Resign dari pekerjaan bukan sekadar mengirim surat pengunduran diri lalu berjalan keluar dari kantor. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan matang-matang, karena dunia kerja itu sempit. Hari ini kamu meninggalkan perusahaan dengan cara yang kurang elok, besok bisa jadi kamu bertemu lagi dengan orang yang sama di tempat baru, bahkan bisa jadi atasanmu di perusahaan berikutnya.
Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap remeh proses resign. Entah karena sudah tidak sabar ingin keluar, merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerja, atau sekadar ingin cepat-cepat pindah ke pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Akibatnya, mereka melakukan kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.
Berikut ini beberapa kesalahan umum yang sering terjadi saat resign, plus cara memperbaikinya agar proses perpisahanmu tetap berjalan profesional.
1. Resign secara mendadak tanpa persiapan
Salah satu kesalahan paling sering adalah mengajukan resign di saat-saat terakhir, atau bahkan langsung tidak masuk kerja setelah mengirim pesan singkat ke atasan. Ini membuat perusahaan kewalahan, terutama jika posisimu cukup penting atau sedang menangani proyek yang belum selesai.
Cara memperbaikinya: Rencanakan resign setidaknya satu hingga tiga bulan sebelumnya. Beri tahu atasan secara langsung, bukan lewat pesan singkat atau obrolan grup. Berikan waktu yang cukup bagi perusahaan untuk mencari pengganti atau melakukan transisi tugas. Jika memungkinkan, tawarkan diri untuk membantu proses handover selama masa notice period.
2. Hanya memberi tahu lewat chat atau media sosial
Zaman sekarang, banyak orang merasa cukup mengirim pesan WhatsApp atau DM Instagram untuk mengundurkan diri. Padahal, keputusan sebesar ini sebaiknya disampaikan secara formal dan tatap muka, atau setidaknya melalui panggilan video jika bekerja remote.
Cara memperbaikinya: Ajukan pertemuan dengan atasan langsung. Sampaikan alasanmu dengan jujur namun tetap sopan. Setelah itu, barulah kirim surat pengunduran diri resmi melalui email atau HRD. Ini menunjukkan bahwa kamu menghargai posisi dan hubungan kerja yang sudah terjalin.
3. Menyampaikan alasan resign yang menyakitkan hati
Kebanyakan orang ingin jujur saat resign. Tapi kejujuran tanpa filter bisa berujung pada konflik. Misalnya, mengatakan bahwa perusahaan ini “tidak profesional” atau “atasan terlalu banyak drama” di depan tim. Meskipun itu mungkin benar, menyampaikannya secara blak-blakan hanya akan menutup pintu rezeki di masa depan.
Cara memperbaikinya: Gunakan alasan yang netral dan berorientasi pada pengembangan diri. Contohnya, “Saya ingin mengejar peluang yang lebih sesuai dengan tujuan karier jangka panjang saya” atau “Saya butuh lingkungan kerja yang lebih mendukung keseimbangan hidup.” Jika ada masalah serius, sampaikan secara pribadi kepada HRD dengan bahasa yang konstruktif, bukan sebagai serangan.
4. Tidak menyelesaikan tanggung jawab yang masih berjalan
Ada yang berpikir, “Sudah mau keluar, kenapa harus repot-repot?” Akhirnya, pekerjaan yang belum selesai ditinggalkan begitu saja, laporan tidak dibuat, atau klien tidak diberi tahu. Ini adalah kesalahan fatal yang bisa merusak reputasimu.
Cara memperbaikinya: Buat daftar semua tanggung jawab yang masih berjalan. Selesaikan yang bisa diselesaikan, dan untuk yang belum, buat dokumentasi yang rapi agar orang yang menggantikanmu bisa melanjutkan tanpa kebingungan. Serahkan semua file, akses, dan informasi penting kepada atasan atau rekan yang ditunjuk. Tinggalkan kesan bahwa kamu adalah orang yang bisa diandalkan sampai detik terakhir.
5. Mengabaikan masa notice period
Masa notice period bukan sekadar formalitas. Ini adalah waktu yang diberikan perusahaan untuk melakukan transisi. Sayangnya, banyak yang justru menggunakannya untuk bermalas-malasan, sering terlambat, atau bahkan tidak masuk tanpa keterangan.
Cara memperbaikinya: Perlakukan masa notice period seperti hari-hari pertama kamu bekerja. Tetap profesional, tetap disiplin, dan tetap memberikan kontribusi terbaik. Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk meninggalkan kesan yang baik. Ingat, kesan terakhir seringkali lebih diingat daripada kesan pertama.
6. Membicarakan rencana resign ke semua orang
Salah satu kesalahan yang sering tidak disadari adalah membocorkan rencana resign ke rekan kerja sebelum mengajukannya secara resmi. Informasi ini bisa menyebar cepat dan menimbulkan spekulasi, bahkan sebelum kamu berbicara dengan atasan.
Cara memperbaikinya: Simpan rencana ini sampai kamu benar-benar siap mengajukannya. Bicarakan hanya dengan orang-orang yang perlu tahu, seperti atasan langsung atau HRD. Setelah prosesnya resmi, barulah kamu bisa berbagi dengan rekan kerja yang kamu percaya.
7. Tidak mempersiapkan diri untuk pertanyaan balik
Saat mengajukan resign, atasan biasanya akan bertanya, “Kenapa?” atau “Apa yang bisa kami lakukan untuk membuatmu bertahan?” Banyak orang yang tidak siap dengan pertanyaan ini sehingga jawabannya berbelit-belit atau terkesan tidak tulus.
Cara memperbaikinya: Persiapkan jawaban yang jujur, singkat, dan tetap profesional. Jika kamu memang sudah bulat ingin pergi, sampaikan dengan tegas namun sopan. Jika ada ruang negosiasi, pertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Jangan memberi harapan palsu jika kamu sudah tidak berniat bertahan.
8. Lupa menjaga hubungan baik setelah resign
Setelah resign, sebagian orang menghilang begitu saja. Tidak memberi kabar, tidak merespons pesan, dan seolah memutus semua hubungan. Padahal, jaringan profesional sangat berharga untuk karier jangka panjang.
Cara memperbaikinya: Kirim pesan perpisahan yang hangat ke rekan-rekan kerja. Ucapkan terima kasih atas kerja sama yang sudah terjalin. Tetap terhubung melalui LinkedIn atau media profesional lainnya. Sesekali beri kabar baik atau tawarkan bantuan jika memungkinkan. Kamu tidak pernah tahu kapan hubungan ini akan berguna di masa depan.
9. Menganggap resign sebagai akhir dari segalanya
Banyak yang merasa bahwa setelah resign, semua tanggung jawab dan hubungan dengan perusahaan selesai. Padahal, dunia kerja itu dinamis. Perusahaan tempatmu bekerja sekarang bisa jadi klien, mitra, atau bahkan tempatmu kembali di masa depan.
Cara memperbaikinya: Ubah cara pandang. Resign bukanlah akhir, melainkan transisi. Jaga komunikasi, jaga reputasi, dan tinggalkan warisan kerja yang baik. Jika suatu saat kamu ingin kembali, pintu itu masih terbuka lebar.
10. Tidak belajar dari proses resign
Setiap pengalaman resign adalah pelajaran berharga. Apa yang salah dari pekerjaan sebelumnya, apa yang ingin kamu perbaiki, dan apa yang kamu cari dari pekerjaan berikutnya. Sayangnya, banyak yang langsung melompat ke pekerjaan baru tanpa refleksi.
Cara memperbaikinya: Luangkan waktu untuk mengevaluasi pengalamanmu. Tuliskan hal-hal yang membuatmu tidak betah, hal-hal yang kamu syukuri, dan harapan untuk karier ke depan. Dengan begitu, kamu bisa memilih tempat kerja yang lebih tepat dan menghindari kesalahan yang sama.
Resign yang profesional bukan tentang seberapa cepat kamu keluar, tetapi tentang bagaimana kamu meninggalkan tempat itu dengan integritas. Dunia kerja berputar, dan reputasi adalah modal yang tidak ternilai. Lakukan perpisahan dengan cara yang baik, maka pintu-pintu baru akan terbuka dengan sendirinya.









