Pernahkah Anda melihat anak yang ngotot banget mempertahankan keinginannya sampai suaranya meninggi? Atau justru sebaliknya, ada anak yang diam saja padahal jelas-jelas tidak setuju dengan keputusan teman-temannya? Dua-duanya sama-sama masalah, lho. Yang pertama bikin suasana jadi panas, yang kedua bikin anak kehilangan kesempatan untuk bersuara. Nah, di sinilah peran penting belajar menyampaikan pendapat dengan santun itu.
Bagi anak kelas 3 SD, kemampuan ini bukan cuma soal pelajaran di sekolah. Ini bekal hidup yang bakal mereka pakai terus, mulai dari diskusi kelompok di kelas, bermain bersama saudara di rumah, sampai nanti saat mereka dewasa dan masuk dunia kerja. Sayangnya, banyak anak yang belum paham bedanya antara “berpendapat” dan “memaksa kehendak”. Mereka sering mengira bahwa supaya didengar, mereka harus bicara keras atau bahkan marah-marah.
Padahal, menyampaikan pendapat dengan santun justru membuat suara kita lebih mudah diterima. Coba bayangkan dua anak yang sama-sama ingin kelompoknya memilih topik “hewan” untuk proyek sekolah. Anak pertama bilang, “Pokoknya aku mau hewan! Yang lain gak usah milih!” Anak kedua bilang, “Aku sih lebih suka topik hewan, soalnya aku punya banyak buku tentang hewan di rumah. Tapi kalau teman-teman ada ide lain, kita diskusikan dulu, yuk.” Kira-kira, yang mana yang lebih mungkin diikuti oleh teman-temannya?
Apa Sih Arti Santun Saat Berpendapat?
Santun bukan berarti anak harus selalu setuju dengan orang lain, ya. Santun juga bukan berarti anak jadi pendiam dan tidak berani bicara. Justru sebaliknya, santun itu cara bicara yang menghargai orang lain, meskipun isi pendapatnya berbeda.
Ada beberapa ciri sederhana yang bisa diajarkan ke anak-anak:
-
Memilih kata yang tidak menyakiti. Misalnya, mengganti “Idemu jelek banget” dengan “Aku kurang setuju sama ide itu, boleh aku kasih pendapat lain?”
-
Menggunakan nada suara yang wajar. Tidak membentak, tidak juga berbisik sampai tidak terdengar.
-
Mau mendengarkan dulu sebelum menjawab. Ini sering terlewat. Anak-anak biasanya sudah menyiapkan bantahan di kepala sementara temannya masih bicara.
-
Melihat lawan bicara dengan mata. Bukan menunduk atau malah menatap tajam, tapi kontak mata yang ramah.
-
Menggunakan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” sebagai bumbu percakapan sehari-hari.
Bagi anak kelas 3 SD, konsep-konsep ini perlu dijelaskan dengan contoh nyata, bukan definisi yang panjang. Mereka lebih mudah menangkap pelajaran lewat cerita dan situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.
Contoh Nyata di Kehidupan Anak Sehari-hari
Bayangkan situasi di kantin sekolah. Andi ingin membeli es teh, tapi uangnya cuma cukup untuk satu minuman. Temannya, Bela, juga ingin membeli es teh. Andi bisa saja langsung menyerobot antrean dan bilang, “Aku duluan yang mau!” Tapi kalau Andi belajar menyampaikan pendapat dengan santun, ia bisa bilang, “Bel, aku juga pengen es teh nih. Gimana kalau kita bagi dua, atau gantian ya? Kamu dulu deh, aku habis itu.”
Contoh lain di dalam kelas. Guru membuka diskusi tentang aturan kebersihan kelas. Rina tidak setuju dengan usulan temannya yang ingin membuat jadwal piket setiap hari. Rina bisa saja berkata, “Usulmu gak masuk akal!” Tapi versi santunnya bisa begini, “Aku kurang setuju kalau piketnya setiap hari, soalnya kita juga banyak tugas lain. Gimana kalau piketnya tiga kali seminggu saja? Nanti aku bantu susun jadwalnya.”
Perhatikan bahwa dalam kedua contoh, anak tetap menyampaikan keinginan dan ketidaksetujuannya. Bedanya, cara penyampaiannya membuat orang lain merasa dihargai, bukan diserang.
Cara Melatih Anak Menyampaikan Pendapat dengan Santun
Teori saja tidak cukup. Anak kelas 3 SD butuh latihan langsung yang menyenangkan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan di rumah maupun di sekolah:
1. Bermain Peran (Role Play)
Ajak anak bermain peran. Misalnya, ibu berperan jadi teman yang ingin menonton film kartun, sementara anak ingin menonton film lain. Minta anak menyampaikan pendapatnya dengan cara yang baik. Setelah itu, tukar peran. Dari permainan ini, anak belajar merasakan posisi orang lain.
2. Membacakan Cerita dan Membahasnya
Banyak cerita anak yang mengandung konflik kecil, misalnya tokoh yang berebut mainan. Setelah membacakan cerita, ajak anak berdiskusi: “Kalau kamu jadi tokoh itu, bagaimana cara kamu bilang ke temanmu?” Diskusi ringan seperti ini melatih anak berpikir sebelum bicara.
3. Memberi Pujian Saat Anak Berhasil Santun
Ketika anak berhasil menyampaikan pendapatnya dengan cara yang baik, jangan ragu untuk memuji. “Tadi kamu keren, sudah bilang pendapatmu tanpa marah-marah. Adikmu jadi mau mendengarkan, kan?” Pujian seperti ini memperkuat kebiasaan baik.
4. Menjadi Contoh di Rumah
Anak adalah peniru ulung. Kalau orang tua terbiasa berdebat dengan suara tinggi atau memotong pembicaraan, jangan heran kalau anak meniru. Sebaliknya, tunjukkan cara berpendapat yang santun saat ada perbedaan pendapat di rumah, misalnya saat memilih menu makan malam atau tujuan liburan.
5. Melatih Mendengarkan Aktif
Sering kali anak gagal menyampaikan pendapat dengan santun karena ia tidak sabar. Latih anak untuk mendengarkan sampai orang lain selesai bicara. Bisa dimulai dari aturan sederhana di rumah: siapa pun yang sedang bicara, yang lain mendengarkan dulu. Setelah selesai, baru boleh menanggapi.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Ada beberapa jebakan yang sering dialami anak maupun orang dewasa saat mengajarkan keterampilan ini. Pertama, menganggap santun berarti selalu mengalah. Ini keliru. Anak tetap boleh berpendapat tegas, asalkan caranya tidak menyakiti. Kedua, orang tua kadang langsung memarahi anak yang berpendapat kasar tanpa menjelaskan cara yang benar. Akibatnya anak hanya tahu “jangan begini” tapi tidak tahu “harus bagaimana”. Ketiga, anak dibiarkan saja karena dianggap “masih kecil”. Padahal, kebiasaan yang dibentuk di usia 8-9 tahun akan terbawa sampai besar.
Menghubungkan dengan Pelajaran Bahasa Indonesia
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 SD, materi menyampaikan pendapat sebenarnya sudah tercakup dalam kompetensi berbicara dan menyimak. Anak diajarkan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan dengan runtut dan santun. Guru biasanya memulai dengan memberi contoh, lalu meminta siswa berlatih dalam kelompok kecil.
Yang menarik, keterampilan ini juga mendukung kemampuan menulis. Anak yang terbiasa menyusun pendapat secara lisan dengan rapi akan lebih mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan, misalnya saat diminta menulis surat untuk teman atau menulis paragraf tentang kegemaran mereka.
Manfaat Jangka Panjang
Kalau anak kelas 3 SD sudah terbiasa menyampaikan pendapat dengan santun, manfaatnya akan terasa jauh ke depan. Mereka akan lebih percaya diri saat harus presentasi di depan kelas, lebih mudah bekerja sama dalam kelompok, dan lebih mampu menyelesaikan konflik dengan teman tanpa harus berkelahi atau diam-diam memendam kesal. Di rumah, anak juga jadi lebih terbuka kepada orang tua karena merasa pendapatnya dihargai.
Yang paling penting, anak belajar bahwa menjadi berbeda pendapat itu hal yang wajar. Tidak perlu takut, tidak perlu marah. Cukup sampaikan dengan cara yang baik, dengarkan balasan orang lain, lalu cari jalan tengah bersama. Bekal sederhana ini, kalau dilatih sejak kecil, akan menjadi kebiasaan yang mengakar sampai dewasa.
Pada akhirnya, mengajarkan anak menyampaikan pendapat dengan santun bukan tentang membuat mereka jadi anak yang penurut atau pendiam. Justru sebaliknya, ini tentang membentuk anak yang berani bersuara sekaligus bijak dalam caranya. Dan itu, tentu saja, adalah keterampilan yang jauh lebih berharga daripada sekadar hafal teori di buku pelajaran.









