Bayangkan turun dari kereta di Stasiun Balapan, Solo, dengan waktu hanya sehari penuh untuk menikmati kota budaya ini. Rasanya mungkin cukup mepet, tapi percayalah, Solo memiliki keistimewaan karena pusat kotanya sangat ramah untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Dari Stasiun Balapan, banyak destinasi wisata, kuliner, dan sejarah yang berjarak sangat dekat, bahkan hanya dua menit jalan kaki.
Rute ini akan mengajakmu merasakan pengalaman Solo yang autentik dan mendalam. Kita akan mulai dengan sarapan di pasar legendaris, menyusuri lorong sejarah keraton, berburu oleh-oleh, hingga menikmati suasana malam yang hangat. Semuanya bisa dilakukan tanpa perlu menyewa kendaraan, cukup andalkan kekuatan kaki dan semangat petualang.
Perjalanan Dimulai Dari Stasiun ke Pasar Gede Hardjonagoro
Begitu keluar dari pintu Stasiun Solo Balapan, langkah pertama yang paling direkomendasikan adalah berjalan kaki menuju Pasar Gede Hardjonagoro. Jaraknya hanya sekitar 800 meter, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 10-15 menit jalan santai. Di sinilah petualangan Solo sehari kamu dimulai dengan sempurna. Pasar Gede bukan sekadar pasar biasa; ini adalah ikon kuliner dan sejarah.
Bangunan pasar ini sendiri adalah karya arsitek Belanda, Thomas Karsten, dan berdiri di kawasan Pecinan Sudiroprajan, pecinan tertua di Solo. Arsitekturnya merupakan perpaduan unik gaya Eropa, Jawa, Tionghoa, dan Arab, yang menceritakan akar budaya Solo yang multikultur. Saat pagi hari, pasar ini sangat hidup. Aroma rempah dan semangat para pedagang akan langsung menyambutmu.
Rekomendasi sarapan di Pasar Gede:
-
Nasi Liwet: Ini adalah menu wajib. Bayangkan nasi gurih yang disajikan dalam pincuk daun pisang, lengkap dengan suwiran ayam kampung, sayur labu siam, dan telur pindang. Harganya sangat bersahabat, mulai dari Rp 9.000 per porsi.
-
Tahok: Untuk pengalaman yang lebih unik, cobalah tahok. Ini adalah jajanan tradisional yang mirip bubur tahu, disajikan hangat dengan kuah jahe manis. Sangat cocok dinikmati di pagi hari yang sejuk. Salah satu yang legendaris adalah Tahok Pak Citro.
-
Es Dawet Selasih: Setelah sarapan yang mengenyangkan, segarkan diri dengan es dawet. Minuman ini berisi cendol, tape ketan, dan biji selasih dengan siraman santan dan gula aren. Harganya sekitar Rp 12.000 per gelas.
-
Jajanan Tradisional Lainnya: Kamu juga bisa mencicipi brambang asem (ubi rebus dengan sambal asam-manis), grontol (jagung rebus dengan parutan kelapa), atau lupis. Semuanya dibanderol dengan harga sangat terjangkau, sekitar Rp 5.000-an.
Menyusuri Jejak Sejarah dan Toleransi
Setelah perut kenyang dan energi terisi, saatnya untuk “city walk” menyusuri pusat kota. Dari Pasar Gede, kamu bisa berjalan kaki menuju area Balai Kota Surakarta. Di sini, ada pengalaman yang sangat istimewa, yaitu menyaksikan langsung simbol toleransi antar umat beragama. Hanya dalam radius kurang dari 500 meter, kamu akan menemukan sebuah Kelenteng, Masjid, dan Gereja berdiri berdampingan.
-
Kelenteng Tien Kok Sie: Terletak tepat di seberang Pasar Gede, kelenteng ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia, didirikan pada tahun 1745. Warna merahnya yang kontras sangat menarik untuk dilihat. Jika beruntung, kamu bisa menyaksikan suasana khusus saat perayaan Imlek.
-
Masjid Baitul Hikmah: Terletak di area Balai Kota, masjid ini memiliki arsitektur Jawa yang elegan. Suasana di dalamnya tenang dan terbuka untuk umum. Menariknya, terkadang kamu bisa mendengar suara azan dan lonceng gereja bersahutan dalam waktu yang berdekatan, sebuah pemandangan indah tentang kerukunan.
-
Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan: Sedikit bergeser dari balai kota, gereja dengan dinding putih megah ini berdiri kokoh. Dibangun pada tahun 1905, gereja ini adalah gereja Katolik pertama di Solo.
Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat bangunan, tetapi juga merasakan atmosfer kota yang harmonis, di mana perbedaan budaya dan agama hidup berdampingan dengan damai.
Menyelami Budaya di Keraton Surakarta
Dari area Balai Kota, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit menuju jantung budaya Solo, yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat. Keraton ini bukan hanya museum, tetapi masih berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan tempat tinggal keluarga kerajaan. Memasuki area keraton, kamu akan merasakan suasana agung dan magis dari masa lalu.
Di sini, kamu bisa melihat koleksi pusaka kerajaan, arsitektur kuno, dan museum yang menyimpan berbagai peninggalan. Salah satu koleksi populer adalah Perahu Rajamala dan Kereta Kiai Gurdo. Pastikan untuk mengecek jam buka, karena biasanya tutup pada hari Senin. Tiket masuknya sangat terjangkau, mulai dari Rp 15.000 untuk wisatawan lokal.
Opsi Alternatif: Eksplorasi Batik dan Seni
Jika waktu memungkinkan atau kamu ingin variasi, ada dua opsi menarik lain yang juga dekat dari pusat kota:
-
Kampung Batik Kauman: Terletak tidak jauh dari Pasar Gede. Di sini, kamu bisa menyusuri gang-gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah batik. Kamu bisa melihat langsung proses pembuatan batik, berinteraksi dengan perajin, atau bahkan mengikuti workshop membatik singkat. Suasananya sangat otentik dan cocok untuk berburu oleh-oleh batik kualitas tinggi.
-
Tumurun Private Museum: Bagi pencinta seni kontemporer, museum ini adalah pilihan tepat. Terletak sekitar 5 menit dari stasiun, museum pribadi milik keluarga Hartono ini menyimpan koleksi seni dari seniman dalam dan luar negeri, termasuk instalasi ikonik “Floating Eyes” karya Wedhar Riyadi. Tiket masuknya sekitar Rp 25.000.
Menikmati Sore dan Malam di Solo
Menjelang sore, kamu bisa kembali ke area pusat atau mencari tempat untuk bersantai. Beberapa pilihan menarik adalah:
-
Pasar Antik Triwindu: Jika kamu suka barang-barang vintage dan antik, pasar ini adalah surga. Kamu bisa menemukan wayang kulit, uang kuno, patung, dan berbagai koleksi unik lainnya. Lokasinya tidak jauh dari Pura Mangkunegaran.
-
Ngopi di Kafe Jalan Slamet Riyadi: Jalan ini adalah pusat kuliner dan gaya hidup Solo. Ada banyak pilihan kafe kekinian seperti Sekutu Kopi, RND Coffee, atau Margi Coffee yang cocok untuk beristirahat sejenak sambil menikmati suasana kota.
-
Night Market Ngarsopuro: Saat malam tiba, suasana di kawasan ini berubah menjadi lebih semarak. Banyak pedagang kaki lima menjajakan berbagai makanan ringan, aksesoris, hingga kerajinan tangan. Ini adalah tempat yang sempurna untuk mengakhiri hari sambil menikmati kuliner malam Solo yang legendaris seperti nasi kucing dan wedang ronde di angkringan.
Tips Perjalanan
-
Mulai Pagi: Untuk memaksimalkan waktu, usahakan tiba di Stasiun Balapan sekitar pukul 07.00-08.00 pagi. Ini akan memberimu waktu lebih untuk menikmati setiap tempat tanpa terburu-buru.
-
Pakai Sepeda Nyaman: Karena rute ini sebagian besar adalah city walk, gunakan sepatu atau alas kaki yang paling nyaman untuk berjalan kaki.
-
Bawa Uang Tunai: Meskipun banyak tempat yang menerima pembayaran digital, beberapa pedagang di pasar tradisional dan angkringan masih lebih suka transaksi tunai.
-
Jaga Kerapian: Saat berkunjung ke Keraton atau tempat ibadah, kenakan pakaian yang sopan dan patuhi aturan setempat, seperti melepas alas kaki.
-
Siapkan Kamera: Solo penuh dengan spot foto menarik, mulai dari arsitektur kuno, mural, hingga keramaian pasar. Jangan lupa untuk mengabadikan momen.
Dengan mengikuti rute ini, perjalanan satu hari di Solo akan terasa sangat kaya. Kamu tidak hanya akan menikmati wisata, tetapi juga merasakan denyut nadi kota, dari kesibukan pasar pagi hingga keramaian malam hari, serta belajar tentang sejarah dan toleransi yang menjadi ciri khas Kota Surakarta. Selamat menjelajah.










