Gunung berapi selalu punya daya tarik tersendiri. Di satu sisi, ia menakutkan dengan letusan dahsyat yang bisa mengubah wajah bumi dalam sekejap. Di sisi lain, ia adalah mesin pembentuk daratan, penyubur tanah, dan sakbis bisu sejarah peradaban manusia. Banyak dari kita tahu gunung berapi itu panas dan bisa meledak, tapi ada fakta-fakta unik yang jarang diketahui. Yuk, kita bedah satu per satu.
Gunung Berapi Bisa “Bernapas” Seperti Makhluk Hidup
Pernah dengar istilah “deformasi gunung berapi”? Sebelum meletus, gunung berapi biasanya menggembung karena tekanan magma di dalam perutnya. Setelah letusan, tubuhnya mengempis lagi. Para ilmuwan menyebut proses ini sebagai inflasi dan deflasi—mirip banget seperti kita menarik dan menghembuskan napas. Di Gunung Merapi di Indonesia, misalnya, pemantauan deformasi dilakukan setiap hari menggunakan GPS dan alat tiltmeter. Kalau tiba-tiba gunung “bengek” alias menggembung cepat, itu pertanda bahaya.
Ada Gunung Berapi di Dasar Laut yang Lebih Besar dari Gunung Everest
Jangan bayangkan gunung berapi cuma ada di darat. Di dasar samudra, ada barisan gunung api bawah laut yang jumlahnya mencapai jutaan. Yang paling fenomenal adalah Mauna Kea di Hawaii. Mungkin banyak yang tahu Mauna Kea sebagai gunung tinggi di permukaan laut, tapi faktanya, kalau diukur dari dasar laut hingga puncaknya, tingginya mencapai 10.210 meter. Sebagai perbandingan, Everest cuma 8.848 meter dari permukaan laut. Artinya, Mauna Kea lebih tinggi dari Everest. Sayangnya, sebagian besar tubuhnya tenggelam di Samudra Pasifik.
Letusan Gunung Berapi Bisa Mengubah Iklim Global
Orang sering mikir letusan gunung api cuma bikin awan panas dan hujan abu. Padahal, efeknya bisa sampai ke seluruh dunia. Contoh paling terkenal adalah letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada tahun 1815. Letusannya begitu dahsyat, abu dan gas sulfur dioksida menyebar di atmosfer bumi, menghalangi sinar matahari. Akibatnya, tahun 1816 dikenal sebagai “Year Without a Summer” di Eropa dan Amerika Utara. Salju turun di bulan Juni, panen gagal total, dan kelaparan melanda banyak negara. Bisa dibilang, satu gunung di Indonesia bikin krisis global.
Gunung Berapi Paling Aktif Bukan yang Paling Sering Meletus
Banyak yang mengira Gunung Merapi atau Etna adalah yang paling aktif. Tapi menurut catatan vulkanologi, Gunung Kilauea di Hawaii yang paling aktif secara terus-menerus. Kilauea sudah erupsi hampir tanpa henti sejak 1983. Namun, yang paling sering meletus di dunia sebenarnya adalah Gunung Stromboli di Italia. Ia sudah erupsi setiap hari setidaknya selama 2.000 tahun terakhir. Penduduk setempat menyebutnya “Lighthouse of the Mediterranean” karena semburan apinya yang terlihat dari laut setiap malam. Bedanya, letusan Stromboli biasanya kecil dan jinak, bukan yang eksplosif seperti Gunung St. Helens.
Ada Danau di Kawah Gunung Berapi yang Airnya Bisa Berubah Warna
Fenomena ini paling mudah ditemukan di Gunung Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tiga danau di puncak Kelimutu bisa berganti warna dari merah jadi hijau, biru kehitaman, atau putih susu. Perubahan warna ini terjadi karena aktivitas vulkanik yang mengubah kandungan mineral dalam air, ditambah dengan pengaruh suhu dan oksidasi besi. Warga setempat meyakini warna danau adalah pertanda arwah leluhur. Secara ilmiah, ini bukti bahwa gunung itu tetap hidup dan dinamis.
Letusan Terdahsyat dalam Sejarah Manusia Bukan Krakatau
Krakatau 1883 memang fenomenal. Suara ledakannya terdengar sampai 4.800 km jauhnya, dan tsunami yang dihasilkan menewaskan puluhan ribu orang. Tapi jauh sebelum itu, sekitar tahun 1257, Gunung Samalas di Lombok meletus dengan kekuatan setidaknya tiga kali lipat Krakatau. Bukti-bukti baru dari analisis inti es di Greenland dan Antarktika menunjukkan bahwa letusan Samalas menyuntikkan begitu banyak sulfur ke atmosfer hingga menyebabkan pendinginan global dan panen gagal di Eropa. Sayangnya, catatan sejarah Nusantara saat itu sangat minim, jadi peristiwa ini hampir terlupakan hingga para ilmuwan modern menemukannya kembali.
Gunung Berapi Bisa Menjadi “Jam Alarm” Alam
Ini fakta yang cukup keren. Beberapa gunung berapi menunjukkan perilaku aneh sebelum meletus. Misalnya, di Gunung Ruapehu, Selandia Baru, suhu danau kawahnya bisa naik drastis dari 20°C jadi 60°C dalam hitungan hari. Di Gunung Ontake, Jepang, peningkatan emisi gas radon terdeteksi sebelum letusan mendadak pada 2014. Hewan-hewan juga sering bertingkah aneh. Di Cina, beberapa hari sebelum gempa besar, ribuan ular keluar dari sarangnya di musim dingin. Sayangnya, pola ini belum bisa dijadikan prediksi yang akurat karena setiap gunung punya “kepribadian” berbeda-beda.
Gunung Berapi Paling Berbahaya di Dunia Ada di Italia
Bukan Vesuvius yang menghancurkan Pompeii. Yang lebih mengancam saat ini adalah Campi Flegrei, kaldera raksasa di dekat kota Napoli. Bedanya dengan gunung biasa, Campi Flegrei tidak berbentuk kerucut mencolok, melainkan cekungan besar berdiameter 13 km. Di dalamnya ada puluhan kawah kecil, dan di sekitarnya tinggal lebih dari 1,5 juta orang. Ilmuwan khawatir karena kaldera ini menunjukkan tanda-tanda “kegelisahan” akhir-akhir ini: tanah naik, gempa swarm terjadi lebih sering. Jika suatu saat Campi Flegrei benar-benar meletus besar, bukan cuma Napoli yang hancur, tapi seluruh Eropa bisa terdampak abu vulkanik.
Ada Gunung Berapi yang Meletuskan Lumpur, Bukan Lava
Ini kasus unik di Sidoarjo, Jawa Timur. Bernama Lumpur Lapindo (atau Lusi), fenomena ini sejak 2006 terus menyemburkan lumpur panas dengan volume luar biasa. Beda dengan gunung api biasa yang magma dan lava, Lusi diduga erupsi karena kombinasi aktivitas seismik dan kesalahan pengeboran. Meski kontroversial, secara ilmu kebumian, Lusi diakui sebagai “gunung lumpur” terbesar di dunia. Debit lumpurnya masih bertahan hingga hari ini, bahkan bisa memenuhi 50 kolam renang ukuran Olimpiade setiap harinya.
Gunung Berapi Menyimpan Rekor Suhu Tertinggi di Permukaan Bumi
Pernah dengar tentang “lava fountain”? Saat air mancur lava terjadi, suhu lavanya bisa mencapai 1.200°C. Tapi rekor suhu tertinggi di permukaan bumi justru bukan dari lava, melainkan dari kawah gunung api yang sedang aktif, seperti di Erta Ale, Ethiopia. Di sana, danau lava permanen memiliki suhu permukaan sekitar 1.130°C. Namun, di dalam retakan kawah, gas vulkanik bisa mencapai suhu lebih dari 1.400°C. Bandingkan dengan api unggun biasa yang cuma 600-800°C.
Ada Gunung Berapi di Luar Angkasa, dan Lebih Besar dari Bumi
Kita jangan ceria dulu dengan gunung api bumi. Di tata surya kita, ada gunung api raksasa bernama Olympus Mons di planet Mars. Tingginya 21 kilometer—dua setengah kali lebih tinggi dari Everest. Lebarnya mencapai 600 kilometer, kira-kira seukuran negara Polandia. Olympus Mons adalah gunung api perisai, mirip dengan Mauna Loa di Hawaii, tapi mati dan tidak aktif lagi. Ada juga gunung api aktif di bulan Jupiter, Io, yang meletus terus-menerus dengan semburan belerang setinggi 300 km ke luar angkasa. Artinya, fenomena gunung berapi bukan cuma cerita bumi, tapi fenomena universal.
Gunung Berapi Menjadi Sumber Energi Masa Depan
Banyak negara mulai melirik panas bumi (geothermal) sebagai sumber listrik bersih. Islandia memimpin dalam hal ini hampir 90% rumah tangga mereka di panaskan oleh energi panas bumi. Air dingin di pompa ke dalam batuan panas di dekat gunung berapi, berubah jadi uap, lalu uapnya memutar turbin listrik. Indonesia sendiri punya potensi panas bumi terbesar di dunia sekitar 40% dari total global. Tapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 8-9%. Artinya, gunung berapi yang dulu ditakuti bisa jadi pembangkit listrik masa depan.
Yang Paling Sering Dilupakan: Gunung Berapi Juga Menjaga Keseimbangan Bumi
Tanpa gunung berapi, planet kita mungkin akan seperti Mars: dingin, mati, dan tanpa atmosfer tebal. Erupsi vulkanik selama miliaran tahun melepaskan karbon dioksida dan uap air, dua hal yang membantu menjaga efek rumah kaca alami agar bumi tidak membeku. Proses ini disebut “outgassing”. Bahkan, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa gunung berapi di dasar laut mungkin menyediakan panas dan bahan kimia yang menjadi cikal bakal kehidupan pertama di bumi. Jadi, setiap kali mendengar kabar gunung meletus, jangan cuma mikir bahayanya saja. Di balik awan panas dan aliran lahar, ada cerita panjang tentang kelahiran benua, iklim global, dan masa depan energi kita.
Gunung berapi bukan sekadar tumpukan batu panas. Ia adalah jantung planet yang masih berdetak. Ia mengingatkan bahwa bumi ini hidup, terus berubah, dan tidak pernah diam. Dan mungkin, justru dari ketidakterdugaannya, manusia belajar untuk lebih hormat pada alam.










