Menu ✖

Mode Gelap

Saham & Investasi · 5 Okt 2026 06:58 WIB ·

Cara Beli Saham: Panduan Dasar untuk Investor Pemula di Indonesia


Cara Beli Saham: Panduan Dasar untuk Investor Pemula di Indonesia Perbesar

Banyak orang mengira membeli saham itu rumit. Bayangan yang muncul biasanya soal grafik naik-turun yang bikin pusing, istilah asing seperti bullish dan bearish, atau cerita orang bangkrut karena saham. Padahal, kalau dipelajari dari dasar, membeli saham sebenarnya sama sederhananya dengan membuka rekening bank. Yang membedakan cuma jenis instrumennya dan tingkat risiko yang perlu dipahami.

Tulisan berikut membahas langkah demi langkah cara membeli saham di Indonesia, mulai dari nol sampai transaksi pertama berhasil. Cocok untuk kamu yang baru ingin mulai, belum punya akun sekuritas, dan masih bingung harus mulai dari mana.

Pahami dulu apa yang sebenarnya kamu beli

Saham adalah bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Saat kamu membeli satu lot saham PT ABC, kamu resmi menjadi salah satu pemiliknya, meski porsinya kecil. Kamu berhak atas bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan dalam bentuk dividen, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) meski sering kali diwakilkan.

Harga saham bergerak karena hukum permintaan dan penawaran. Kalau banyak orang ingin membeli, harga naik. Kalau banyak yang menjual, harga turun. Faktor yang memengaruhinya bisa macam-macam: kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, sampai sentimen berita di media sosial.

Satu hal yang sering disalahpahami pemula: membeli saham bukan berarti menabung dengan hasil pasti. Nilainya bisa naik, bisa juga turun, bahkan hilang sebagian besar kalau perusahaan bangkrut. Karena itu, uang yang dipakai sebaiknya dana dingin, bukan uang makan atau dana darurat.

Syarat utama sebelum mulai

Untuk membeli saham di Indonesia, kamu perlu:

  1. KTP yang masih berlaku.

  2. NPWP (untuk beberapa sekuritas, meski kini banyak yang memperbolehkan tanpa NPWP dengan catatan tertentu).

  3. Rekening bank atas nama sendiri.

  4. Rekening dana investor (RDI) yang nanti dibuka lewat sekuritas.

  5. Nomor HP dan email aktif untuk verifikasi.

Usia minimal umumnya 17 tahun, dan sudah punya KTP. Kalau masih di bawah umur, bisa menggunakan rekening atas nama orang tua atau wali dengan syarat tertentu.

Memilih sekuritas: ini langkah yang sering diremehkan

Sekuritas adalah perantara antara kamu dan Bursa Efek Indonesia. Kamu tidak bisa membeli saham langsung dari bursa. Semua transaksi harus lewat anggota bursa yang resmi terdaftar di OJK.

Ada dua jenis sekuritas yang perlu kamu tahu:

  • Sekuritas full service: kamu punya relationship manager yang membantu, tapi biaya transaksinya lebih tinggi.

  • Sekuritas online: semuanya dilakukan sendiri lewat aplikasi, biaya lebih murah, cocok untuk pemula yang ingin belajar mandiri.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat memilih:

  • Legalitas: pastikan terdaftar di OJK. Cek di situs resmi OJK kalau ragu.

  • Biaya transaksi: umumnya berkisar 0,15% untuk beli dan 0,25% untuk jual (sudah termasuk fee bursa dan kustodian). Angka ini bisa berbeda tiap sekuritas.

  • Kemudahan aplikasi: coba lihat tampilan aplikasinya. Kalau membingungkan, cari yang lebih sederhana.

  • Minimum deposit: ada yang Rp100.000, ada yang Rp10.000. Sesuaikan dengan kemampuan.

  • Layanan nasabah: cek apakah responsif saat kamu butuh bantuan.

Beberapa nama yang cukup dikenal di Indonesia antara lain Stockbit Sekuritas, Mirae Asset, Bibit, Ajaib, IPOT, dan BNI Sekuritas. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang paling sempurna, yang penting cocok dengan kebutuhanmu.

Cara membuka rekening saham

Prosesnya sekarang jauh lebih mudah dibanding sepuluh tahun lalu. Dulu harus datang ke kantor cabang, tanda tangan berkas, dan menunggu berhari-hari. Sekarang semuanya bisa dilakukan dari ponsel.

Langkah umumnya:

  1. Unduh aplikasi sekuritas pilihanmu.

  2. Daftar dengan email dan nomor HP aktif.

  3. Unggah foto KTP dan selfie sesuai instruksi.

  4. Isi data pribadi, pekerjaan, dan sumber penghasilan.

  5. Isi kuesioner profil risiko. Jawab dengan jujur, karena ini menentukan jenis produk yang cocok untukmu.

  6. Tunggu verifikasi. Biasanya satu sampai tiga hari kerja.

  7. Setelah disetujui, kamu akan dapat nomor rekening dana investor (RDI). Nomor ini yang dipakai untuk transfer dana.

Beberapa sekuritas juga bekerja sama dengan bank untuk pembukaan RDI otomatis. Jadi kamu tidak perlu datang ke bank lagi.

Setor dana ke rekening dana investor

RDI adalah rekening khusus yang terpisah dari rekening bank pribadimu. Fungsinya untuk menampung dana yang akan dipakai bertransaksi saham. Dana di RDI tetap milikmu dan tidak bisa dipakai sekuritas untuk keperluan lain. Ini diatur oleh OJK.

Cara menyetor:

  • Transfer dari rekening bank atas namamu ke nomor RDI.

  • Beberapa aplikasi punya fitur virtual account yang memudahkan.

  • Dana biasanya masuk dalam hitungan menit sampai beberapa jam, tergantung bank.

Perlu dicatat: kamu hanya bisa menarik dana ke rekening bank yang terdaftar. Jadi pastikan rekening yang kamu daftarkan memang milikmu sendiri.

Cara membeli saham pertama

Ini bagian yang paling ditunggu. Setelah dana masuk, kamu siap bertransaksi.

1. Buka aplikasi dan cari menu beli

Di hampir semua aplikasi, ada menu “Beli” atau “Trade”. Kamu akan diminta memasukkan kode saham, misalnya BBCA untuk Bank Central Asia, TLKM untuk Telkom, atau ASII untuk Astra International.

2. Masukkan kode saham

Kalau lupa kodenya, biasanya ada fitur pencarian berdasarkan nama perusahaan. Ketik “Telkom”, nanti muncul TLKM.

3. Tentukan harga dan jumlah

Di sini kamu akan melihat dua kolom: harga dan lot. Satu lot sama dengan 100 lembar saham. Jadi kalau kamu membeli 1 lot di harga Rp4.000, totalnya Rp400.000, belum termasuk biaya.

Ada beberapa pilihan harga:

  • Harga pasar (market price): langsung dieksekusi di harga terbaik yang tersedia saat itu. Cocok kalau kamu ingin cepat.

  • Harga limit: kamu menentukan harga sendiri. Transaksi hanya terjadi kalau ada yang mau jual di harga itu atau lebih rendah. Cocok kalau kamu ingin harga tertentu.

Untuk pemula, harga limit biasanya lebih aman karena kamu tahu pasti berapa yang akan dibayar.

4. Konfirmasi pesanan

Setelah mengisi harga dan jumlah, kamu akan melihat ringkasan transaksi. Periksa lagi: kode saham, harga, jumlah lot, dan total biaya. Kalau sudah yakin, tekan tombol beli.

5. Tunggu eksekusi

Kalau harga pasar, biasanya langsung tereksekusi dalam hitungan detik. Kalau harga limit, bisa langsung, bisa juga menunggu sampai ada yang cocok. Pesanan yang belum tereksekusi bisa dibatalkan sebelum akhir hari bursa.

6. Cek portofolio

Setelah tereksekusi, saham akan muncul di portofoliomu. Di situ kamu bisa memantau harga terkini, keuntungan atau kerugian sementara, dan riwayat transaksi.

Waktu perdagangan saham

Bursa Efek Indonesia buka Senin sampai Jumat, kecuali hari libur nasional. Jamnya:

  • Sesi 1: 09.00 – 12.00 WIB

  • Sesi 2: 13.30 – 15.49.59 WIB (untuk hari tertentu bisa berbeda)

  • Pre-opening: 08.45 – 08.59.59 WIB

  • Pre-closing: 15.50 – 15.59.59 WIB

  • Post-trading: 16.00 – 16.15 WIB

Di luar jam itu, kamu masih bisa memasukkan pesanan, tapi baru akan dieksekusi saat bursa buka.

Biaya yang perlu dihitung

Setiap transaksi saham dikenai biaya. Rinciannya kira-kira:

  • Fee beli: sekitar 0,15% dari nilai transaksi.

  • Fee jual: sekitar 0,25% dari nilai transaksi.

  • Pajak penjualan: 0,1% dari nilai transaksi (untuk saham biasa).

  • Biaya kustodian: biasanya sudah termasuk dalam fee.

Contoh: kamu beli 1 lot saham di harga Rp4.000. Nilai transaksi Rp400.000. Fee beli 0,15% = Rp600. Total yang kamu bayar Rp400.600. Saat menjual di harga Rp4.500, nilai transaksi Rp450.000. Fee jual 0,25% = Rp1.125, pajak 0,1% = Rp450. Total yang kamu terima Rp448.425.

Biaya ini terlihat kecil, tapi kalau sering transaksi, akumulasinya bisa menggerus keuntungan. Jadi jangan terlalu sering beli-jual tanpa alasan jelas.

Kesalahan umum pemula

Banyak orang masuk pasar saham dengan semangat tinggi, lalu kecewa karena tidak langsung untung. Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Membeli karena ikut-ikutan. Lihat teman untung, langsung beli saham yang sama tanpa paham bisnisnya.

  • Tidak punya rencana. Beli tanpa tahu kapan akan jual, baik saat untung maupun rugi.

  • Panik saat harga turun. Turun sedikit langsung jual, padahal fluktuasi harian itu normal.

  • Terlalu sering transaksi. Biaya menumpuk, belum lagi risiko salah ambil keputusan.

  • Pakai uang yang seharusnya ditabung. Ini yang paling berbahaya. Saham bukan tempat menyimpan dana darurat.

  • Tidak diversifikasi. Semua dana di satu saham. Kalau saham itu turun, seluruh portofolio ikut terpuruk.

Cara belajar sambil jalan

Tidak ada yang langsung mahir. Investor berpengalaman pun pernah salah. Yang membedakan adalah mereka belajar dari kesalahan.

Beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Baca laporan keuangan perusahaan. Mulai dari yang sederhana: laba, utang, dan arus kas.

  • Ikuti berita ekonomi. Suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah memengaruhi pasar.

  • Pelajari analisis dasar dan teknikal. Tidak perlu langsung mendalam, cukup pahami konsepnya.

  • Gunakan akun demo. Beberapa sekuritas menyediakan fitur simulasi tanpa uang nyata.

  • Ikut komunitas yang sehat. Diskusi bisa membuka wawasan, tapi jangan asal ikut rekomendasi.

  • Catat setiap transaksi. Tulis alasan beli, alasan jual, dan hasilnya. Ini membantu mengevaluasi diri.

Strategi sederhana untuk pemula

Tidak perlu strategi rumit. Beberapa pendekatan yang cocok untuk yang baru mulai:

Investasi rutin (dollar cost averaging)
Beli saham dalam jumlah tetap secara rutin, misalnya setiap bulan. Dengan cara ini, kamu membeli lebih banyak saat harga murah dan lebih sedikit saat harga mahal. Rata-rata harga beli jadi lebih stabil.

Fokus pada saham blue chip
Saham perusahaan besar dan mapan cenderung lebih stabil dibanding saham kecil. Cocok untuk pemula yang ingin risiko lebih terkendali.

Tentukan target dan batas rugi
Sebelum beli, tentukan berapa keuntungan yang ingin diambil dan berapa kerugian yang bisa ditoleransi. Ini membantu menghindari keputusan emosional.

Jangan taruh semua telur di satu keranjang
Sebar dana ke beberapa saham dari sektor berbeda. Kalau satu sektor sedang lesu, sektor lain bisa menopang.

Soal dividen

Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan ke pemegang saham. Tidak semua perusahaan membagikan dividen. Perusahaan yang sedang tumbuh biasanya memilih menahan laba untuk ekspansi.

Kalau kamu ingin mendapatkan dividen, cari perusahaan yang rutin membagikannya. Biasanya dari sektor perbankan, konsumer, atau infrastruktur. Jadwal pembagian dividen umumnya setelah RUPS tahunan, sekitar Maret sampai Juni.

Dividen yang diterima akan dikenai pajak 10% untuk investor individu. Kecuali kalau diinvestasikan kembali dalam jangka waktu tertentu, sesuai aturan yang berlaku.

Soal risiko yang perlu diterima

Saham adalah instrumen dengan risiko lebih tinggi dibanding deposito atau obligasi. Risikonya antara lain:

  • Risiko pasar: harga turun karena kondisi ekonomi atau sentimen global.

  • Risiko perusahaan: kinerja perusahaan memburuk, bisa sampai delisting dari bursa.

  • Risiko likuiditas: saham sulit dijual karena sepi peminat.

  • Risiko sistematis: krisis ekonomi atau pandemi yang memengaruhi seluruh pasar.

Tidak ada cara menghilangkan risiko sepenuhnya. Yang bisa dilakukan adalah mengelolanya: diversifikasi, pahami apa yang dibeli, dan hanya gunakan dana yang siap menghadapi fluktuasi.

Kapan sebaiknya mulai?

Jawabannya: saat kamu sudah punya dana dingin, sudah paham dasar-dasarnya, dan siap menerima risiko. Tidak perlu menunggu pasar sedang bagus, karena tidak ada yang bisa memprediksi dengan tepat kapan pasar akan naik atau turun.

Yang penting adalah mulai dari kecil. Beli satu lot saham blue chip, rasakan pengalamannya, pelajari pergerakannya. Dari situ kamu akan belajar lebih banyak dibanding membaca teori saja.

Penutup yang tidak menggurui

Membeli saham pertama memang terasa mendebarkan. Ada rasa takut salah, takut rugi, takut menyesal. Itu wajar. Hampir semua investor pernah merasakannya.

Yang perlu diingat: saham bukan jalan cepat kaya. Ini adalah cara menumbuhkan uang dalam jangka panjang, dengan risiko yang harus diterima. Kalau kamu disiplin, sabar, dan terus belajar, hasilnya biasanya mengikuti.

Mulailah dari yang kecil. Jangan terburu-buru. Dan yang paling penting, pastikan setiap keputusan dibuat dengan kepala dingin, bukan karena ikut-ikutan atau panic buying. Selamat mencoba, dan semoga langkah pertamamu membawa hasil yang baik.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Cara Mempelajari cara beli saham Sebelum Mengambil Keputusan Investasi

5 Oktober 2026 - 07:04 WIB

Cara Mempelajari Saham untuk Pemula Sebelum Mengambil Keputusan Investasi

5 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Mengenal Pasar Modal

Saham untuk Pemula: Panduan Dasar untuk Investor Pemula di Indonesia

5 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Tips Mengelola Keuangan
Trending di Saham & Investasi