Menu ✖

Mode Gelap

Keuangan Pribadi & Pajak · 7 Okt 2026 06:30 WIB ·

Kesalahan Umum seputar QRIS untuk Usaha dan Cara Menghindarinya


Kesalahan Umum seputar QRIS untuk Usaha dan Cara Menghindarinya Perbesar

QRIS sudah jadi bagian sehari-hari banyak pelaku usaha di Indonesia. Warung kopi, toko kelontong, sampai bisnis online kecil-kecilan hampir semuanya menerima pembayaran lewat scan kode ini. Praktis memang. Pembeli tinggal buka aplikasi, scan, bayar, selesai. Tapi di balik kepraktisan itu, banyak pemilik usaha yang tanpa sadar melakukan kesalahan yang bisa bikin rugi, entah itu uangnya tidak masuk, pelanggan kabur, atau malah kena masalah hukum.

Sayangnya, kesalahan-kesalahan ini sering dianggap sepele. Baru terasa dampaknya ketika sudah terjadi. Nah, biar tidak kena getahnya, yuk kita bahas apa saja kekeliruan yang sering terjadi seputar QRIS dan bagaimana cara menghindarinya.

1. Menganggap Semua QRIS Sama

Banyak yang berpikir QRIS itu cuma satu jenis. Padahal ada dua model yang beredar di lapangan, yaitu QRIS statis dan QRIS dinamis. QRIS statis adalah kode yang menempel permanen di meja kasir atau ditempel di dinding. Nominalnya diisi manual oleh pembeli. Sementara QRIS dinamis dibuat khusus untuk satu transaksi tertentu, biasanya nominalnya sudah tertera dan berlaku terbatas.

Kesalahan umum terjadi ketika pemilik usaha memakai QRIS statis untuk transaksi bernilai besar tanpa pengawasan. Pembeli bisa saja salah memasukkan nominal, entah kurang atau lebih. Kalau kurang, pemilik usaha yang rugi. Kalau lebih, bisa jadi ribut dan bikin pelanggan tidak nyaman.

Cara menghindarinya: Untuk transaksi di atas nilai tertentu, sebaiknya gunakan QRIS dinamis. Kalau tetap pakai QRIS statis, pastikan ada konfirmasi nominal sebelum pembeli menekan tombol bayar. Cukup bilang, “Totalnya Rp75.000 ya, Mas,” sambil menunjukkan layar. Sederhana tapi menyelamatkan.

2. Tidak Mengecek Status Pembayaran

Ini klasik. Notifikasi berbunyi, layar ponsel menyala, dan kita langsung menganggap pembayaran berhasil. Padahal notifikasi bisa saja dari aplikasi lain, atau malah dari screenshot palsu yang dikirim pembeli. Ada juga kasus di mana pembeli menunjukkan bukti transfer palsu hasil edit.

Kesalahan ini sering dialami usaha kecil yang sibuk dan tidak sempat memverifikasi. Akibatnya, barang sudah diserahkan, tapi uang tidak pernah masuk.

Cara menghindarinya: Biasakan membuka aplikasi merchant atau dashboard QRIS untuk memastikan dana benar-benar masuk. Jangan hanya percaya pada tangkapan layar. Kalau perlu, aktifkan notifikasi suara khusus dari aplikasi pembayaran. Suara “pembayaran berhasil” dari aplikasi resmi jauh lebih bisa dipercaya daripada sekadar gambar.

3. Menggunakan Kode QR Milik Orang Lain

Ini yang paling berbahaya. Ada pelaku usaha yang karena alasan praktis, memakai QRIS milik saudara, teman, atau bahkan pemilik warung sebelah. Alasannya macam-macam: belum punya rekening sendiri, malas urus pendaftaran, atau ingin menghindari pajak.

Masalahnya, uang masuk ke rekening orang lain. Kalau hubungan baik, mungkin aman. Tapi kalau ada konflik, bisa ribet. Belum lagi kalau kode itu tiba-tiba diblokir atau pemiliknya meninggal. Selain itu, ini juga melanggar ketentuan penyelenggara QRIS karena identitas merchant tidak sesuai dengan pemilik usaha sebenarnya.

Cara menghindarinya: Daftarkan QRIS atas nama usaha sendiri. Prosesnya sekarang jauh lebih mudah, bisa lewat bank, fintech, atau aplikasi pembayaran. Cukup siapkan KTP, NPWP (kalau ada), dan foto tempat usaha. Tidak sampai setengah jam biasanya sudah beres.

4. Tidak Menyimpan Bukti Transaksi

Banyak pemilik usaha merasa tidak perlu menyimpan bukti pembayaran karena “semua sudah otomatis tercatat”. Padahal tidak selalu begitu. Ada kalanya sistem gagal mencatat, atau terjadi sengketa dengan pembeli yang mengklaim sudah bayar padahal tidak.

Tanpa bukti, posisi pemilik usaha lemah. Apalagi kalau transaksinya tunai dan QRIS bercampur dalam satu hari.

Cara menghindarinya: Simpan riwayat transaksi di aplikasi merchant. Kalau perlu, catat manual di buku atau spreadsheet sederhana. Untuk transaksi besar, minta pembeli menunjukkan bukti pembayaran dan cocokkan dengan notifikasi yang masuk. Jangan malas, karena repotnya belakangan jauh lebih melelahkan.

5. Mengabaikan Biaya MDR

QRIS memang sering digembar-gemborkan gratis. Tapi kenyataannya, ada biaya Merchant Discount Rate (MDR) yang dibebankan kepada pemilik usaha. Untuk usaha mikro, biasanya 0,3 persen per transaksi. Untuk usaha kecil dan menengah, bisa 0,7 persen. Angka ini terlihat kecil, tapi kalau omzetnya jutaan per hari, akumulasinya lumayan juga.

Kesalahan yang sering terjadi adalah tidak memasukkan biaya ini ke dalam perhitungan harga jual. Akibatnya, margin keuntungan menipis tanpa disadari.

Cara menghindarinya: Hitung biaya MDR sejak awal saat menentukan harga. Kalau perlu, naikkan sedikit harga untuk menutupi biaya tersebut. Tidak perlu berlebihan, cukup satu atau dua persen. Yang penting, keuntungan tetap terjaga.

6. Tidak Melaporkan Perubahan Data Usaha

Usaha berkembang, pindah lokasi, ganti nama, atau ganti rekening. Tapi data di QRIS masih yang lama. Ini sering terjadi pada usaha yang sudah jalan bertahun-tahun. Akibatnya, pelanggan bingung, atau dana masuk ke rekening yang sudah tidak aktif.

Cara menghindarinya: Segera laporkan perubahan data ke penyelenggara QRIS. Biasanya bisa lewat aplikasi atau menghubungi customer service. Jangan tunda, karena semakin lama semakin ribet prosesnya.

7. Membiarkan Kode QR Rusak atau Tidak Terbaca

Kode QR yang lusuh, tergores, atau terkena air bisa sulit dipindai. Pembeli jadi kesulitan, antrean menumpuk, dan akhirnya mereka memilih bayar tunai atau pergi ke tempat lain. Hal sepele yang dampaknya besar.

Cara menghindarinya: Cetak ulang kode QR secara berkala. Letakkan di tempat yang aman dari air dan gesekan. Kalau perlu, laminating atau masukkan ke dalam akrilik. Sediakan juga cadangan kode QR di ponsel atau tablet, supaya kalau yang di meja rusak, masih ada opsi lain.

8. Tidak Memahami Prosedur Refund

Pembeli kadang minta uangnya kembali karena salah beli atau barang tidak sesuai. Kalau pemilik usaha tidak paham prosedur refund QRIS, bisa jadi masalah. Ada yang mengembalikan uang tunai padahal pembayaran lewat QRIS, sehingga catatan keuangan jadi berantakan.

Cara menghindarinya: Pelajari prosedur refund dari penyelenggara QRIS yang digunakan. Biasanya ada mekanisme resmi yang harus diikuti. Kalau nominalnya kecil dan memungkinkan, kembalikan tunai sambil tetap mencatatnya sebagai pengeluaran. Yang penting, semua tercatat rapi.

9. Menganggap QRIS Bebas dari Risiko Keamanan

QRIS memang relatif aman karena diawasi Bank Indonesia. Tapi bukan berarti bebas dari risiko. Ada saja oknum yang mencoba menempelkan kode QR palsu di atas kode asli, atau mengirim tautan palsu yang mengarah ke halaman pembayaran tiruan.

Cara menghindarinya: Periksa kode QR secara rutin. Pastikan tidak ada tempelan asing di atasnya. Untuk pembayaran online, hanya gunakan tautan resmi dari aplikasi merchant. Jangan pernah mengklik tautan QRIS yang dikirim lewat chat pribadi tanpa verifikasi.

10. Tidak Melatih Karyawan

Ini sering terlewat. Pemilik usaha sudah paham seluk-beluk QRIS, tapi karyawan yang jaga shift malam tidak. Akibatnya, ketika ada masalah, mereka bingung dan salah ambil keputusan. Misalnya, menerima pembayaran tanpa cek notifikasi, atau tidak tahu harus menghubungi siapa ketika kode QR error.

Cara menghindarinya: Buat panduan singkat untuk karyawan. Jelaskan langkah-langkah menerima pembayaran QRIS, apa yang harus dilakukan kalau notifikasi tidak masuk, dan siapa yang harus dihubungi kalau ada kendala. Latih secara berkala, jangan hanya sekali.

Menjaga QRIS Tetap Menguntungkan

QRIS itu alat, bukan tujuan. Dia membantu usaha berjalan lebih lancar, tapi hanya kalau digunakan dengan benar. Kesalahan-kesalahan di atas sebenarnya bisa dihindari dengan sedikit ketelitian dan kebiasaan yang baik. Tidak perlu sistem yang rumit. Cukup disiplin mengecek, mencatat, dan melatih diri sendiri serta tim.

Pada akhirnya, usaha yang sukses bukan yang paling canggih alat pembayarannya, tapi yang paling teliti dalam menjalankannya. QRIS hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang sebuah bisnis. Jaga dia dengan baik, maka dia akan menjaga arus kas Anda tetap sehat.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

NPWP dan NIK: Panduan Praktis Mengatur Keuangan dan Administrasi dengan Benar

7 Oktober 2026 - 07:15 WIB

Manfaat Brevet Pajak

Kesalahan Umum seputar SPT Tahunan Orang Pribadi dan Cara Menghindarinya

7 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Jurusan Kuliah Terbaik

SPT Tahunan Orang Pribadi: Panduan Praktis Mengatur Keuangan dan Administrasi dengan Benar

7 Oktober 2026 - 06:59 WIB

Kesalahan Umum seputar Coretax DJP dan Cara Menghindarinya

7 Oktober 2026 - 06:46 WIB

Coretax DJP: Panduan Praktis Mengatur Keuangan dan Administrasi dengan Benar

7 Oktober 2026 - 06:38 WIB

QRIS untuk usaha: Panduan Praktis Mengatur Keuangan dan Administrasi dengan Benar

7 Oktober 2026 - 06:23 WIB

Trending di Keuangan Pribadi & Pajak