<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>review buku - Media Edukasi Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaedukasi.id/topik/review-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaedukasi.id/topik/review-buku/</link>
	<description>Portal Edukasi Terbaik di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Mar 2022 18:28:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://mediaedukasi.id/wp-content/uploads/2022/02/cropped-logo-pt-mei-32x32.png</url>
	<title>review buku - Media Edukasi Indonesia</title>
	<link>https://mediaedukasi.id/topik/review-buku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kekuatan Memahami dan Perempuan-Perempuan Kalah dalam “Penggali Sumur”</title>
		<link>https://mediaedukasi.id/penggali-sumur/</link>
					<comments>https://mediaedukasi.id/penggali-sumur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Media edukasi Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2022 18:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi buku]]></category>
		<category><![CDATA[review buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaedukasi.id/?p=1824</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam artikel ini, saya akan mencoba menafsir buku “Penggali Sumur” dan isi di dalamnya, lalu...</p>
<p>The post <a href="https://mediaedukasi.id/penggali-sumur/">Kekuatan Memahami dan Perempuan-Perempuan Kalah dalam “Penggali Sumur”</a> appeared first on <a href="https://mediaedukasi.id">Media Edukasi Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam artikel ini, saya akan mencoba menafsir buku “Penggali Sumur” dan isi di dalamnya, lalu memberikan pandangan sederhana bahwa menulis membutuhkan dimensi kreatif dan provokatif.</p>
<p><strong>Tentang “Penggali Sumur”</strong></p>
<p>Selo Lamatapo menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul “Penggali Sumur”. Buku yang  berisi 15 cerpen ini diberi “prolog” oleh P. Charles Beraf, SVD dan ditestimoni oleh Ignas Kleden.</p>
<p>Sebagai seorang pembaca, saya tentu memiliki interpretasi tersendiri atas buku kumpulan cerpen ini. Otonomi pembaca tentu menjadi sah ketika sebuah pemikiran/buku dilemparkan ke ruang publik. Basis argumentasi saya dan menjadi semacam legitimasi atas otonomi pembaca  pada pernyataan Budi Darma berikut ini: “Dalam sastra terdapat banyak kemungkinan. Sesuatu dalam sastra mungkin bisa menjadi benar dan bisa menjadi salah, pokoknya disertai dengan argumentasi yang meyakinkan,” (Budi Darma, <em>Solilokui: Kumpulan Esei Sastra</em>, cet. II (Jakarta: Gramedia, 1984), hlm. 89).</p>
<p>Oleh karena itu, sebelum masuk pada isi buku, saya hendak melihat dua poin penulisan cerpen dalam buku ini. <em>Pertama</em>, menulis “sastra kontekstual”: menulis dari kisah pergumulan bersama orang-orang di sekitarnya. Selo menulis dengan ‘terjun’ ke dalam realitas masyarakat di kampungnya, Lembata. Selo tidak menulis dengan sebuah imajinasi kosong tanpa pengalaman konkrit yang dialaminya. Singkatnya, Selo ‘ada bersama’, merasakan pengalaman dan curahan hati orang-orang dekatnya, sembari merenungkan betapa getirnya hidup yang dialami masyarakat sekitarnya.</p>
<p>Dengan ini, secara implisit, Selo membangkitkan kembali perdebatan publik menegenai “sastra kontekstual” yang pernah digaungkan oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto pada tahun 1984. Meski “sastra kontekstual” yang dicanangkan oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto ini dikritik oleh Saut Situmorang sebagai sebuah kelemahan dengan menegaskan bahwa siapa yang bisa menentukan bahwa sebuah karya sastra kontekstual merupakan representasi dari kontekstualisme sastra itu sendiri, setidaknya Selo menunjukkan kepada pembaca buku ini bahwasanya menulis dari ‘ada bersama’ dengan lokus lokal seraya mengolahnya lewat kontemplasi dan imajinasi kreatif merupakan kecakapan yang mesti dimiliki oleh seorang penulis karya sastra (<u>catatan</u>: perdebatan mengenai “sastra kontekstual” dapat dibaca dalam buku “Perdebatan Sastra Kontekstual” yang ditulis oleh Ariel Heryanto dan diterbitkan tahun 1985. Selain itu, kelemahan-kelemahan lain dari “sastra kontekstual” yang dikritik Saut Situmorang dapat dibaca lebih lanjut dalam boemipoetra.wordpress.com).</p>
<p><em>Kedua</em>, menulis karya sastra membutuhkan waktu dan usaha yang gigih. Kumpulan cerpen yang ada dalam buku ini merupakan pilihan dari cerpen yang pernah dimuat di media (nasional dan lokal) dan cerpen yang diseleksi dari hasil karya dan konsumsi pribadi (dari rentang waktu tahun 2016-2021). Selain itu, ‘pengakuan’ Selo saat peluncuran buku “Penggali Sumur” dan diskusi atas buku yang diselenggarakan oleh Seksi Aletheia Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada 28 Februari 2021 lalu juga menegaskan hal yang sama. Kira-kira demikian pengakuan Selo: “Saya melihat kembali cerpen yang pernah saya buat dan ada yang berhasil tayang di beberapa media. Saya mengambil kesempatan emas saat masa probasi (masa sesudah pulang berpraktik pastoral dan momen refleksi sebelum mengikrarkan kaul kekal) di mana suasana hening yang tercipta saya pakai untuk mengutak-atik kembali cerpen. Saya pernah menulis sampai pada taraf bosan atau tidak suka dengan cerpen-cerpen saya. Sampai pada akhirnya saya merasa nyaman untuk diterbitkan menjadi buku.” Pengakuan Selo ini diberi makna yang luas oleh P. Charles Beraf, SVD. Mengutip pernyataan P. Jozef Pieniazek, SVD, Pater Charles mengatakan: “Kalau seorang penulis sampai pada tingkat merasa muak dengan tulisan sebelumnya, itu berarti ia sudah berkembang dalam penulisan.”</p>
<p>Itu artinya, Selo menunjukkan kepada publik bahwa menulis karya sastra selalu membutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketekunan. Karya sastra bukanlah sebuah karya yang dihasilkan dari mimpi siang bolong atau sistem kebut semalam. Dan, ini yang terjadi pada berbagai karya sastra yang marak akhir-akhir ini. Hasilnya, sejauh pengamatan saya, karya sastra tersebut tidak memiliki “marwah” sastra. Karya tersebut rentan jatuh pada fatalism ini: terdiri dari susunan kata-kata indah yang hampir sama dengan penguatan/quotes rohani. Dan, karya Selo memberikan demarkasi yang tegas akan “marwah” sebuah karya sastra yang sebenar-benarnya.</p>
<p>Mari kita masuk ke bagian isi buku. Sebelum itu, dalam tulisan ini, saya hanya mencoba memberi makna dengan dua poin tafsiran, yakni kekuatan memahami dan perempuan-perempuan kalah. Hal ini beralasan, perspektif menafsir dalam “Prolog” yang ditulis P. Charles Beraf, SVD, testimoni Ignas Kleden di bagian sampul belakang buku, dan tafsiran P. Ve Nahak, SVD dalam diskusi yang diadakan oleh Seksi Aletheia Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada tanggal 28 Februari 2021 sudah memberikan ‘asupan’ berarti bagi buku ini.</p>
<p><em>Pertama</em>, kekuatan memahami. Sebagaimana karya Selo merupakan sebuah karya ‘ada bersama’, kekuatan memahami mendapat peran sentral. Memahami di sini mesti dilihat sebagai kecakapan untuk menjangkau orang lain. Berbeda dengan mengetahui, memahami selalu megandalkan keterlibatan dalam hidup orang lain yang memampukan seseorang menangkap ‘makna’ dari perjumpaan tersebut (F. Budi Hardiman: 2015, hlm. 9).</p>
<p>Dalam beberapa cerpen, Selo mengajak forum pembaca untuk melihat betapa urgen dan mendesaknya kekuatan memahami. Hal ini dapat dijumpai dalam cerpen “Penggali Sumur”:</p>
<p>“Om Banus masih berdiri tercenung di sumur itu. Aku tergerak untuk menemuinya. Kudapati ember dan bergegas ke sumur. Ada bersama Om Banus adalah suatu kebahagiaan bagiku. Apalagi mendengar ia bercerita tentang perjuangannya menggali sumur” (hlm. 3).</p>
<p>Selain itu, dalam cerpen “Jari Kecil Ari”, Selo secara gambling menggambarkan si “Aku” yang mengalami peralihan dari tahap “mengetahui” ke tahap “memahami”. Si “Aku” yang awalnya hanya “mengetahui” kerinduan adiknya akan sosok ibu dan tidak memahami secara pasti  apa yang ditulis adiknya “di tanah jalanan dan debunya diterbangkan ke arah lautan”, akhirnya mampu membongkar tabir itu berkat kekuatan memahami.</p>
<p>“Pada tanah jalan kemarin, saat angin belum sempurna menerbangkan debunya pagi ini, aku menemukan tulisan dari jari kecilnya yang nyaris tidak bisa kubaca: “Pulanglah, Ma.’ Tulisan ini berbaring hening di tanah dan memiliki napasnya sendiri. Aku percaya, kerinduan ini tak akan pernah lekang, sebab ia dibaringkan pada tanah di mana rindu dan manusia tercipta. Ia merindukan kebersamaan yang tak akan lagi terpisahkan serupa debu tanah dan jalanan. Namanya Ari. Ia merindukan ibu diNegeri Jiran melalui tanah di perempatan jalan yang diterbangkan angin kea rah lautan” (hlm.103-104).</p>
<p>Sementara itu, dalam cerpen “Ibu yang Merindu”, Selo membeberkan kepada pembaca pentingnya sebuah perspektif memahami dalam dimensi yang lebih luas, yakni politik (sebuah megaproyek kesejahteraan bersama). Dalam narasinya, si “Aku” membongkar kedok ‘dosa’ karena ketakbecusan para penguasa: dermaga yang belum diperbaiki karena ada beberapa titik berlubang dibumbui dengan sampah plastik yang berserakan, jalanan kota yang masih berlubang, taman kota yang mirip seperti taman rumput kering, aspal-aspal yang tercabut, kerikil yang tercecer di mana-mana, dan debu jalanan yang mengakibatkan batang pohon menjadi gelap.</p>
<p>Pemahaman ‘politis’ si “Aku’ bisa dilihat dalam perjumpaan dengan ibu yang tak mampu diungkapkan si “Aku” sebagai berikut:</p>
<p>“Ah, Ibu. Perubahan yang adil adalah perubahan yang merata. Kasihan kampung-kampung yang tak kedapatan perbaikan jalan, kekurangan air bersih, tidak ada listrik yang masuk lantaran anggaran dana pembangunan telah lenyap entah ke kantong mana” (hlm. 111).</p>
<p>Dan, pemahaman akan dimensi ‘politis’ ini terangkaum dalam kritik yang sangat progresif:</p>
<p>“Semestinya jalanan di kampungku lebih baik dari sekarang dengan dana yang ada, tetapi masyarakat hanya merasakan yang begitu-begitu saja lantaran keegoisan para petinggi rakyat. Dan ibu yang kian tua tak akan pernah memahami hal ini” (hlm. 112).</p>
<p><em>Kedua</em>, perempuan-perempuan kalah. Seperti yang saya tegaskan sebelumnya, Selo menulis kisah ini berdasarkan ‘ada bersama’ orang-orang di sekitarnya. Dan, Selo menulis apa adanya: apa yang terjadi, apa yang ia lihat dan alami. Meski ada kesederajatan/kesetaraan antara perempuan dan laki-laki yang dibuat Selo dalam cerpen pertama tentang “Penggali Sumur” (P. Charles Beraf, SVD membahasakan ini dalam diskusi sebagai sebuah sintesis: perempuan diposisikan sama tinggi dengan laki-laki), dalam cerpen-cerpen berikutnya, ada realitas perempuan-perempuan yang kalah.</p>
<p>Dalam cerpen “Lubang Besar di hutan Tebu”, tokoh Sarinah dilukiskan sebagai tokoh yang pasrah berhadapan dengan Tohar, suaminya. Tohar yang marah dengan tanpa belaskasihan menyumpahi, menggebuk/membunuh, dan menguburkan kucing yang memakan ikan goreng tangkapannya (ikan tersebut merupakan lauk saat makan malam bersama anggota kelompoknya – Tohar bersama beberapa temannya tergabung dalam kelompok yang dicuragai merusak kenyamanan warga kampung) dan tikus yang terperangkap dalam perangkap. Lukisan kekalahan Sarinah dapat dilihat dalam percakapan berikut:</p>
<p>“Pisahkan kucing dan tikus itu, Tohar. Jangan dikuburkan bersama-sama.’</p>
<p>‘Biarkan saja! Binatang yang merugikan tidak perlu dikasihani, Sarinah.’</p>
<p>‘Tidakkah kau takut kalau kita mati dan dikuburkan seperti ini, Tohar?’</p>
<p>‘Tidak perlulah kau terlampau cemas, Sarinah” (bdk. hlm. 12-13, 14-15, 19).</p>
<p>“Tohar menutup kembali lubang itu dengan gundukan tanah. Sarinah diam. Di barat, matahari terbenam menyisakan gelap. Sarinah masuk ke dalam rumah, menyalakan pelita, menyiapkan segala hal untuk pertemuan yang diadakan Tohar bersama anggotanya di rumah mereka” (hlm. 15 dan 19).</p>
<p>Selain itu, kekalahan Sarinah dapat dilihat dalam dialog lain dari cerpen yang sama:</p>
<p>“Sarinah yang mendengar desas-desus warga kerap meminta Tohar untuk berhenti terlibat dalam kelompok itu.</p>
<p>‘Saya takut kejadian sebagaimana dialami ayah terulang lagi, Tohar.’</p>
<p>‘Tidak apa-apa, Sarinah. Ini untuk misi tertentu. Jangan percaya desas-desus warga setempat.’ Sarinah diam” (hlm. 17-18).</p>
<p>Di sini, relasi kuasa sangat kental. Perempuan (Sarinah) mesti mengalah berhadapan dengan laki-laki (Tohar) karena laki-laki menentukan berbagai keputusan dalam hidup berkeluarga. Perempuan hanya menjadi semacam <em>the second sex</em> yang hanya diam, mendengar, dan melaksanakan tugas. Selesai.</p>
<p>Hal yang sama dapat kita temui dalam cerpen “Dua Cangkir Kopi di hari Ulang Tahun Pernikahan”. Hanya dengan alasan kopi yang tidak sesuai selera, perempuan (Jesica) disalahkan oleh laki-laki (Philipus Lodo) dan berujung pada pertengkaran dalam rumah tangga. Sementara, “ia (Jesica) telah menyeruput dan merasa kopi buatannya adalah kopi terbaik” (hlm. 46).</p>
<p>Dalam cerpen ini juga, Selo menggunakan teknik alur mundur. Selo mengisahkan perceraian antara ayah dan ibu Jesica terjadi karena hal yang sama: kopi buatan ibunya yang tidak enak. Pernyataan lengkap berbunyi demikian:</p>
<p>“Ayahnya (Jesica) marah-marah karena kopi buatan ibunya tidak sesuai rasa ayahnya. Hampir tidak pernah ada pujian untuk ibunya. Hingga suatu pagi, ketika kejenuhan telah menumpuk dan menjadi sesak, ibunya memutuskan untuk meninggalkan ayahnya dan mereka bertiga. Ibunya pergi usai bertengkar begitu hebat dengan ayahnya di suatu pagi musim panas. ‘Kopi buatanku selalu tidak sesuai rasamu. Selalu saja salah, salah, dan salah! Tidak pernah sedikit pun engkau berterima kasih dan sedikit memuji.’ Ibunya meraung-raung di ruang makan…” (hlm. 49).</p>
<p>Dalam cerpen “Lelaki yang Ingin Menjadi Laut”, ada semacam sintesis di sana. Untuk meruntuhkan kisah laut yang kejam, si “Aku” memilih untuk mendengar nasihat dari Deran, kekasihnya, yang memintanya untuk mencitai laut; membongkar sekat pemisah yang dibuat ibunya agar akrab dengan suasana laut. Dan, akhirnya, si “Aku” memutuskan untuk ‘ingin menjadi laut’. Meskipun demikian, ketika pembaca mengarahkan pandangannya untuk melihat sosok Deran, ada semacam narasi perempuan yang kalah. Deran meninggal karena penyakit yang dideritanya (mungkin ini sejenis penyakit menular. Hal ini bisa dilihat dalam gambaran Deran yang tubuhnya kian kurus dari hari ke hari dan sakit-sakitan. Juga penyataan Dokter kepada si “Aku” tentang penyakit mematikan yang diderita Deran). Dan, penyebab kematian Deran yang diwanti-wanti mengidap penyakit menular inilah, orang-orang dekat menjauhi, menghindar, dan membentengi diri dari pergaulan dengan si “Aku” (bdk. hlm. 80). Dengan ini, pembaca bisa dikejutkan, ada semacam stigmatisasi yang menghasilkan diskriminasi bagi si “Aku” karena sang perempuan (Deran).</p>
<p>Narasi perempuan kalah juga dapat ditemui dalam cerpen “Warisan Sopir”. Meski dalam keadaan marah, sang istri (Maria) mesti akhirnya menuruti permintaan suaminya (si “Aku”) untuk membelikan mobil mainan bagi anak mereka (Petrus Pulo, seorang lelaki). Maria pun mesti mengalah ketika sang suami menginkan anaknya bercita-cita menjadi seorang sopir seperti keinginan suaminya, seperti status suaminya (bdk. hlm. 83-96).</p>
<p>Dalam cerpen “Jari Kecil Ari”, perempuan kalah digambarkan sebagai ibu dari si “Aku” yang berselingkuh dengan suami Rosa (kakak kandung sang ibu) dan mengandung Ari. Karena peristiwa ini, “Ibu hidup dalam cemoohan anggota keluarga dan masyarakat kampung kami. Namun, ia menerima semua itu dengan tabah yang kekal. Serupa ketabahannya memasrahkan diri kepada suami Rosa” (hlm. 100-101). Sebagaimana sebuah perselingkuhan, mengapa perempuan seorang diri yang mesti dihakimi? Bukankah perselingkuhan mengandaikan laki-laki dan perempuan? Pepatah kuno menjadi berkonteks di sini: sudah jatuh, tertimpa tangga lagi; sudah menyerahkan diri pada suami orang, dicemooh lagi.</p>
<p>Senada dengan cerpen di atas, “Ibu yang Merindu” juga memperkokoh kelemahan perempuan. Berbeda dengan Bang Sius (seorang ojek) yang mengetahui dengan baik jalan yang berkualitas dan tidak berkualitas, si “ibu” ditonjolkan sebagai tokoh yang tidak memahami apa-apa tentang situasi politik di daerahnya. Padahal, kondisi jalan yang rusak disebabkan karena pemerintah yang kurang bercus mengemban tanggung jawab dan amanat rakyat. Selo melukiskan demikian: “Namun, begitulah orang-orang yang tak paham politik yang ada… Apa yang mereka alami sekarang itulah perubahan, walau banyak kepalsuan. Maka, tak heran ibu selalu membanggakan pemimpin saat ini da sekaligus mendorongku untuk memilih pemimpin itu pada periode berikut” (hlm. 112).</p>
<p>Dalam “Tukang Cukur dan Bayangan Kenangan” juga dijumpai hal yang sama. Atas kerja sama busuk antara Philipus Lodo (Kepala Desa) dan dukun Bengko, istri om Banus (Vero Peni) dituduh sebagai orang yang menyantet anak Philipus Lodo sehingga meninggal. Berita bohong ini pun tersebar di tengah masyarakat dan Vero Peni menjadi korban pembunuhan (bdk. hlm. 125-128).</p>
<p>Dan, akhirnya cerpen “Perempuan Sekarat dalam Lukisan” menjadi babak akhir perempuan kalah. Selain dalam lukisan yang pada awalnya adalah seorang perempuan hamil dengan nuansa teduh dipandang mata tetapi pada akhirnya diubah menjadi sesosok perempuan yang mesti mati menggenaskan karena kekurangan oksigen, istri Urbanus digambarkan sebagai tokoh yang tidak memahami seni (bdk. hlm. 143).</p>
<p>Pelukisan perempuan kalah dalam kumpulan cerpen Selo ini tentu beralasan. Selain Selo menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang laki-laki dalam berbagai cerpen, situasi di kampungnya memang terjadi demikian. Perempuan selalu melayani laki-laki. Dan, ini dianggap sebagai sesuatu yang natural terjadi. Selo pun menulis apa adanya, tanpa tedeng aling. Selo menulis realitas yang terjadi di kampungnya.</p>
<p>Namun, pertanyaan gugatan yang mesti diajukan adalah: Bukankah hal yang biasa ini menggambarkan diskriminasi atas perempuan?</p>
<p><strong>Menulis: Kreatif dan Provokatif</strong></p>
<p>Saya hendak membuat semacam simpul yang menghubungkan antara penulisan buku ini dan isi yang sudah dibahas sebelumnya dengan memberikan perspektif baru dalam menulis: kreatif dan provokatif.</p>
<p>Menulis itu sebuah megaproyek raksasa yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan. Oleh karena itu, sebelum menulis, hal pertama yang mesti dilakukan adalah membaca. Sebab, orang tidak bisa menulis dari sebuah ruang hampa, dari kekosongan, dari alam yang antah berantah. Orang mesti membaca lebih dulu.</p>
<p>Patut diketahui, membaca yang dimaksudkan di sini tidak sekadar membaca buku sebagai sebuah jendela dunia. Lebih dalam, aktus membaca mesti sampai pada tahap membaca tanda-tanda zaman. Tanda zaman ini teakomodasi dalam realitas sehari-hari. Realitas ini acapkali dibiarkan begitu saja, bahkan dilupakan. Singkatnya, dengan aktus membaca, seseorang tidak terkekang dalam dunianya sendiri, merasa nyaman dengan menara gadingnya, serentak melupakan feomena yang terjadi setiap hari.</p>
<p>Pertanyaannya: Seusai membaca, apa? Menulis. Menulis bukan hanya bersifat <em>hic et nunc</em> (sini dan kini), melainkan proyek berkelanjutan. Penegasan Pramoedya Ananta Toer sebelumnya menjadi penanda bagi kita: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.</p>
<p>Untuk merealisasikan hal tersebut, menulis itu seumpama dua bagian dari mata uang logam yang sama: kreatif, serentak provokatif. Dikatakan kreatif karena dengan menulis, seseorang berusaha menghidupkan dan menuangkan ide-ide dalam bentuk kata-kata. Ide tidak terkurung dan mati dalam dirinya. Ide berbuah dalam kata-kata. Ide menghasilkan refleksi kritis atas sesuatu. Setiap orang yang berhasil menulis, ia berhasil mengembangkan potensi kreatif dalam dirinya.</p>
<p>Selain dimensi kreatif, menulis juga merupakan sebuah aktus provokatif. Provokatif di sini lebih dipahami sebagai sebuah katarsis; sebuah tindakan pembersihan jiwa. Katarsis akan membawa manusia pada perenungan lebih lanjut mengenai makna dan tujuan hidup yang telah dijalani (Ahmad Norma: 2017, hlm. xxi). Menulis adalah tindakan provokatif untuk menegakan <em>bonum commune</em>; provokatif artinya sebuah ikhtiar keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Hemat saya, buku “Penggali Sumur” karya Selo mengandung dua dimensi ini: kreatif dan provokatif. Kreatif karena Selo mampu menulis dengan sangat teliti keseharian hidup masyarakat dengan gaya bahasa yang memungkinkan publik melihat menikmati cerita yang ada. Dengan gaya bahasa yang akurat, Selo mampu mengangkat kebaikan-kebaikan lokal yang ada untuk direnungkan kembali oleh pembaca di tengah gempuran arus globalisasi.</p>
<p>Sementara itu, “Penggali Sumur” merupakan sebuah karya provokatif karena membuka kemungkinan perdebatan publik yang lebih luas. Selo mengajak kita untuk membaca sembari merenungkan kembali realitas yang terjadi di tengah masyarakat kita. Apakah konstruksi sosial yang dibuat masyarakat masih relevan dengan situasi saat ini?</p>
<p>Atas dasar dua kebajikan dari menulis (kreatif, serentak provokatif), saya melihat buku “Penggali Sumur” karya Selo Lamatapo adalah sebuah jembatan yang mampu mengantar masyarakat kita bertumbuh dalam kecakapan dan budaya kritis. Dengan itu, sebagai sebuah karya untuk keabadian, Selo mengajak kita untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama (<em>bonum commune</em>) di negeri tercinta ini.</p>
<p>Akhirnya, di hadapan “Penggali Sumur”, kita bertanya: Sudahkah kita menggali kedalaman hidup masyarakat di sekitar kita?***</p>
<p>Kontributor Media Edukasi Indonesia :<strong> Krispinus Ibu</strong></p>
<p>The post <a href="https://mediaedukasi.id/penggali-sumur/">Kekuatan Memahami dan Perempuan-Perempuan Kalah dalam “Penggali Sumur”</a> appeared first on <a href="https://mediaedukasi.id">Media Edukasi Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaedukasi.id/penggali-sumur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Liku Cinta dalam Novel ”Hujan Bulan Juni”</title>
		<link>https://mediaedukasi.id/hujan-bulan-juni/</link>
					<comments>https://mediaedukasi.id/hujan-bulan-juni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Media edukasi Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2022 18:17:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku populer]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi buku]]></category>
		<category><![CDATA[review buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaedukasi.id/?p=1820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karya sastra – termasuk novel – merupakan sebuah karya imajinatif dari seorang pengarang yang berusaha...</p>
<p>The post <a href="https://mediaedukasi.id/hujan-bulan-juni/">Menyusuri Liku Cinta dalam Novel ”Hujan Bulan Juni”</a> appeared first on <a href="https://mediaedukasi.id">Media Edukasi Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karya sastra – termasuk novel – merupakan sebuah karya imajinatif dari seorang pengarang yang berusaha memaparkan sebuah cerita rekaan yang mengandung pesan, pengalaman, dan pelajaran hidup yang tertuang dalam estetika bahasa yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas dari segala lapisan. Tulisan ini tidak berpretensi sebagai telaah sastra yang mendalam, namun lebih merupakan sebuah paparan populer penulis tentang isi novel mahakarya almarhum Sapardi Djoko Damono (SDD).</p>
<p>Diharapkan melalui tulisan ini, para penggemar sastra dapat lebih memahami paduan khayalan, mimpi, pergumulan, perjuangan, dan realitas yang dialami oleh para tokoh dalam novel <em>Hujan Bulan Juni</em> karya SDD. Di samping itu, melalui tulisan ini, penulis berniat menggugah masyarakat awam  untuk mengapresiasi beragam karya sastra, terutama  yang ditulis oleh para sastrawan ternama Indonesia. Melalui buah karya merekalah, kita semua boleh semakin mengasah wawasan kehidupan dan mengambil pelajaran serta hikmah berharga bagi kemajuan dunia sastra di tanah air tercinta.</p>
<p>Teriring salam dan hormat penulis kepada pujangga kesayangan, Eyang Sapardi Djoko Damono.</p>
<p><strong>Karya cipta fenomenal</strong></p>
<p>Tak syak lagi. Boleh dikatakan sebagian besar penggemar jagat sastra Indonesia sudah mengenal nama besar Sapardi Djoko Damono. Beliau lahir di Solo, 20 Maret 1940. Sejak usia muda Sapardi memang sudah gemar membaca dan menulis. Berprofesi sebagai guru besar pensiun di Universitas Indonesia. Beliau juga memberikan bimbingan bagi mahasiswa pascasarjana di Universitas Indonesia, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, dan Institut Seni Indonesia di Solo.</p>
<p>Kepiawaiannya dalam dunia sastra telah membuahkan berbagai penghargaan bergengsi, seperti Cultural Award (1978), Anugerah Puisi Putra (1983), Hadiah Sastra (1984), SEA-Write Award (1986), Anugerah Seni (1990), Kalyana Kretya (1996), Satyalencana Kebudayaan (2002), Khatulistiwa Literary Award (2004), dan Penghargaan untuk Pencapaian Seumur Hidup dalam Sastra dan Pemikiran Budaya (2012) dari Akademi Jakarta.</p>
<p>Seperti kita ketahui, novel <em>Hujan Bulan Juni</em> itu berawal dari puisi yang berjudul sama. Begitu populernya puisi ini, sehingga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Tagalog, Jepang, Arab, Italia, Rusia, Portugis, Korea, Mandarin, Thai, Malaysia, Urdu, Jawa, dan Bali. Puisi ”Hujan Bulan Juni” telah melambungkan nama SDD di jagat perpuisian yang penuh dengan nuansa romantisme, keteduhan, dan keindahan dalam kesederhanaan, tetapi mengandung makna mendalam.</p>
<p>Karya puisi 3 bait dan 12 baris ini ditulis pada tahun 1989 (sesuai dengan tarikh yang tercantum pada buku <em>Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak </em>terbitan PT Gramedia Pustaka Utama). Lalu dibuat versi novelnya yang terdiri dari 135 halaman pada 2015, dan kemudian dibuat versi layar perak dengan durasi 106 menit 45 detik pada 2017. Sungguh sebuah karya cipta fenomenal yang patut diacungi jempol.</p>
<p>Sejauh yang penulis ketahui, ”Hujan Bulan Juni” merupakan satu-satunya puisi karya pujangga Indonesia yang pernah dialihrupakan menjadi novel serta film. Dan yang tak kurang menarik, puisi ini juga diejawantahkan dalam bentuk musikalisasi. Aransemen musiknya  digubah oleh M. Umar Muslim, kemudian direkam-nyanyikan oleh Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Lagu tersebut merupakan salah satu materi unggulan dalam album musikalisasi puisi berjudul ”Hujan Bulan Juni” yang pembuatannya disponsori oleh Ford Foundation. Album itu sempat beberapa kali dirilis ulang karena laku keras di pasaran.</p>
<p>Inilah pertama kali dalam sejarah sastra Indonesia, satu karya sastra tergelar dalam empat rupa. Dengan demikian, tidaklah berlebihan bila ”Hujan Bulan Juni” penulis sebut sebagai karya yang fenomenal. Bahkan secara pribadi, dengan segala hormat penulis menjuluki SDD sebagai ’Pangeran Romantisme Sastra Indonesia.’</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Benang merah</strong></p>
<p>Selain menguasai bidang sastra, SDD juga memiliki kemampuan di bidang seni tari, seni mendalang, bermain gitar, dan bermain drama. Jadi, tak mengherankan bila dalam novel <em>Hujan Bulan Juni</em> ini banyak digunakan latar belakang budaya Jawa serta beberapa jenis kesenian yang pernah digelutinya.  Di dalam novel, misalnya, disebutkan bahwa tokoh Lingkan berlatih menari Jawa. Juga muncul istilah <em>gendhing</em>, <em>ketawang</em>, dan <em>ladrang</em> dalam seni karawitan Jawa. Tak ketinggalan pula penyebutan nama tokoh wayang seperti Sembadra dan nama khas perempuan Jawa, Pariyem, sebagai bahan candaan tokoh utama, Sarwono, kepada kekasihnya, Lingkan.</p>
<p>Di samping diwarnai dengan bahasa Jawa, novel juga diwarnai dengan bahasa Menado, bahasa Jepang, dan bahasa Inggris. Benar-benar sebuah novel multibahasa.</p>
<p>Sebagai seorang pujangga dengan jiwa kepenyairan yang kental, Sapardi tak lupa pula menyerakkan sejumlah puisi dan kalimat puitis dalam novel ini. Dalam kaitan dengan hal tersebut, penulis berusaha untuk mencari benang merah yang menghubungkan puisi dengan novel <em>Hujan Bulan Juni</em>.</p>
<p>Bagi penulis, puisi ”Hujan Bulan Juni” itu melambangkan sesuatu yang langka yang diharapkan untuk terjadi. Meski dalam musim kemarau, pohon juga memerlukan siraman air hujan agar tetap hidup. Pohon memerlukan kesabaran dalam penantian jatuhnya hujan, dan penantian itu perlu dibekali dengan ketabahan, kebijakan, dan kearifan.</p>
<p>Apakah ketiga bekal penantian ini menjadi benang merah yang menghubungkan karya puisi dengan novel? Kalau jawabnya ’ya,’ lalu terkait dengan peristiwa langka apa? Atau jangan-jangan, judul novel yang dibuat sama persis dengan judul puisi yang telah lebih dahulu terkenal itu, hanya sekadar <em>gimmick</em> untuk pemikat dan <em>penglaris</em> belaka?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Puisi adalah medium</strong></p>
<p>Novel ini mengisahkan seorang pemuda sederhana dan pandai yang bernama Sarwono, berasal dari keluarga muslim. Dia seorang dosen muda antropologi di Universitas Indonesia, dibesarkan dan tinggal di Solo. Seorang pemuda yang cerdas, berjiwa sufi, sangat menyukai puisi, dan acap kali mengisi rubrik puisi di sebuah koran sore. Sarwono percaya bahwa inti kehidupan itu adalah komunikasi dan komunikasi itu inti kehidupan. Dia juga percaya bahwa komunikasi itu merupakan medium, yang bisa bermakna <em>shaman</em> atau dukun – yang menghubungkan antara orang hidup dan orang mati. Akan tetapi, dia sendiri tak percaya kepada dukun. Dia percaya bahwa puisi itu adalah <em>shaman</em>, yang bisa menjadi alat komunikasi antara dua orang yang terpisah jarak sejauh apa pun. Sosok yang tidak percaya dengan ini, tetapi percaya bahwa ini adalah itu. Nah cukup rumit, bukan?</p>
<p>Medium puisi inilah yang sering digunakan Sarwono untuk mengungkapkan isi hatinya kepada kekasihnya, Pingkan. Pujaan hatinya ini seorang perempuan berdarah blasteran Jawa-Menado, cantik dan cerdas, berasal dari keluarga yang memeluk agama Kristen. Pingkan berprofesi sebagai dosen muda di Prodi Jepang, UI. Wah, tampaknya cerita bakal mengerucut pada konflik hubungan asmara karena perbedaan agama? Harap bersabar, ya pembaca yang budiman.</p>
<p>Sejak awal cerita, SDD telah menggunakan frasa ’hujan,’ sebuah frasa yang sering – kalau tak bisa dibilang terlalu sering – digunakannya dalam sejumlah karya puisinya, dan kali ini dibawanya pula dalam novelnya. Entah apa alasannya. Mungkin karena hujan itu merupakan simbol kesejukan yang mendatangkan nuansa romantis. Mungkin karena hujan merupakan peristiwa yang sangat dirindukan di tengah kerontangnya musim kemarau. Apalagi hujan di bulan Juni yang kemarau itu sangat langka (pada saat puisi tersebut ditulis, belum terjadi pemanasan dan perubahan cuaca secara global). Mungkin juga karena faktor lain yang hanya Sapardi yang mampu menjawabnya dengan tepat. Yang jelas, frasa ’hujan’ sudah melekat erat, sekaligus menjadi simbol dan karakter bagi sosok sastrawan termasyhur ini. Hal ini sejalan dengan frasa ’jalang’ yang melekat pada sosok Chairil Anwar, frasa ’sunyi’ pada diri Amir Hamzah, frasa ’senja’ pada diri Seno Gumira, dan frasa ’celana’ pada diri Joko Pinurbo. Stigma frasa ini memang suatu keniscayaan yang tak terpisahkan dari sosok para sastrawan tersebut di atas.</p>
<p>Tampaknya Sapardi melalui novelnya yang satu ini ingin membangun konflik yang terjadi karena perbedaan kota asal tempat tinggal, budaya, keturunan, dan agama lewat hubungan Sarwono-Pingkan. Keempat faktor perbedaan ini sebenarnya tidak menjadi persoalan bagi pelaku utama, yakni Sarwono dan Pingkan. Akan tetapi, dalam perjalanan cinta mereka, hal ini menjadi persoalan rumit karena pengaruh orang-orang di sekitar mereka. Sebenarnya pasangan kekasih ini telah lama kenal satu dengan yang lain, karena Toar – kakak Pingkan – adalah teman sekolah Sarwono. Pemuda bertubuh kerempeng dan suka batuk-batuk ini acap kali berpura-pura belajar bersama dengan Toar, padahal sebenarnya ia ingin berdekatan dengan Pingkan. Ternyata cinta Sarwono itu tak bertepuk sebelah tangan, meskipun dia sering diejek Pingkan sebagai pemuda cengeng, karena isi puisinya yang sok romantis. Sarwono justru merasa senang bila dicap sebagai pemuda cengeng oleh Pingkan. Begitulah kalau cinta sudah melekat, biar empedu juga terasa cokelat. Semuanya serbanikmat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Timbulnya konflik  </strong></p>
<p>Dari apa yang dituturkan dalam novel, penulis tidak menangkap adanya konflik beda kota asal, budaya, agama ataupun keturunan dari pihak orang tua Sarwono, juga dari ibu Pingkan. Ibu ini juga memiliki nama Jawa, yakni Hartini – tetapi lebih sering dikenal sebagai Ibu Pelenkahu (nama marga almarhum suaminya).</p>
<p>Ibu Pingkan ini keturunan Jawa yang lahir di Makasar, sedangkan ayah Pingkan asli Menado. Ayah dan ibu Pingkan berbeda dalam keturunan dan agama, tetapi hubungan mereka berjalan mulus-mulus saja, tidak ada konflik yang berarti. Jadi mengapa hubungan Sarwono-Pingkan harus diwarnai konflik? Apakah toleransi sudah mulai berkurang dibandingkan era yang disebut sebagai zadul (zaman dulu) oleh Pingkan untuk mengejek (tapi mesra) Sarwono? Inilah yang hendak dikemukakan oleh Sapardi dalam novelnya.</p>
<p>Konflik justru bersumber dari pihak keluarga besar Pingkan, terutama dari Benny – sepupu Pingkan – dan Tante Henny (ibu Benny). Tante Henny dan tante-tante Pingkan yang lain ingin menjodohkan Pingkan dengan Pak Tumbelaka yang ganteng, dosen muda UNSRAT (halaman 68). Kalau Pingkan menikah dengan dosen ganteng ini, dia harus mengajar di UNSRAT, padahal dia hanya ingin mengajar di UI. Sedangkan ibu Pingkan sendiri menginginkan anaknya tidak dijodohkan dengan pria lain selain Sarwono. Nah, <em>loh</em>!</p>
<p>Penulis – yang awam dalam masalah adat istiadat Menado – bertanya-tanya apakah benar peran keluarga besar di Menado itu begitu besar pengaruhnya dalam pernikahan seseorang yang bukan darah dagingnya langsung? Bukankah seharusnya cukup dengan izin dan persetujuan orang tua calon mempelai dari kedua belah pihak? Mengapa konflik yang sama tidak terjadi sewaktu ayah dan ibu Pingkan menikah? Bukankah ayah dan ibu Pingkan itu beda keturunan dan beda agama? Mengapa kebahagiaan mereka dalam perbedaan tak dijadikan suri teladan?</p>
<p>Oke-lah, Benny waktu itu belum lahir atau masih bocah, sehingga tidak bisa nyinyir dan protes; tetapi Tante Henny kan sudah dewasa? Mengapa waktu itu si tante tak menyatakan ketidaksetujuannya atas pernikahan ayah-ibu Pingkan yang beda keturunan dan beda agama? Dari mana penulis tahu kalau si tante tidak melakukan protes? Ah … gampang, dari terjadinya pernikahan antara ayah dan ibu Pingkan yang kemudian melahirkan Toar dan Pingkan.</p>
<p>Tentang Benny. <em>Ngerti</em> apa Benny tentang isi hati insan jatuh cinta? Bukankah yang dia tahu cuma ladang dan ladangnya saja? Dunia maya yang tengah marak dan digandrungi banyak orang pun dia tak tahu dan juga tak ingin tahu (halaman 49), apalagi dunia anak muda yang sedang jatuh cinta. Apakah Benny pernah jatuh cinta kepada perempuan?  Apa dia benar-benar mampu memahami dan menyelami perasaan orang yang sedang jatuh cinta? Jangan-jangan, nasihatnya kepada Pingkan untuk menjauhi Sarwono – yang diselingi dengan isyarat gerakan tangan seperti sedang mengenakan jilbab – itu hanya merupakan bentuk kecemburuan karena dirinya belum memiliki pacar. Lebih baik Benny menekuni studinya karena sudah 7 tahun tak lulus-lulus di UNSRAT. Dia sering membolos dan tak merasa sesuai dengan suasana kampus.</p>
<p>Hobinya bertualang dan ingin kabur ke Amerika ikut Tante Wenas (halaman 67).  Anehnya, di halaman 49 Benny digambarkan sebagai belalang ladang yang tak mau beranjak dari ladangnya. Dengan membandingkan kedua halaman ini, penulis mendapati sebuah kontradiksi yang cukup absurd. Sapardi tidak konsisten dalam menggambarkan watak tokoh Benny dalam novelnya. Sebetulnya, anak muda ini ingin menjadi belalang di ladang atau ingin kabur ke Amerika? Bagaimana mungkin kedua sifat yang bertolak belakang ini bisa berada dalam diri satu orang? Ah, mungkin, perjalanan waktu telah mengubah pikirannya.</p>
<p>Argumentasi Sapardi untuk membangun konflik karena beda keturunan dan agama juga terlalu lemah, banyak bolong, dan ketidakkonsistenan dalam jalan ceritanya. Mengapa, misalnya, tak dikisahkan dialog intens antara Pingkan dan ibunya tentang rencana pernikahan? Bukankah hal ini menyangkut peritiwa penting dalam hidup seseorang? Secara tersirat memang ada, sehingga Pingkan memberi tahu kepada Sarwono bahwa ibunya ingin berbicara kepadanya. Sementara, pihak orang tua Sarwono menyerahkan sepenuhnya masalah pernikahan kepada Sarwono. Dialog intens justru terjadi antara Sarwono dan ibu Pingkan. Bu Pelenkahu menyetujui Sarwono menjadi menantunya (halaman 86).</p>
<p>Apakah konflik ini sebenarnya terjadi karena faktor beda zaman dan beda pola pikir? Mungkinkah ini adalah konflik yang terlalu dicari-cari oleh Sapardi agar jalan cerita menjadi lebih menarik?</p>
<p>Namun demikian, ada juga konflik yang sangat masuk akal yang menjadi salah satu kelebihan novel ini. Konflik ini timbul ketika Pingkan hendak berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studi. Masalahnya di Kyoto sana, terdapat dosen muda <em>sontoloyo</em> Katsuo yang sempat akrab dengan Pingkan sewaktu pemuda Jepang ini mengikuti Program Pascasarjana di UI, tempat Sarwono dan Pingkan mengajar.</p>
<p>Katsuo mempelajari sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. Pingkan pernah memberi tahu Sarwono bahwa Katsuo telah menjadi dosen muda di Universitas Kyoto, tempat Pingkan bakal studi. Meski Sarwono telah berjanji untuk menikahi Pingkan, siapa <em>sih</em> yang tak khawatir jika kekasih cantik dan cerdasnya itu ditaksir oleh lelaki lain? Lelaki normal mana yang tak tertarik dengan kecantikan dan kecerdasan Pingkan? Apalagi kalau si lelaki itu sebelumnya pernah menaruh hati kepada Pingkan. Sudah sewajarnya bila Sarwono khawatir kalau di Jepang mungkin saja terjadi cinta lama yang bersemi kembali, sehingga cinta di Indonesia jadi terlupakan. Bukankah hati manusia itu sulit diduga dan suka berubah? Dan bukankah ada pepatah Inggris yang mengatakan ’<em>out of sight, out of mind</em>’? Sarwono yang sangat terpelajar serta berpengetahuan luas, pasti kenal benar pepatah tersebut. Lagi pula siapa yang berani menjamin hati Pingkan tak bisa berpindah ke lelaki lain? Siapa pula yang berani menjamin si <em>sontoloyo</em> itu tak mampu merebut hati Pingkan?</p>
<p>Sarwono berada di posisi buah simalakama – buah yang tak diketahui bagaimana rupa dan rasanya – karena di satu pihak dia menginginkan Pingkan maju dan tetap berada di sampingnya, tapi di lain pihak ia dilanda cemburu plus kekhawatiran kalau-kalau Pingkan disambar lelaki lain ketika studi di Negeri Sakura. Dia mungkin juga ragu apakah dia mampu menahan rindu selama dua tahun, meski sarana WA dan Skype dapat digunakan setiap waktu.</p>
<p>Dia mungkin juga takut kesaktian <em>shaman</em> puisinya jadi luntur akibat kekhawatirannya. <em>Shaman</em> puisinya boleh jadi juga tetap sakti, tetapi jarak kan selalu menciptakan rindu. Dan bukankah rindu itu selalu menuntut temu muka, bukan sekadar menatap wajah kekasih lewat layar gawai? Sehebat-hebatnya seorang yang berjiwa sufi, toh memiliki titik lemah juga, apalagi dalam menghadapi keruwetan masalah cinta. Berbagai persoalan dan kekhawatiran tak hentinya menggelayuti pikiran sang sufi sekaligus penyair Jawa – yang bertubuh kerempeng, suka batuk-batuk, dan mengidap flek paru-paru – yang sedang terbakar bara api asmara.</p>
<p>Di bagian konflik ini, penulis harus mengakui bahwa Sapardi berhasil menuangkannya secara apik dan cantik. Pengalaman Sapardi dalam memberikan kuliah dan bimbingan sastra kepada banyak mahasiswa menjadi modal yang sangat penting dan berharga untuk menggarap novel yang satu ini. Dan tentu saja, kepiawaian Sapardi dalam menciptakan bait-bait puisi penuh pesona – yang dituangkan melalui puisi Sarwono – ikut mendukung keindahan novel ini, meskipun terkadang maknanya terlalu dalam dan tak bisa dipahami sepenuhnya oleh pembaca awam.</p>
<p><strong>Bukan gambaran keseluruhan</strong></p>
<p>Meski penulis telah memaparkan garis besar novel <em>Hujan Bulan Juni</em>, bukan berarti penulis telah membeberkan gambaran cerita secara keseluruhan. Mengapa? Karena novel ini hanya merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi. Untuk mengetahui liku cerita secara paripurna, Anda perlu menuntaskannya dengan membaca bagian kedua dan ketiga yang telah diterbitkan. Bagian kedua trilogi berjudul <em>Pingkan Melipat Jarak</em>, sedangkan bagian ketiga berjudul <em>Yang Fana Adalah Waktu</em>.</p>
<p>Bagaimana nasib akhir tokoh-tokohnya? <em>Happy ending</em>, <em>sad ending </em>atau<em> ending </em>yang terbuka? Untuk mengetahuinya, Anda perlu membaca ketiga trilogi secara keseluruhan. Pendek kata, segala bentuk akhir cerita dimungkinkan untuk terjadi, karena semuanya bergantung kepada kreativitas sang dalang. Tak pelak, SDD adalah dalang yang kepiawaian dan kreativitasnya tak perlu diragukan lagi di jagat sastra. Sapardi, <em>gitu loh</em>!</p>
<p>Kontributor Media Edukasi Indonesia : <strong>Budianto Sutrisno</strong></p>
<p>The post <a href="https://mediaedukasi.id/hujan-bulan-juni/">Menyusuri Liku Cinta dalam Novel ”Hujan Bulan Juni”</a> appeared first on <a href="https://mediaedukasi.id">Media Edukasi Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaedukasi.id/hujan-bulan-juni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
