Menu

Mode Gelap

UTBK · 28 Jul 2026 15:34 WIB ·

Mitos Passing Grade UTBK yang Masih Sering Dipercaya


Ilustrasi Lulus Kuliah (img: pixabay.com) Perbesar

Ilustrasi Lulus Kuliah (img: pixabay.com)

Setiap tahun, saat pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) mulai dibuka, satu pertanyaan selalu menghantui para calon mahasiswa: “Berapa passing grade untuk masuk jurusan X di PTN Y?” Fenomena ini sudah berlangsung lama, bahkan ketika sistem seleksi masih bernama SBMPTN. Masyarakat terbiasa mencari angka ajaib yang dianggap sebagai “batas aman” untuk bisa lolos ke perguruan tinggi negeri favorit.

Informasi tentang passing grade ini kemudian menyebar luas di media sosial, dari grup WhatsApp hingga berbagai kanal YouTube. Ada yang mengklaim skor 500 cukup untuk masuk universitas tertentu, ada pula yang menyebut angka 700 sebagai harga mati untuk program studi bergengsi seperti Kedokteran. Sayangnya, kepercayaan terhadap angka-angka ini seringkali membawa dampak yang kurang baik bagi para peserta itu sendiri.

Dari Mana Asal-Usul Istilah Passing Grade?

Istilah passing grade sebenarnya bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Konsep ini populer pada era SNMPTN dan SBMPTN lama, ketika sistem seleksi masih menggunakan perhitungan yang relatif sederhana dan berbasis skor mentah hasil ujian tertulis. Pada masa itu, perhitungan passing grade dilakukan dengan rumus yang mempertimbangkan jumlah soal benar dan salah .

Namun, sistem seleksi masuk perguruan tinggi negeri telah berubah secara fundamental. UTBK SNBT yang berlaku saat ini menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda. Sistem penilaian modern tidak lagi sesederhana menghitung benar-salah, melainkan menggunakan metode yang jauh lebih kompleks dan dinamis.

Fakta yang Sering Diabaikan: Tidak Ada Passing Grade Resmi

Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) berulang kali menegaskan bahwa tidak ada passing grade resmi untuk UTBK SNBT. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB, Eduart Wolok, bahkan menyatakan bahwa istilah passing grade ibarat “menyandera” calon peserta. Beliau menjelaskan bahwa tugas peserta adalah mengerjakan soal sebaik mungkin dan mendapatkan skor terbaik, bukan mengejar angka tertentu .

Penegasan serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif SNPMB, Bekti Cahyo Hidayanto, yang menyebut informasi passing grade yang beredar di masyarakat sebagai sesuatu yang “menyesatkan”. Beliau mengungkapkan bahwa nilai-nilai hasil UTBK dari tahun-tahun sebelumnya sama sekali tidak relevan digunakan sebagai acuan untuk memprediksi kelulusan peserta di tahun berjalan .

Mekanisme Seleksi yang Sebenarnya: Bukan Angka, tapi Peringkat

Jika tidak ada passing grade, lalu bagaimana sebenarnya PTN menyeleksi peserta? Prinsip dasarnya sangat sederhana: peringkat. Mekanisme seleksi UTBK SNBT murni berdasarkan skor UTBK yang kemudian diurutkan dari yang tertinggi ke terendah untuk setiap program studi .

Bayangkan sebuah program studi dengan kuota 30 kursi. Jika ada 500 pendaftar, maka 30 orang dengan skor UTBK tertinggi-lah yang akan diterima, berapa pun angka skor mereka. Tidak ada batasan nilai minimal yang kaku karena kelulusan sangat bergantung pada keketatan program studi dan kuota yang tersedia .

Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa Baru IPB University, Dr. Utami Dyah Syafitri, menegaskan bahwa seleksi SNBT benar-benar murni berdasarkan skor. “Selama masuk ke dalam cut-off skornya, itu akan diterima. Pembatasan utamanya adalah kuota,” ujarnya .

Mengapa Passing Grade dari Bimbingan Belajar Tidak Bisa Dipercaya?

Banyak lembaga bimbingan belajar yang merilis data passing grade untuk berbagai program studi. Mereka mengumpulkan data dari tahun-tahun sebelumnya, melakukan analisis, lalu mempublikasikannya sebagai “prediksi” atau “gambaran” persaingan.

Namun, panitia SNPMB dengan tegas menyatakan bahwa data tersebut bukan berasal dari sumber resmi. Bekti Cahyo Hidayanto menjelaskan, “Itu asalnya dari opini-opini dan analisa bimbel yang dibuat untuk komoditas. Panitia tidak akan terpancing untuk menanggapi” .

Artinya, passing grade yang beredar di internet hanyalah perkiraan statistik yang tidak memperhitungkan dinamika peserta di tahun berjalan. Jumlah peserta, tingkat kemampuan rata-rata, dan minat terhadap suatu program studi selalu berubah setiap tahun. Skor yang dianggap “aman” tahun lalu bisa menjadi tidak cukup di tahun ini, dan sebaliknya .

Sistem Penilaian UTBK yang Kompleks

Salah satu alasan mengapa passing grade tidak relevan adalah karena sistem penilaian UTBK menggunakan metode yang disebut Item Response Theory (IRT). Dalam sistem ini, skor peserta tidak hanya ditentukan oleh jumlah jawaban benar, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kesulitan soal dan pola jawaban peserta .

Akibatnya, dua peserta dengan jumlah jawaban benar yang sama bisa mendapatkan skor yang berbeda. Ini membuat konsep passing grade menjadi semakin tidak bermakna karena tidak ada angka tunggal yang bisa dijadikan patokan.

Mitos Seputar Gelombang UTBK

Selain passing grade, masih ada mitos lain yang juga sering dipercaya oleh calon peserta. Salah satunya adalah anggapan bahwa peserta gelombang kedua memiliki peluang lebih kecil karena soal dianggap lebih sulit atau karena skor akan lebih rendah .

Fakta yang sebenarnya adalah tidak ada perbedaan penilaian antara gelombang pertama dan kedua. Hasil ujian dari kedua gelombang digabung dan dinilai dengan standar yang sama. Bahkan, mitos bahwa peserta gelombang kedua akan mendapat bocoran soal juga tidak benar karena tipe soal UTBK sangat beragam .

Bahaya Terlalu Fokus pada Passing Grade

Ketika seorang siswa terlalu fokus mengejar angka passing grade tertentu, beberapa hal negatif bisa terjadi:

Pertama, siswa bisa menjadi terlalu percaya diri jika nilainya di atas angka yang beredar. Ia mungkin mengabaikan persiapan lebih lanjut karena merasa sudah “aman”. Padahal, persaingan di tahun tersebut bisa jauh lebih ketat.

Kedua, siswa bisa menjadi frustrasi dan kehilangan motivasi jika nilainya di bawah angka yang disebut-sebut sebagai passing grade. Padahal, tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya persaingan tahun itu.

Ketiga, siswa bisa membuat keputusan strategis yang keliru, seperti memilih program studi yang dianggap “lebih aman” berdasarkan passing grade, tanpa mempertimbangkan minat dan bakatnya sendiri .

Strategi yang Lebih Bijak dalam Menghadapi UTBK SNBT

Daripada sibuk mencari angka passing grade, ada beberapa hal yang jauh lebih bermanfaat untuk dilakukan:

Pertama, fokuslah pada proses belajar dan persiapan ujian yang maksimal. Pahami struktur tes SNBT yang menguji penalaran dan kemampuan berpikir, bukan sekadar hafalan. Kuasai karakteristik soal Penalaran Umum, Pemahaman Bacaan dan Menulis, serta Penalaran Matematika .

Kedua, pelajari tingkat keketatan program studi yang diminati. Informasi tentang jumlah pendaftar dan daya tampung tahun-tahun sebelumnya bisa memberi gambaran tentang seberapa kompetitif suatu jurusan. Konsepnya sederhana: “tahun lalu pendaftarnya berapa banyak dan kapasitasnya berapa” .

Ketiga, susun strategi pemilihan program studi dengan bijak. Kombinasikan pilihan yang sesuai dengan minat dan kemampuan dengan mempertimbangkan tingkat persaingan. Jangan hanya terpaku pada satu program studi favorit tanpa alternatif lain.

Kesalahan Memahami Skor UTBK

Banyak yang masih keliru dalam memahami skor UTBK. Ada anggapan bahwa subtes tertentu harus mencapai angka tertentu untuk masuk program studi tertentu. Panitia SNPMB menegaskan bahwa ini tidak benar. Nilai subtes UTBK tidak dijumlahkan kemudian dirata-rata menjadi nilai komposit untuk diseleksi seperti yang dibayangkan banyak orang .

Skor UTBK adalah hasil dari proses penilaian yang kompleks dan terstandarisasi. Peserta sebaiknya tidak membandingkan skor mereka dengan orang lain atau dengan data tahun sebelumnya karena konteksnya selalu berbeda.

Perubahan Dinamis Setiap Tahun

Salah satu alasan terpenting mengapa passing grade tidak bisa dijadikan acuan adalah karena kondisi seleksi selalu berubah dari tahun ke tahun. Jumlah peserta bisa meningkat, minat terhadap suatu program studi bisa bergeser, dan distribusi kemampuan peserta bisa berbeda-beda .

Perguruan tinggi negeri tidak pernah menerbitkan informasi tentang passing grade. Menurut Irvan Christiawan dari ITB, “Setiap tahun, prestasi para pelamar bisa berbeda. Kadang semua anaknya pintar-pintar, jadi nilainya tinggi-tinggi. Tapi suatu saat, bisa terjadi nilainya tidak terlalu tinggi. Tidak bisa diprediksi” .

Kesalahan Mengambil Keputusan Berdasarkan Passing Grade

Banyak peserta yang menyesal karena mengambil keputusan berdasarkan passing grade yang tidak akurat. Ada yang memilih program studi yang sebenarnya tidak diminati hanya karena dianggap “lebih aman” berdasarkan angka passing grade. Ada pula yang gagal masuk karena terlalu percaya diri dengan skor yang di atas passing grade versi internet .

Yang lebih ironis, ada peserta yang memilih untuk tidak mencoba sama sekali karena skornya di bawah angka yang disebut-sebut sebagai passing grade. Padahal, bisa saja di tahun itu persaingan tidak seketat yang dibayangkan dan skornya sebenarnya cukup untuk diterima.

Cara Melihat Data Skor dengan Bijak

Meskipun tidak ada passing grade resmi, bukan berarti semua data skor tahun sebelumnya tidak berguna. Data tersebut bisa dilihat sebagai gambaran kasar tentang tingkat persaingan, bukan sebagai patokan kelulusan .

Yang perlu diingat adalah skor rata-rata UTBK dari tahun ke tahun bisa berfluktuasi. Misalnya, pada tahun 2025, nilai rata-rata UTBK untuk jenjang S1 adalah 545,78, dengan nilai terendah mencapai 200,00 . Namun angka ini tidak bisa digeneralisasi untuk semua program studi karena masing-masing prodi punya karakteristik persaingan yang berbeda.

Pentingnya Sumber Informasi Resmi

Di era informasi yang serba mudah ini, calon peserta UTBK SNBT harus lebih selektif dalam memilih sumber informasi. Panitia SNPMB dan masing-masing PTN memiliki kanal resmi untuk menyampaikan kebijakan dan informasi penting.

Informasi tentang passing grade yang beredar di media sosial atau dari sumber tidak resmi sebaiknya tidak dijadikan dasar pengambilan keputusan. “Jadi jangan mempercayai informasi passing grade atau nilai rapor minimum. Informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan,” tegas Irvan Christiawan dari ITB .

Memahami Filosofi Seleksi UTBK SNBT

Pada akhirnya, penting untuk memahami filosofi di balik sistem seleksi UTBK SNBT. Sistem ini dirancang untuk memilih calon mahasiswa terbaik di antara para pendaftar, bukan untuk memenuhi standar nilai tertentu.

Tidak ada “nilai aman” dalam UTBK SNBT. Yang ada hanyalah usaha maksimal dari setiap peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Peserta yang berhasil lolos adalah mereka yang mampu bersaing secara cerdas dalam sistem yang kompetitif, bukan mereka yang berhasil mencapai angka tertentu .

Dengan memahami prinsip dasar ini, calon peserta bisa lebih tenang dalam menghadapi proses seleksi. Fokus pada persiapan yang matang, pahami strategi mengerjakan soal, dan buat keputusan pemilihan program studi dengan bijak. Itulah cara yang lebih efektif untuk meningkatkan peluang lolos UTBK SNBT, daripada sibuk mencari angka passing grade yang sebenarnya tidak pernah ada.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Cara Membaca Daya Tampung dan Peminat Prodi SNBT

26 Juli 2026 - 08:37 WIB

Kuliah di tahun 2025

Perbedaan SNBP dan SNBT yang Sering Membingungkan

26 Juli 2026 - 08:00 WIB

Lulus

Dokumen yang Harus Dibawa saat Hari H UTBK

25 Juli 2026 - 13:58 WIB

Cara Menghitung Target Skor UTBK Sesuai Jurusan Impian

25 Juli 2026 - 11:00 WIB

Tips Agar Lolos SKD

Strategi Belajar Penalaran Matematika UTBK dari Nol

24 Juli 2026 - 22:53 WIB

Tips lulus masuk itb

Jadwal UTBK SNBT 2026 Lengkap dari Pendaftaran sampai Sertifikat

24 Juli 2026 - 17:33 WIB

Universitas Terbuka
Trending di UTBK