<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tidak ada ide dalam menulis - Media Edukasi Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaedukasi.id/topik/tidak-ada-ide-dalam-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaedukasi.id/topik/tidak-ada-ide-dalam-menulis/</link>
	<description>Portal Edukasi Terbaik di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Apr 2022 05:14:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://mediaedukasi.id/wp-content/uploads/2022/02/cropped-logo-pt-mei-32x32.png</url>
	<title>tidak ada ide dalam menulis - Media Edukasi Indonesia</title>
	<link>https://mediaedukasi.id/topik/tidak-ada-ide-dalam-menulis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Blank of Idea Dalam Proses Menulis</title>
		<link>https://mediaedukasi.id/blank-of-idea-dalam-proses-menulis/</link>
					<comments>https://mediaedukasi.id/blank-of-idea-dalam-proses-menulis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Media edukasi Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2022 05:14:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tidak ada ide dalam menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaedukasi.id/?p=2009</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menulis. Banyak sudah jargon, adigum, quote, dan ungkapan bijak lain tentang keutamaan dan kemanfaatan menulis...</p>
<p>The post <a href="https://mediaedukasi.id/blank-of-idea-dalam-proses-menulis/">Blank of Idea Dalam Proses Menulis</a> appeared first on <a href="https://mediaedukasi.id">Media Edukasi Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Menulis. Banyak sudah jargon, adigum, </span><i><span style="font-weight: 400;">quote</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan ungkapan bijak lain tentang keutamaan dan kemanfaatan menulis yang tidak hanya berdimensi seni tapi juga ekonomi dan sosial.  Dan khusus buat saya, menulis bukan hanya sambilan tapi adalah cara saya dalam menyatakan eksistensi diri. Bukan sekedar menerakan kata per kata tapi juga ada profesionalisme serta tanggungjawab secara moral karena apa yang kita tulis adalah cermin dari isi kepala yang menerakan apa yang kita “makan”. Ketika karyamu di</span><i><span style="font-weight: 400;">publish, </span></i><span style="font-weight: 400;">ia akan menjadi hewan buas liar yang siap menerkam siapa saja lalu tinggalkan jejak kesakitan, kemarahan, kebencian atau justru rasa cinta dan sepahaman. Karena itu, persiapkan mental dan alasan logis empiris jika diperlukan sebagai wujud tanggungjawab profesional atas apa yang Anda tulis. Jika mampu melaluinya, maka selamat untuk Anda!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dibalik kemegahan itu dari menulis, ada banyak masalah dan kendala dalam prosesnya. Salah satu momok yang menghadang adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">blank of idea</span></i><span style="font-weight: 400;">; </span><i><span style="font-weight: 400;">bad mood</span></i><span style="font-weight: 400;">; ilham hilang entah kemana, dan lain-lain, dan lain-lain. Mirisnya, tenggat semakin mendekat namun kalimat bahkan kata tak satupun terbuat!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mungkin Anda sudah menyiapkan diri. Menutup pintu kamar atau ruang kerja rapat-rapat. Membuat minuman hangat, menyalakan komputer—</span><i><span style="font-weight: 400;">desk</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">lap</span></i><span style="font-weight: 400;">—</span><i><span style="font-weight: 400;">top</span></i><span style="font-weight: 400;"> hingga posisi </span><i><span style="font-weight: 400;">standby</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan layar putih bersih siap diisi. Tak sedikit pula yang menyetel lagu romantis bervolume lembut untuk menghantar kinerja otak dan jemari dalam proses menyusun maha karya. Namun apa lacur, 1-2-3 jam tetap saja layar </span><i><span style="font-weight: 400;">word processor</span></i><span style="font-weight: 400;"> Anda tak ada satu pun notkah; kosong, putih bersih!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tak sekali dua saya pun mengalami kondisi seperti itu. Padahal semua persiapan dilakukan namun ide tak kunjung muncul. Paragraf, kalimat, bahkan satu kata pun tak melintas untuk diketikkan di layar monitor laptop. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menyiasati kondisi raibnya si ilham, saya punya pengalaman yang beranjak dari ide yang diketemukan saat membaca sebuah artikel lawas sekian tahun silam (lupa kapan dan dimana artikel itu tayang). </span><i><span style="font-weight: 400;">Entry point</span></i><span style="font-weight: 400;">nya adalah kisah mengatasi </span><i><span style="font-weight: 400;">blank of ideas</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh pentolan group band asal Amerika Serikat yang tenar selain sebagai vokalis juga komposer. Penyanyi-penyanyi pop top dunia sering minta dibuatkan lagu dan sebagian besar nge</span><i><span style="font-weight: 400;">hits</span></i><span style="font-weight: 400;">.  Konon, saat dikejar </span><i><span style="font-weight: 400;">deadline</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena janjinya membuatkan lagu, David Foster memaksakan diri masuk ke ruang studio musiknya. Menyalakan alat rekam kemudian memainkan semua alat musik dari </span><i><span style="font-weight: 400;">drum</span></i><span style="font-weight: 400;">, piano, </span><i><span style="font-weight: 400;">keyboard</span></i><span style="font-weight: 400;">, gitar, bass, melodi, pokoknya segala alat musik yang ada, tulis artikel tersebut. Dan semua dimaankan tanpa aturan, tanpa acuan. Mengalir mengikuti hati dan naluri. Berjam-jam ia mainkan semua alat itu sambil direkam. Setelah puas, ia mematikan alat rekam, mengunci pintu studio lalu tidur. Esoknya, ia kembali ke studio untuk mendengarkan hasil rekaman kemarin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suara dari alat-alat musik yang dimainkan memang tak beraturan namun perlahan-lahan ia menemukan beberapa nada yang teratur meski sebentar. Nada itu dipindahkan ke alat rekam lainnya kemudian meneruskan mendengar hasil rekaman. Kembali menemukan nada, dipindah dan dengarkan lagi rekaman. Demikian seterusnya hingga menemukan banyak nada yang kemudian disatukan menjadi rangkaian nada yang menjadi intro, bait, </span><i><span style="font-weight: 400;">refrain</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau sekedar </span><i><span style="font-weight: 400;">bridge</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">interlude </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai bagian dari struktur lagu sehingga lebih mudah untuk dikembangkan. Jika masih belum puas, David Foster memulai lagi dari awal, memainkan semua alat musik dan merekam lalu mendengarkannya. Dan percaya atau tidak, lagu yang membuat Madonna terkenal di era 90an adalah hasil dari proses pencipaan yang seperti itu. pernah dengar Material Girls yang lekat dengan julukan Madonna?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya coba metode David Foster. Sebagai alat rekam adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">dekstop</span></i><span style="font-weight: 400;"> (laptop masih barang langka dan mahal era 90an). Save adalah modus rekamnya. Dengan aplikasi </span><i><span style="font-weight: 400;">wordstar</span></i><span style="font-weight: 400;">, naskah diketik. Menulis apa saja yang terlintas. Berantakan. Mana awal mana akhir. Tak peduli </span><i><span style="font-weight: 400;">nyambung</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau tidak, terus saya muntahkan semua perbendaharaan kata dan kalimat yang terpikirkan di kepala. Kemudian </span><i><span style="font-weight: 400;">save</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan biarkan sehari dua baru saya buka lagi </span><i><span style="font-weight: 400;">file</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang judulnya pasti panjang (satu kalimat bahkan satu paragraf jadi judul </span><i><span style="font-weight: 400;">file </span></i><span style="font-weight: 400;">karena </span><i><span style="font-weight: 400;">gak</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">kepikiran k</span></i><span style="font-weight: 400;">asih nama </span><i><span style="font-weight: 400;">file</span></i><span style="font-weight: 400;"> saat proses </span><i><span style="font-weight: 400;">save</span></i><span style="font-weight: 400;">). Beberapa kalimat dan paragraf yang </span><i><span style="font-weight: 400;">nyambung</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau agak </span><i><span style="font-weight: 400;">nyambung</span></i><span style="font-weight: 400;"> disatukan sementara kalimat bagus tapi perlu kalimat penyambung atau perlu dikembangkan lagi, di</span><i><span style="font-weight: 400;">enter</span></i><span style="font-weight: 400;"> beberapa kali agar terposisi dibawah. Selesai. Simpan dan beberapa saat saya baca ulang dan perlahan, kalimat-dan paragraf kreatif bermunculan, sambung menyambung, dan jadilah artikel ini (judul </span><i><span style="font-weight: 400;">file</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang puanjang saya </span><i><span style="font-weight: 400;">screenshoot</span></i><span style="font-weight: 400;"> jika bukti diperlukan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, pengalaman ini yang ingin </span><i><span style="font-weight: 400;">share</span></i><span style="font-weight: 400;"> buat Anda semua yang mengalami </span><i><span style="font-weight: 400;">blank of ideas</span></i><span style="font-weight: 400;"> justru saat harus menulis. Tetap lanjutkan prosesnya. Teruslah menulis. Tulislah apa yang Anda rasakan. Kekecewaan, kemarahan, kesakitan, kebahagiaan, benci, cinta, kerinduan, keinginan, bahkan mungkin keputus asaan. Jangan pedulikan judul, apalagi konsep kata, kalimat atapun paragraf awal, akhir, atau sama sekali tak ada keterkaitan. Biarkan saja semua keluar, mengalir, dan tertera di layar </span><i><span style="font-weight: 400;">word</span></i><span style="font-weight: 400;">. Komputerisasi mempermudah kita nantinya untuk menyimpan atau membuang atau sebaliknya menyimpan kalimat atau paragraf  yang menurut Anda bagus untuk dikembangkan. Kemudian tutup layar monitor. Apa yang Anda rasakan? Ada rasa ringan’kan? Biarkan dulu beberapa ssaja untuk dinginkan pikiran dan perasaan. Setelah itu, barulah aktifkan lagi laptop atau </span><i><span style="font-weight: 400;">desktop</span></i><span style="font-weight: 400;">, buka </span><i><span style="font-weight: 400;">file</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang Anda ketik tadi lalu baca lagi dengan perlahan dan mulai lah proses memilah-pilah. Gunakan ide yang terlintas sebagai acuan dalam memilih kalimat dan paragraf. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mulai ada plot kah? Jika belum, coba ulangi lagi proses mengeluarkan semua </span><i><span style="font-weight: 400;">uneg-uneg</span></i><span style="font-weight: 400;"> tadi. Jika mulai ada plot, kembangkan dengan segala perbendaharaan kata yang Anda miliki untuk menghasilkan karya. Percaya lah dengan diri sendiri bahwa Anda bisa kreatif dalam situasi apapun karena seorang penulis, sudah saatnya meninggalkan metode cari ilham tapi biarkan ilham yang menemui. Memang tetap butuh proses. Dalam arti, tidak semudah yang Anda duga karena memulai sesuatu yang baru pastilah adalah proses pengenalan dan ujicoba. Itu biasa karena siapapun kita pada dasarnya adalah manusia pembelajaran yang terus belajar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayo menulis untuk eksistensi diri karena menulis juga menerakan keabadian. Saya sudah rasakan karena seorang temen mngonformasikan bahwa salah satu buku yang pernah saya sunting ternyata ada dan masih tersimpan rapi di Australia National Library (per Faberuari 2022) padahal disuntingnya tahun 2003!</span></p>
<p>Kontributor Media Edukasi Indonesia : <strong>Imam</strong><b> Suyudi</b></p>
<p>The post <a href="https://mediaedukasi.id/blank-of-idea-dalam-proses-menulis/">Blank of Idea Dalam Proses Menulis</a> appeared first on <a href="https://mediaedukasi.id">Media Edukasi Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaedukasi.id/blank-of-idea-dalam-proses-menulis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
