman yang berangkat sekolah dengan sepeda, ada yang jalan kaki, ada yang diantar orang tua. Ada yang membawa bekal nasi goreng, ada yang membawa roti, ada yang jajan di kantin. Ada yang berbicara dengan logat yang terdengar “lain” karena orang tuanya berasal dari daerah lain. Anak-anak biasanya tidak mempermasalahkan hal-hal seperti ini. Mereka bermain bersama, belajar bersama, bertengkar sebentar, lalu baikan lagi.
Justru orang dewasa yang kadang membuat segalanya rumit. Anak-anak perlu diajak menyadari bahwa perbedaan yang mereka alami sehari-hari adalah bagian dari keberagaman yang lebih besar. Mereka tidak perlu menghafal daftar suku bangsa di Indonesia, tetapi mereka perlu merasakan bahwa perbedaan itu bukan ancaman.
Ketika Perbedaan Menjadi Tantangan
Tentu saja, tidak semua perbedaan berjalan mulus. Dalam masyarakat yang beragam, gesekan bisa terjadi. Ada kalanya seseorang merasa kelompoknya lebih baik dari yang lain. Ada kalanya lelucon tentang suku tertentu dianggap lucu oleh sebagian orang, tapi menyakitkan bagi yang lain. Di media sosial, komentar-komentar yang merendahkan budaya atau agama tertentu masih mudah ditemukan.
Untuk anak kelas enam, tantangan seperti ini bisa muncul dalam bentuk yang lebih sederhana. Misalnya, mengejek teman karena logat bicaranya berbeda. Atau mengucilkan teman yang agamanya berbeda saat jam istirahat. Atau menganggap makanan daerah tertentu “aneh” hanya karena tidak biasa dimakan di rumah. Hal-hal kecil seperti ini, jika dibiarkan, bisa menumbuhkan benih-benih intoleransi yang lebih besar di kemudian hari.
Karena itu, materi tentang persatuan dalam keberagaman bukan hanya soal mengetahui bahwa Indonesia itu beragam. Lebih dari itu, siswa perlu dilatih untuk mengenali sikap-sikap yang bisa merusak persatuan, sekaligus membiasakan diri dengan sikap yang merawatnya. Guru punya peran penting di sini. Bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan contoh dan kebiasaan sehari-hari.
Persatuan yang Dibangun dari Kebiasaan Kecil
Persatuan tidak dibangun dalam satu pidato atau satu upacara. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Di sekolah, kebiasaan itu bisa dimulai dari hal-hal yang tampak sepele.
Misalnya, saat kerja kelompok. Guru bisa sengaja mencampur siswa dari latar belakang yang berbeda dalam satu kelompok. Awalnya mungkin canggung, tapi lama-lama mereka belajar bahwa bekerja sama dengan orang yang berbeda ternyata bisa berhasil. Atau saat jam istirahat, guru bisa mengajak siswa untuk mencoba bekal teman yang makanannya berbeda. Tidak perlu memaksa, cukup menawarkan. Rasa ingin tahu anak-anak biasanya lebih besar daripada rasa curiga.
Di lingkungan rumah, persatuan bisa dirawat dengan cara yang sederhana. Ikut kerja bakti membersihkan lingkungan tanpa memandang siapa tetangga kita. Menghormati tetangga yang sedang beribadah. Tidak mengganggu orang lain yang merayakan hari besar keagamaannya. Menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan orang dari daerah lain, meskipun kita punya bahasa daerah sendiri. Hal-hal ini mungkin terdengar biasa, tapi justru di situlah persatuan dipraktikkan.
Yang menarik, semboyan Bhinneka Tunggal Ika juga relevan di dunia digital. Anak kelas enam sudah banyak yang punya ponsel dan aktif di media sosial. Mereka perlu diajak berpikir: apakah komentar yang mereka tulis bisa melukai orang lain? Apakah lelucon yang mereka bagikan tentang suku tertentu pantas? Persatuan hari ini tidak hanya dijaga di dunia nyata, tetapi juga di ruang-ruang maya tempat anak-anak menghabiskan waktu.
Belajar dari Sejarah yang Tidak Selalu Indah
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membahas persatuan: bahwa Indonesia pernah mengalami masa-masa sulit akibat perpecahan. Konflik antarsuku pernah terjadi di beberapa daerah. Kerusuhan bernuansa agama pernah meninggalkan luka. Politik pecah belah pernah dipraktikkan oleh penjajah untuk memecah kekuatan rakyat. Sejarah ini tidak perlu ditakuti, tetapi perlu diketahui.
Untuk anak kelas enam, sejarah bisa disampaikan dengan cara yang tidak menakutkan. Misalnya, dengan bercerita tentang bagaimana para pemuda dari berbagai daerah berkumpul pada tahun 1928 dan bersumpah untuk bersatu. Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran bahwa perbedaan daerah tidak boleh menghalangi cita-cita bersama. Para pemuda itu berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi mereka melihat bahwa masa depan Indonesia hanya bisa diraih jika semua bersatu.
Guru juga bisa mengajak siswa merenungkan: apa yang akan terjadi jika kita terus-terusan bertengkar karena perbedaan? Apa yang akan terjadi jika kita hanya mau berteman dengan orang yang sama seperti kita? Jawabannya tidak perlu rumit. Anak-anak biasanya sudah tahu bahwa perpecahan membuat segalanya lebih sulit, sedangkan persatuan membuat pekerjaan berat menjadi ringan.
Praktik Nyata di Kelas Enam
Materi tentang persatuan dalam keberagaman tidak harus selalu disampaikan lewat buku dan ceramah. Ada banyak cara untuk membuatnya hidup di kelas. Salah satunya dengan proyek sederhana: membuat “peta keberagaman kelas”. Setiap siswa menuliskan asal daerah orang tuanya, makanan khasnya, atau tarian tradisional yang dikenal. Hasilnya ditempel di papan tulis atau dinding kelas. Dari situ, kelas bisa melihat bahwa keberagaman bukan konsep abstrak, melainkan sesuatu yang ada di antara mereka.
Cara lain adalah dengan bermain peran. Guru menyiapkan beberapa situasi yang mungkin terjadi: seorang teman sedang beribadah saat jam istirahat, seorang teman membawa makanan yang tidak biasa, seorang teman berbicara dengan logat yang berbeda. Siswa diminta memerankan bagaimana seharusnya bersikap dalam situasi-situasi tersebut. Permainan peran seperti ini membantu anak-anak mempraktikkan toleransi, bukan hanya membicarakannya.
Membaca cerita juga bisa menjadi jembatan. Ada banyak cerita anak yang mengangkat tema keberagaman, misalnya tentang persahabatan antara anak dari dua daerah yang berbeda, atau tentang seorang anak yang belajar menghargai budaya temannya. Setelah membaca, guru bisa mengajak siswa berdiskusi: apa yang bisa dipelajari dari cerita itu, dan bagaimana hal itu bisa diterapkan di kehidupan mereka sendiri.
Yang paling penting, guru perlu menjadi contoh. Anak-anak kelas enam sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Jika guru berbicara tentang toleransi tetapi sendiri pilih kasih terhadap siswa tertentu, pesannya tidak akan sampai. Sebaliknya, jika guru memperlakukan semua siswa dengan adil, menghargai perbedaan pendapat, dan menunjukkan rasa ingin tahu terhadap budaya lain, anak-anak akan meniru tanpa perlu banyak diinstruksikan.
Menjadi Bagian dari Sesuatu yang Lebih Besar
Pada akhirnya, materi tentang persatuan dalam keberagaman bukan hanya tentang mengetahui bahwa Indonesia memiliki banyak suku dan budaya. Ia tentang menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Anak kelas enam yang belajar menghargai teman yang berbeda suku, yang tidak mengejek logat temannya, yang mau berbagi bekal dengan siapa pun, sedang melakukan sesuatu yang berarti bagi masa depan bangsa ini.
Tidak ada yang instant dalam membangun persatuan. Ia dibangun perlahan, dari satu interaksi ke interaksi berikutnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak kelas enam hari ini akan menjadi dewasa di masa yang penuh tantangan. Teknologi akan terus berubah, cara mereka berkomunikasi akan terus berkembang, tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah kesadaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan.
Mungkin, setelah pelajaran tentang persatuan dalam keberagaman selesai, Bu Ratna bisa menutup dengan pertanyaan lain. “Siapa yang mau mencoba papeda kalau ada?” Kali ini, tangan yang angkat lebih banyak. Anak-anak mungkin belum benar-benar memahami seluruh makna Bhinneka Tunggal Ika. Tapi setidaknya, mereka mulai penasaran dengan hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mereka. Dan rasa penasaran itu, jika dirawat dengan baik, bisa tumbuh menjadi sikap yang lebih terbuka terhadap dunia yang luas.









