Menu

Mode Gelap
Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2026 20 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia Versi QS Asia 2026 Materi Belajar SD/MI Kelas 1 Kurikulum Merdeka Tips Mendidik Anak Menjadi Pelajar Berprestasi

Tips dan Trik · 13 Jun 2026 18:05 WIB ·

Trik Menghilangkan Stres dengan Cara Sederhana


Ilustrasi Rasa Stress (img: pexels.com by liza summer) Perbesar

Ilustrasi Rasa Stress (img: pexels.com by liza summer)

Pernah merasa pusing setengah mati setelah seharian dikejar deadline? Atau tiba-tiba gelisah tanpa alasan yang jelas setelah macet dua jam di jalan? Stres sudah seperti teman yang nggak diundang tapi sering banget mampir. Kabar baiknya, kita nggak harus selalu bertarung dengan cara-cara rumit atau mahal. Kadang, solusi paling ampuh justru berasal dari hal-hal kecil yang sehari-hari lewat begitu saja di depan mata.

Bernapas dengan Cara yang Berbeda

Kedengarannya terlalu sederhana, iya. Tapi coba hentikan aktivitas sejenak. Tarik napas dalam-dalam lewat hidung selama empat hitungan. Tahan empat detik. Keluarkan perlahan lewat mulut selama enam hitungan. Lakukan ini lima kali. Tubuh yang tegang karena stres biasanya terhubung dengan napas yang pendek-pendek. Dengan memperlambat ritme napas, sistem saraf mendapat sinyal untuk mulai tenang. Trik ini bisa dilakukan di mana saja di toilet kantor, di dalam mobil sebelum turun, atau bahkan saat antre kopi.

Kekuatan Jalan Kaki Tanpa Tujuan

Stres sering muncul karena pikiran terus menerus memproyeksikan masa depan atau meratapi masa lalu. Cara menjebak pikiran agar kembali ke saat ini? Jalan kaki. Tapi bukan jalan kaki dengan target langkah atau membakar kalori. Coba keluar rumah, lepas sandal kalau memungkinkan, dan rasakan tekstur tanah, rumput, atau ubin dingin di telapak kaki. Perhatikan apa yang ada di sekitar bentuk awan, suara burung, atau bahkan retakan di trotoar. Lima belas menit jalan tanpa tujuan ini anehnya membawa kepala kembali ke porosnya.

Menulis Sampai Hati Lega

Pernah nggak rasanya seperti ada yang mengganjal di dada tapi nggak tahu persis apa penyebabnya? Ambil secarik kertas dan tulis apa pun yang mampir di kepala. Nggak perlu puitis, nggak perlu runtut. Boleh marah-marah, boleh ngomel soal rekan kerja, atau sekadar menulis “aku capek banget hari ini” berulang-ulang. Setelah selesai, kertas itu bisa disobek, dilipat jadi pesawat, atau dibakar (hati-hati ya). Proses memindahkan kekacauan dari dalam kepala ke atas kertas ternyata punya efek terapeutik yang nyata.

Mengatur Ulang Kamar, Mengatur Ulang Pikiran

Ini terdengar seperti saran dari ibu, tapi coba saja. Luangkan dua puluh menit untuk membereskan satu area kecil meja kerja, laci baju yang minta ampun, atau sudut ruang tamu yang jadi tempat numpuk barang. Bukan untuk jadi rapi sempurna, tapi untuk memberi otak sesuatu yang bisa di kontrol. Stres sering diperparah oleh perasaan nggak berdaya. Melihat satu area berubah dari berantakan menjadi tertata memberikan rasa pencapaian kecil yang bisa menggeser fokus dari kecemasan.

Mematikan Layar Satu Jam Sebelum Tidur

Bukan berita baru memang, tapi seberapa sering benar-benar dilakukan? Layar ponsel, TV, dan laptop memancarkan cahaya biru yang menekan produksi melatonin hormon yang membantu tidur. Tapi lebih dari itu, konten yang dikonsumsi, entah berita buruk atau drama media sosial, ikut dibawa masuk ke alam bawah sadar. Coba ganti kebiasaan itu dengan aktivitas membosankan: meremas bola stres, mendengarkan musik instrumental, atau sekadar duduk di teras sambil minum teh hangat. Tubuh butuh waktu untuk melambat, bukan terus dipacu dengan informasi.

Perbanyak Pelukan dan Sentuhan Fisik

Manusia dirancang untuk merespons sentuhan. Pelukan selama dua puluh detik melepaskan oksitosin, hormon yang menurunkan kortisol (hormon stres). Kalau tinggal sendiri, nggak perlu cemas. Memeluk bantal guling, mengelus kucing atau anjing peliharaan, bahkan memijat tangan sendiri sambil mengoleskan lotion bisa memberikan efek serupa. Sentuhan fisik mengingatkan tubuh bahwa ada keamanan di sekitarnya, bahwa dalam momen ini, sedang baik-baik saja.

Kembali ke Dapur dengan Perlahan

Memasak sering di hindari karena dianggap merepotkan. Padahal proses memotong sayur, menumis bawang hingga harum, atau menguleni adonan roti bisa sangat meditatif. Ada kepastian di sana bawang yang ditumis akan layu, air yang di didihkan akan bergelembung. Hasil akhirnya pun bisa langsung di nikmati. Mulai dari yang paling mudah: merebus telur, membuat smoothie, atau meracik salad. Nggak perlu hidangan restoran. Yang penting tangan sibuk dan pikiran teralihkan.

Mengubah Suasana dengan Suara

Bukan musik keras untuk bergoyang, tapi suara-suara yang menenangkan. Hujan deras di atas atap seng, debur ombak, atau kipas angin yang berputar lambat. Aplikasi pemutar suara alam banyak yang gratis. Saat stres menyerang, pasang headphone, pilih suara favorit, dan duduk diam selama beberapa menit. Ini membantu menurunkan detak jantung yang biasanya ikut kencang saat pikiran kacau.

Tertawa, Pura-pura Pun Jadi

Tertawa terbahak-bahak jelas melepaskan endorfin. Tapi kalau sedang stres, biasanya malas untuk tertawa. Coba trik ini: paksakan tawa selama tiga puluh detik. Kedengarannya konyol, iya. Tapi anehnya, tawa palsu itu perlahan berubah menjadi tawa sungguhan karena mendengar bunyi tawa sendiri yang absurd. Atau tonton video lucu berdurasi pendek, yang benar-benar bisa bikin tergelitik. Tertawa mengubah kimia tubuh dalam hitungan menit.

Menyisihkan Waktu untuk Tidak Melakukan Apa-apa

Ini mungkin paling sulit di zaman yang mengagungkan produktivitas. Duduk di balkon tanpa ponsel, tanpa buku, tanpa target apapun. Hanya melihat langit. Atau berbaring di lantai ruang tamu sambil memperhatikan gerak lampu. Banyak orang menganggap ini buang-buang waktu. Padahal justru saat otak tidak disibukkan dengan tugas apapun, ia melakukan pemrosesan emosi dan memori yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Beri izin pada diri sendiri untuk “tidak produktif” selama lima belas menit. Dunia tidak akan runtuh.

Menjaga Ritme Makan dan Minum

Stres sering membuat orang lupa makan atau justru kalap menyantap makanan manis. Keduanya sama-sama memperparah kondisi. Usahakan makan dalam porsi kecil tapi teratur. Air putih jangan sampai kurang dehidrasi ringan saja sudah bisa menyebabkan suasana hati memburuk. Kalau ingin camilan, pilih yang nggak bikin gula darah naik turun drastis seperti kacang, yoghurt, atau pisang. Tubuh yang mendapat asupan stabil akan lebih kuat melawan tekanan mental.

Terakhir, yang paling penting: jangan menunggu stresnya memburuk baru bertindak. Cara-cara sederhana di atas paling mujarab saat dilakukan sebagai kebiasaan rutin, bukan obat darurat. Pilih dua atau tiga trik yang paling cocok, lalu lakukan setiap hari. Tubuh dan pikiran akan beradaptasi, dan perlahan, hari-hari yang semula terasa berat mulai terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena cara menghadapinya berubah.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Tips Mempersiapkan Diri Menghadapi Wawancara Kerja

13 Juni 2026 - 18:33 WIB

Cara Merawat Tanaman Hias agar Tetap Subur

13 Juni 2026 - 17:11 WIB

Tips Membeli HP Bekas agar Tidak Tertipu

10 Juni 2026 - 21:05 WIB

Cara Menabung Dana Darurat dengan Konsisten

10 Juni 2026 - 20:52 WIB

Tips atasi kebiasaan

Trik Menyusun Prioritas Pekerjaan agar Tidak Kewalahan

10 Juni 2026 - 19:23 WIB

Kuliah di tahun 2025

Tips Bangun Pagi tanpa Merasa Mengantuk

9 Juni 2026 - 20:09 WIB

Trending di Tips dan Trik