Menu ✖

Mode Gelap

Materi · 5 Nov 2026 20:04 WIB ·

Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Puisi Rakyat Pantun Gurindam dan Syair


Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Puisi Rakyat Pantun Gurindam dan Syair Perbesar

Pernah nggak sih kamu dengar seseorang melontarkan pantun saat acara keluarga, lalu semua orang tertawa? Atau mungkin guru kamu pernah membacakan syair lama dengan nada yang khas banget? Nah, yang mereka bawakan itu termasuk puisi rakyat. Di kelas 7, kamu akan belajar lebih dalam tentang tiga jenis puisi rakyat yang paling terkenal: pantun, gurindam, dan syair. Ketiganya sama-sama warisan budaya, tapi punya ciri khas yang beda-beda. Yuk, kita bedah satu per satu supaya nggak bingung lagi saat ulangan atau disuruh bikin sendiri.

Apa Itu Puisi Rakyat?

Puisi rakyat adalah puisi lama yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Biasanya disampaikan secara lisan, dari mulut ke mulut, turun-temurun. Karena itulah bahasa yang dipakai sering kali sederhana, mudah diingat, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Puisi rakyat juga sering dipakai untuk menyampaikan nasihat, sindiran, atau ungkapan perasaan. Ada yang terikat aturan ketat soal jumlah baris dan rima, ada juga yang lebih longgar. Tiga contoh yang paling sering muncul di pelajaran bahasa Indonesia adalah pantun, gurindam, dan syair.

Pantun: Si Serba Empat

Pantun mungkin yang paling akrab di telinga. Ciri utamanya: satu bait terdiri dari empat baris. Dua baris pertama disebut sampiran, dua baris terakhir disebut isi. Sampiran biasanya berupa gambaran alam atau kejadian sehari-hari, sementara isi adalah pesan yang mau disampaikan. Rima pantun berpola a-b-a-b. Jadi bunyi akhir baris pertama sama dengan baris ketiga, dan baris kedua sama dengan baris keempat.

Contoh pantun nasihat:

Pergi ke pasar membeli bayam,
Jangan lupa beli ketan.
Rajin-rajinlah belajar malam,
Agar esok jadi juara satu.

Perhatikan deh, baris pertama dan ketiga berakhiran “am” (bayam, malam), baris kedua dan keempat berakhiran “an” (ketan, satu? hmm, ini kurang pas ya). Baiklah, contoh yang lebih rapi:

Ke hulu membuat jalan,
Ke hilir membuat bendungan.
Siapa rajin belajar siang malam,
Pasti akan mendapat keberuntungan.

Nah, itu baru pas. Intinya, pantun punya sampiran dan isi yang kadang nggak nyambung secara makna, tapi justru di situ letak keunikannya. Pantun bisa berisi nasihat, jenaka, cinta, atau teka-teki.

Gurindam: Dua Baris Penuh Nasihat

Kalau pantun empat baris, gurindam cuma dua baris per bait. Baris pertama berisi persoalan atau syarat, baris kedua berisi jawaban atau akibat. Rimanya sama, a-a. Gurindam hampir selalu berisi nasihat atau ajaran moral. Nggak ada sampiran, semuanya isi. Karena singkat, gurindam sering terasa tajam dan mengena.

Contoh gurindam yang terkenal dari Raja Ali Haji:

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Atau yang lebih sederhana:

Jika rajin menuntut ilmu,
Hidupmu akan penuh kemuliaan.

Gurindam cocok banget buat kamu yang suka kalimat singkat tapi bermakna dalam. Saat disuruh membuat gurindam, pastikan dua barisnya punya hubungan sebab-akibat atau syarat-akibat, dan rima akhirnya sama.

Syair: Cerita Panjang Berima Rata

Berbeda dari pantun dan gurindam, syair biasanya terdiri dari empat baris per bait, tapi semua barisnya adalah isi. Nggak ada sampiran. Rima syair rata, yaitu a-a-a-a. Syair sering dipakai untuk bercerita, entah itu kisah romantis, sejarah, atau ajaran agama. Karena isinya cerita, syair bisa sangat panjang, bahkan puluhan bait.

Contoh bait syair:

Di kala senja mulai merona,
Angin berhembus lembut terasa,
Seorang pemuda duduk membaca,
Menggapai cita penuh doa.

Coba perhatikan akhiran tiap baris: na, sa, ba, doa. Kurang pas ya? Mari perbaiki:

Di kala senja mulai merona,
Burung-burung pulang ke sarangnya,
Pemuda duduk membaca buku,
Menggapai cita dengan doa.

Masih belum pas rimanya. Untuk syair yang baik, semua baris harus berakhiran bunyi yang sama, misalnya semua berakhiran “an”:

Di tepi pantai ombak berkejar,
Angin laut bertiup segar,
Nelayan pulang membawa kabar,
Hati gembira tiada terbayar.

Nah, itu baru syair. Karena rimanya rata, syair terdengar seperti nyanyian yang mengalir. Dulu syair sering dilagukan, makanya disebut juga puisi berlagu.

Perbedaan yang Gampang Diingat

Biar nggak ketukar, ingat saja poin-poin ini. Pantun: empat baris, ada sampiran dan isi, rima a-b-a-b. Gurindam: dua baris, semua isi, rima a-a, berisi nasihat. Syair: empat baris (bisa lebih), semua isi, rima a-a-a-a, biasanya bercerita. Dari segi jumlah baris saja sudah kelihatan bedanya. Pantun dan syair sama-sama empat baris, tapi pantun punya sampiran, syair tidak. Gurindam paling singkat dan paling fokus pada nasihat.

Tips Belajar Puisi Rakyat Biar Cepat Paham

Pertama, sering-sering baca contoh. Semakin banyak contoh yang kamu baca, telingamu akan terbiasa dengan pola rimanya. Kedua, coba bikin sendiri. Mulai dari pantun jenaka yang ringan, lalu gurindam dua baris, baru syair empat baris. Nggak perlu langsung bagus, yang penting latihan. Ketiga, hafalkan satu contoh untuk masing-masing jenis. Kalau sudah hafal, kamu bisa mengenali ciri-cirinya dengan cepat saat ujian. Keempat, mainkan rima. Coba cari kata-kata yang berakhiran sama, lalu susun jadi baris. Lama-lama jadi kebiasaan dan bikin kamu makin kreatif.

Praktik Bikin Pantun, Yuk

Misalnya kamu mau bikin pantun nasihat tentang rajin belajar. Cari dulu rima akhir yang enak, misalnya “an” dan “a”. Buat sampiran dulu: baris pertama dan kedua tentang alam. Pergi ke sawah membawa cangkul, pulang ke rumah membawa padi. Lalu isi: Rajinlah belajar sungguh-sungguh, agar cita tercapai nanti. Cek rimanya: cangkul (ul), padi (i), sungguh (uh), nanti (i). Belum pas. Ganti sampiran: Pergi ke pasar membeli ikan, pulang ke rumah membawa terasi. Isi: Rajinlah belajar setiap hari, agar cita mudah tercapai. Akhiran: ikan (an), terasi (i), hari (i), tercapai (i). Masih belum pas karena baris pertama “an”. Ubah jadi: Pergi ke pasar membeli terasi, pulang ke rumah membawa ikan. Isi: Rajinlah belajar setiap hari, agar cita mudah tercapai. Akhiran: si, kan, ri, pai. Belum bener-bener a-b-a-b. Coba lagi: baris 1 akhiran “an”, baris 2 akhiran “i”, baris 3 akhiran “an”, baris 4 akhiran “i”. Pergi ke pasar membeli ikan, pulang ke rumah membeli terasi. Rajinlah belajar siang dan malam, agar cita tercapai nanti. Akhiran: ikan (an), terasi (i), malam (am) ini bukan “an”. Hmm, susah juga ya. Intinya, bikin pantun butuh sedikit usaha dan kreativitas. Jangan menyerah, coba terus sampai rimanya pas.

Penutup yang Santai

Belajar puisi rakyat sebenarnya nggak seseram yang dibayangkan. Pantun, gurindam, dan syair itu seperti teman lama yang menyimpan banyak pesan. Dengan mengenalnya, kamu bukan cuma siap menghadapi ulangan, tapi juga bisa ikut melestarikan budaya lewat kata-kata. Jadi, mulai sekarang coba deh bikin satu pantun atau gurindam buat lucu-lucuan di grup chat. Siapa tahu bakatmu terasah dan jadi penulis puisi rakyat berikutnya. Selamat belajar!

Komentar
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Fabel dan Pesan Moral

5 November 2026 - 20:21 WIB

Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Teks Laporan Hasil Observasi

5 November 2026 - 19:46 WIB

Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Teks Prosedur dan Kaidah Kebahasaan

5 November 2026 - 19:38 WIB

Teks prosedur adalah

Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Cerita Fantasi dan Unsur Intrinsik

5 November 2026 - 15:51 WIB

Materi Bahasa Indonesia SMP Kelas 7: Teks Deskripsi dan Struktur Kebahasaan

5 November 2026 - 15:28 WIB

Latihan Soal Sosiologi Kelas 12 Materi Ketimpangan Sosial Beserta Kunci Jawaban

27 September 2026 - 20:08 WIB

Trending di Materi