Pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 7 pada semester 1 menjadi salah satu tahap penting bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan membaca, memahami, menulis, dan menyampaikan gagasan. Salah satu materi yang menarik untuk di pelajari adalah cerita fantasi. Melalui materi ini, siswa tidak hanya di ajak memahami struktur dan unsur cerita, tetapi juga di beri ruang untuk mengembangkan imajinasi melalui tulisan.
Modul Ajar Semester 1 Bahasa Indonesia Kelas 7: Cerita Fantasi dapat menjadi bahan pendamping bagi guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang lebih terarah. Materi di dalamnya dapat di sesuaikan dengan kondisi kelas, kemampuan siswa, serta tujuan pembelajaran yang ingin di capai.
Cerita fantasi memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan dunia yang tidak selalu di temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tokohnya dapat memiliki kemampuan khusus, latarnya dapat berada di dunia berbeda, bahkan peristiwa yang terjadi bisa melampaui logika kehidupan nyata. Meskipun demikian, cerita fantasi tetap membutuhkan alur, tokoh, konflik, dan penyelesaian yang jelas agar cerita terasa menarik.
Mengenal Materi Cerita Fantasi Kelas 7
Cerita fantasi merupakan salah satu bentuk cerita fiksi yang mengandung unsur imajinatif. Penulis dapat menciptakan tokoh, tempat, waktu, maupun kejadian berdasarkan daya khayalnya. Dalam cerita fantasi, pembaca dapat di ajak memasuki dunia yang berbeda dari kenyataan.
Contohnya, seorang siswa menemukan pintu rahasia di belakang perpustakaan sekolah. Ketika pintu tersebut dibuka, ia justru masuk ke sebuah kerajaan yang berada di atas awan. Di tempat tersebut, manusia dapat berbicara dengan burung, sementara jam dapat menghentikan waktu.
Kejadian seperti itu tentu tidak biasa dalam kehidupan nyata. Namun, justru hal tersebut yang membuat cerita fantasi menarik untuk di baca.
Dalam pembelajaran kelas 7, siswa perlu memahami bahwa kebebasan berimajinasi tetap harus di imbangi dengan kemampuan menyusun cerita secara runtut. Imajinasi yang kuat akan lebih menarik apabila di sampaikan menggunakan bahasa yang jelas dan alur yang mudah di ikuti.
Tujuan Pembelajaran Cerita Fantasi
Penggunaan modul ajar Bahasa Indonesia kelas 7 materi cerita fantasi dapat di arahkan untuk mencapai beberapa tujuan pembelajaran.
Setelah mengikuti pembelajaran, siswa di harapkan mampu mengenali karakteristik cerita fantasi, memahami struktur teks, menemukan unsur-unsur pembangun cerita, serta menganalisis penggunaan bahasa dalam teks fantasi.
Selain kemampuan memahami bacaan, siswa juga dapat di latih untuk menyusun cerita fantasi sederhana. Mereka dapat membuat cerita berdasarkan pengalaman, gambar, kata kunci, atau ide yang muncul dari imajinasi sendiri.
Beberapa tujuan pembelajaran yang dapat di gunakan antara lain:
- Siswa mampu menjelaskan pengertian cerita fantasi.
- Siswa mampu mengenali ciri-ciri cerita fantasi.
- Siswa mampu menemukan struktur cerita fantasi.
- Siswa mampu mengidentifikasi tokoh, latar, alur, tema, dan konflik.
- Siswa mampu memahami penggunaan kata dan kalimat dalam cerita.
- Siswa mampu menceritakan kembali isi teks fantasi.
- Siswa mampu menyusun kerangka cerita berdasarkan ide sendiri.
- Siswa mampu menulis cerita fantasi secara runtut dan kreatif.
- Siswa mampu menyampaikan cerita secara lisan dengan percaya diri.
- Siswa mampu memberikan tanggapan terhadap karya teman.
Tujuan tersebut dapat di kembangkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.
Ciri-Ciri Cerita Fantasi
Sebelum menulis cerita fantasi, siswa perlu memahami ciri-cirinya. Pengetahuan tersebut akan membantu mereka membedakan cerita fantasi dari jenis teks narasi lainnya.
Salah satu ciri yang paling mudah di kenali adalah adanya unsur keajaiban atau sesuatu yang berada di luar kenyataan. Misalnya, benda mati dapat berbicara, tokoh mampu melakukan perjalanan lintas waktu, atau sebuah tempat memiliki aturan yang berbeda dari dunia manusia.
Ciri lainnya adalah penggunaan imajinasi yang kuat. Penulis memiliki kebebasan untuk menciptakan dunia dan kejadian sesuai dengan gagasan yang di miliki.
Cerita fantasi juga biasanya menghadirkan tokoh dengan karakter tertentu. Tokoh tersebut dapat berupa manusia, makhluk ajaib, hewan yang memiliki kemampuan berbicara, robot, penyihir, raksasa, atau makhluk ciptaan penulis.
Beberapa ciri cerita fantasi antara lain:
- Mengandung unsur imajinatif.
- Memiliki kejadian yang bersifat ajaib atau tidak biasa.
- Menggunakan tokoh dengan karakter yang menarik.
- Mempunyai latar yang dapat berbeda dari dunia nyata.
- Memiliki konflik dan penyelesaian.
- Menggunakan bahasa yang mampu membangun suasana.
- Mendorong pembaca untuk membayangkan dunia dalam cerita.
Struktur Cerita Fantasi
Salah satu bagian penting dalam modul ajar adalah pembahasan struktur cerita. Struktur membantu siswa memahami bagaimana sebuah cerita di bangun dari awal hingga akhir.
1. Orientasi
Orientasi merupakan bagian pembuka cerita. Pada tahap ini, pembaca diperkenalkan dengan tokoh, latar, dan situasi awal.
Misalnya, cerita dimulai dengan seorang anak bernama Raka yang tinggal di sebuah desa dekat hutan. Sejak kecil, Raka sering mendengar cerita tentang cahaya misterius yang muncul di tengah hutan ketika bulan purnama.
Bagian tersebut memberikan gambaran awal mengenai siapa tokohnya dan di mana peristiwa berlangsung.
2. Komplikasi
Komplikasi merupakan bagian ketika masalah mulai muncul. Tokoh menghadapi peristiwa yang membuat cerita berkembang.
Dalam cerita Raka, misalnya, ia menemukan sebuah batu bercahaya di dalam hutan. Setelah menyentuh batu tersebut, Raka tiba-tiba berpindah ke sebuah dunia yang tidak pernah di kenalnya.
Konflik kemudian berkembang ketika Raka harus mencari jalan pulang.
3. Resolusi
Resolusi berisi penyelesaian masalah. Tokoh menemukan jalan keluar dari konflik yang di hadapinya.
Raka mungkin akhirnya memahami bahwa batu tersebut hanya dapat mengantarkannya pulang apabila ia berhasil membantu penjaga hutan menyelesaikan masalah tertentu.
Penyelesaian tersebut membuat cerita terasa utuh dan memberikan akhir bagi konflik yang telah di bangun.
Unsur-Unsur Cerita Fantasi
Selain struktur, siswa kelas 7 juga perlu memahami unsur pembangun cerita. Unsur tersebut dapat membantu mereka melakukan analisis terhadap teks yang di baca.
Tema
Ini merupakan gagasan utama yang menjadi dasar cerita. Tema dapat berupa persahabatan, keberanian, keluarga, pengorbanan, kejujuran, atau perjuangan.
Tokoh
Tokoh adalah pelaku dalam cerita. Setiap tokoh dapat memiliki sifat berbeda.
Ada tokoh yang pemberani, pemalu, ceria, keras kepala, bijaksana, atau bahkan licik. Perbedaan karakter membuat hubungan antartokoh menjadi lebih menarik.
Penokohan
Penokohan berkaitan dengan cara penulis menggambarkan sifat tokoh. Karakter dapat di tampilkan melalui tindakan, perkataan, pikiran, maupun tanggapan tokoh lain.
Latar
Latar menunjukkan tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa.
Dalam cerita fantasi, latar dapat berupa sekolah, kerajaan, planet lain, hutan ajaib, dunia bawah laut, atau tempat imajinatif lainnya.
Alur
Ini merupakan rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat bergerak secara maju, mundur, atau menggunakan perpaduan keduanya.
Konflik
Konflik menjadi bagian yang membuat cerita bergerak. Tanpa masalah, cerita cenderung terasa datar.
Amanat
Amanat merupakan pesan yang dapat di peroleh pembaca dari cerita. Pesan tersebut dapat di sampaikan secara langsung maupun tersirat.
Contoh Kegiatan Pembelajaran
Agar pembelajaran tidak hanya berisi penjelasan teori, guru dapat menggunakan kegiatan yang membuat siswa lebih aktif.
Pada kegiatan awal, guru dapat mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Jika kalian menemukan pintu menuju dunia lain, apa yang akan kalian lakukan?”
Pertanyaan tersebut dapat memancing imajinasi siswa. Jawaban yang muncul biasanya beragam. Ada siswa yang ingin menjelajahi dunia baru, bertemu makhluk ajaib, mencari harta karun, atau kembali ke masa lalu.
Setelah itu, guru dapat menghubungkan jawaban siswa dengan materi cerita fantasi.
Pada kegiatan inti, siswa dapat membaca sebuah cerita fantasi secara mandiri atau berkelompok. Mereka kemudian di minta menemukan tokoh, latar, alur, konflik, dan pesan yang terdapat di dalam cerita.
Guru dapat memberikan tabel sederhana agar kegiatan analisis lebih terarah.
| Unsur | Hasil Identifikasi |
|---|---|
| Tema | Persahabatan |
| Tokoh | Dimas, Arka, Penjaga Hutan |
| Latar | Hutan ajaib |
| Alur | Maju |
| Konflik | Dimas kehilangan jalan pulang |
| Amanat | Jangan mudah menyerah ketika menghadapi masalah |
Kegiatan seperti ini membantu siswa memahami teks secara lebih sistematis.
Aktivitas Menulis Cerita Fantasi
Setelah memahami teori, siswa dapat di arahkan untuk membuat cerita sendiri. Guru tidak perlu langsung meminta mereka menulis cerita panjang. Sebaiknya proses di lakukan secara bertahap.
Pertama, siswa menentukan ide utama.
Misalnya:
“Seorang siswa menemukan buku yang dapat membuka portal ke dunia lain.”
Selanjutnya, siswa menentukan tokoh. Tokohnya dapat berupa seorang siswa bernama Nara, seekor naga kecil, dan penjaga perpustakaan ajaib.
Kemudian tentukan latar. Contohnya adalah perpustakaan sekolah, kota di atas awan, dan sebuah gua kristal.
Setelah itu, siswa menentukan konflik. Misalnya, Nara harus menemukan halaman terakhir buku ajaib agar dapat kembali ke dunia nyata.
Dari beberapa unsur tersebut, siswa sudah mempunyai bahan untuk membuat cerita.
Contoh Kerangka Cerita Fantasi
Kerangka cerita dapat di buat sederhana agar siswa tidak merasa kesulitan.
Judul: Buku dari Dunia Awan
Tokoh utama: Nara
Tokoh pendukung: Lio dan Penjaga Buku
Latar: Perpustakaan sekolah dan kerajaan di atas awan
Masalah: Nara masuk ke dunia buku dan tidak dapat menemukan jalan pulang.
Penyelesaian: Nara bekerja sama dengan Lio untuk menemukan halaman terakhir yang hilang.
Kerangka tersebut kemudian di kembangkan menjadi beberapa paragraf.
Dengan cara ini, siswa memahami bahwa menulis cerita tidak harus langsung menghasilkan tulisan panjang. Cerita dapat di bangun sedikit demi sedikit dari ide yang sederhana.
Metode Pembelajaran yang Dapat Di gunakan
Modul ajar cerita fantasi dapat menggunakan beberapa metode pembelajaran. Pemilihan metode sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi kelas.
Diskusi Kelompok
Siswa di bagi menjadi beberapa kelompok dan di berikan sebuah cerita fantasi. Setiap kelompok menganalisis unsur cerita.
Metode ini dapat melatih kemampuan bekerja sama dan menyampaikan pendapat.
Membaca Terbimbing
Guru memberikan teks kemudian mengarahkan siswa untuk menemukan informasi penting.
Cara ini cocok di gunakan ketika siswa masih membutuhkan bantuan untuk memahami struktur dan unsur cerita.
Project Based Learning
Siswa dapat membuat proyek berupa kumpulan cerita fantasi. Setiap siswa menulis satu cerita, kemudian seluruh karya di susun menjadi sebuah buku kelas.
Kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan karena siswa dapat melihat hasil karyanya bersama teman.
Presentasi
Setelah menulis cerita, beberapa siswa dapat diminta membacakan karyanya di depan kelas. Teman-teman lainnya memberikan tanggapan secara santun.
Aktivitas ini dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan berbicara.
Media Pembelajaran Cerita Fantasi
Media pembelajaran tidak harus selalu berupa buku teks. Guru dapat menggunakan gambar, kartu kata, video pendek, komik, atau ilustrasi sebagai pemantik ide.
Misalnya, guru menampilkan gambar sebuah kastel di tengah hutan. Siswa kemudian di minta membuat tiga kalimat tentang gambar tersebut.
Contoh:
“Di balik hutan yang gelap terdapat sebuah kastel tua. Tidak ada manusia yang tinggal di sana. Namun, setiap malam terdengar suara piano dari dalam kastel.”
Dari tiga kalimat tersebut, siswa dapat mengembangkan cerita yang lebih panjang.
Media visual seperti gambar juga dapat membantu siswa yang kesulitan menemukan ide ketika diminta menulis secara spontan.
Asesmen Pembelajaran
Penilaian dalam materi cerita fantasi dapat di lakukan melalui beberapa bentuk.
Penilaian Pengetahuan
Guru dapat memberikan pertanyaan mengenai pengertian, ciri, struktur, dan unsur cerita fantasi.
Contohnya:
- Apa yang di maksud dengan cerita fantasi?
- Sebutkan ciri-ciri cerita fantasi!
- Apa fungsi orientasi dalam cerita?
- Apa yang di maksud dengan komplikasi?
- Sebutkan unsur intrinsik cerita fantasi!
Penilaian Keterampilan
Siswa dapat di nilai berdasarkan kemampuan menulis cerita fantasi.
Beberapa aspek yang dapat di gunakan meliputi:
- Kesesuaian tema.
- Kelengkapan struktur.
- Kreativitas ide.
- Pengembangan tokoh.
- Penggunaan latar.
- Keruntutan alur.
- Penggunaan bahasa.
- Ketepatan ejaan.
- Kejelasan konflik.
- Kekuatan penyelesaian cerita.
Penilaian Sikap
Sikap siswa juga dapat di perhatikan selama pembelajaran. Misalnya, tanggung jawab ketika mengerjakan tugas, kemampuan bekerja sama, keberanian menyampaikan pendapat, dan sikap menghargai karya teman.
Contoh Rubrik Penilaian Cerita Fantasi
Guru dapat menggunakan rubrik sederhana seperti berikut:
| Aspek | Skor 1 | Skor 2 | Skor 3 | Skor 4 |
| Ide cerita | Kurang berkembang | Cukup | Baik | Sangat kreatif |
| Struktur | Tidak lengkap | Sebagian lengkap | Lengkap | Sangat runtut |
| Tokoh | Kurang jelas | Cukup jelas | Jelas | Sangat kuat |
| Alur | Tidak runtut | Kurang runtut | Runtut | Sangat menarik |
| Bahasa | Banyak kesalahan | Beberapa kesalahan | Baik | Sangat baik |
Rubrik dapat di modifikasi sesuai kebutuhan guru dan karakteristik peserta didik.
LKPD Cerita Fantasi untuk Kelas 7
Lembar Kerja Peserta Didik atau LKPD dapat menjadi bagian penting dalam pembelajaran. LKPD membantu siswa menyelesaikan tugas secara bertahap.
Contoh tugas yang dapat di berikan:
Tugas 1: Menemukan Unsur Cerita
Bacalah teks fantasi yang di berikan guru. Kemudian temukan:
- Nama tokoh utama.
- Tokoh pendukung.
- Latar tempat.
- Latar waktu.
- Konflik.
- Penyelesaian.
- Amanat.
Tugas 2: Membuat Ide Cerita
Lengkapi pertanyaan berikut:
- Siapa tokoh utamanya?
- Apa kelebihan tokoh tersebut?
- Di mana cerita berlangsung?
- Kejadian ajaib apa yang terjadi?
- Masalah apa yang di hadapi tokoh?
- Bagaimana tokoh menyelesaikan masalah?
Tugas 3: Menulis Cerita
Kembangkan jawaban sebelumnya menjadi cerita fantasi minimal beberapa paragraf.
Tips Membantu Siswa Menulis Cerita Fantasi
Tidak semua siswa mudah menuangkan imajinasi dalam bentuk tulisan. Ada yang memiliki banyak ide tetapi bingung menyusunnya. Ada pula yang sebenarnya ingin menulis tetapi takut ceritanya di anggap aneh.
Guru dapat memberikan pemantik sederhana.
Salah satunya adalah menggunakan kalimat pembuka.
Contoh:
“Ketika membuka laci meja sekolah, aku menemukan sebuah kunci yang belum pernah kulihat sebelumnya.”
Siswa kemudian di minta melanjutkan cerita tersebut.
Cara lainnya adalah menggunakan permainan “bagaimana jika”. Misalnya:
- Bagaimana jika sekolahmu berada di atas awan?
- Bagaimana jika kucingmu dapat berbicara?
- Bagaimana jika kamu bisa kembali ke masa lalu?
- Bagaimana jika buku pelajaran dapat menjawab semua pertanyaan?
- Bagaimana jika malam berlangsung selama satu minggu?
Pertanyaan seperti itu dapat membuat siswa lebih berani menggunakan imajinasi.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menulis Cerita Fantasi
Ada beberapa kesalahan yang cukup sering di temukan dalam tugas siswa.
Pertama, cerita memiliki ide menarik tetapi tidak mempunyai konflik yang jelas. Akibatnya, cerita terasa seperti kumpulan kejadian tanpa tujuan.
Kedua, alur terlalu cepat. Konflik baru muncul tetapi langsung selesai dalam satu atau dua kalimat.
Ketiga, karakter tokoh tidak konsisten. Tokoh yang sebelumnya di gambarkan sebagai seorang yang penakut tiba-tiba menjadi sangat berani tanpa alasan yang jelas.
Keempat, penggunaan dialog terlalu banyak tanpa penjelasan mengenai tindakan dan suasana.
Kelima, penutup cerita terlalu mendadak. Siswa perlu belajar memberikan penyelesaian yang sesuai dengan masalah yang telah di bangun.
Guru dapat menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan evaluasi bersama tanpa membuat siswa merasa bahwa tulisannya buruk.
Rancangan Pembelajaran Singkat
Pembelajaran cerita fantasi dapat di rancang dalam beberapa pertemuan.
Pertemuan pertama berfokus pada pengenalan cerita fantasi. Siswa membaca contoh teks dan menemukan ciri-cirinya.
Pertemuan kedua di gunakan untuk memahami struktur dan unsur cerita. Siswa bekerja secara berkelompok untuk menganalisis teks.
Pertemuan ketiga berfokus pada penyusunan ide dan kerangka cerita. Guru membantu siswa mengembangkan tokoh, latar, konflik, dan alur.
Pertemuan keempat digunakan untuk menulis cerita fantasi.
Pertemuan kelima dapat digunakan untuk revisi dan presentasi karya.
Rancangan tersebut fleksibel. Jika waktu pembelajaran terbatas, beberapa aktivitas dapat digabungkan.
Manfaat Menggunakan Modul Ajar
Modul ajar memberikan kerangka pembelajaran yang membantu guru mempersiapkan kegiatan secara lebih sistematis. Guru dapat mengetahui tujuan yang hendak dicapai, materi yang perlu disampaikan, aktivitas yang dapat dilakukan, serta bentuk asesmen yang sesuai.
Bagi siswa, pembelajaran yang terstruktur membuat materi lebih mudah diikuti. Mereka tidak hanya menerima teori, tetapi juga memperoleh kesempatan membaca, berdiskusi, menganalisis, menulis, dan mempresentasikan karya.
Materi cerita fantasi juga memiliki manfaat yang lebih luas. Kegiatan menulis dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas, memperkaya kosakata, melatih kemampuan menyusun gagasan, dan meningkatkan keberanian untuk menyampaikan ide.
Format Modul Ajar yang Bisa Disiapkan Guru
Agar lebih mudah digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, modul ajar dapat disusun dengan beberapa bagian utama, seperti:
- Identitas modul.
- Capaian pembelajaran.
- Tujuan pembelajaran.
- Kompetensi awal.
- Profil atau karakter yang dikembangkan.
- Sarana dan prasarana.
- Model dan metode pembelajaran.
- Materi pembelajaran.
- Langkah-langkah kegiatan.
- LKPD.
- Asesmen.
- Rubrik penilaian.
- Remedial.
- Pengayaan.
- Refleksi guru dan siswa.
- Sumber belajar.
Format tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan perangkat pembelajaran yang digunakan.
Kegiatan Remedial
Siswa yang belum mencapai tujuan pembelajaran dapat diberikan kegiatan remedial. Tugas tidak harus selalu berupa soal tambahan.
Guru dapat memberikan teks fantasi yang lebih pendek, kemudian meminta siswa menemukan tokoh dan latarnya terlebih dahulu. Setelah kemampuan dasar mulai terbentuk, siswa dapat melanjutkan pada struktur dan unsur lainnya.
Untuk kemampuan menulis, guru dapat memberikan kerangka cerita yang sebagian sudah terisi. Siswa hanya perlu melengkapi bagian yang kosong.
Pendekatan bertahap seperti ini dapat membuat siswa lebih percaya diri.
Kegiatan Pengayaan
Siswa yang sudah memahami materi dapat diberikan tugas pengayaan. Misalnya, membuat cerita fantasi dengan latar budaya lokal.
Contohnya adalah cerita tentang seorang anak yang menemukan dunia ajaib di sekitar sebuah candi, hutan, sungai, atau desa tradisional. Dengan cara tersebut, kreativitas siswa dapat berkembang sekaligus mengenalkan lingkungan dan budaya di sekitarnya.
Siswa juga dapat diminta mengubah cerita fantasi menjadi komik sederhana atau naskah drama pendek.
Refleksi Siswa
Refleksi dapat dilakukan setelah pembelajaran selesai. Siswa dapat menjawab beberapa pertanyaan:
- Apa hal baru yang saya pelajari?
- Bagian mana yang paling saya sukai?
- Apa kesulitan saya saat membaca cerita fantasi?
- Apa kesulitan saya ketika menulis?
- Bagaimana cara saya memperbaiki tulisan?
- Ide cerita apa yang ingin saya kembangkan berikutnya?
Jawaban tersebut dapat membantu siswa menyadari perkembangan kemampuan mereka sendiri.
Download Modul Ajar Semester 1 Bahasa Indonesia Kelas 7
Guru yang membutuhkan Modul Ajar Semester 1 Bahasa Indonesia Kelas 7 materi Cerita Fantasi dapat menyiapkan dokumen dalam format yang mudah diedit, seperti Word atau dokumen digital lainnya.
Dokumen sebaiknya tidak dibuat terlalu kaku. Guru dapat mengubah identitas sekolah, nama pengajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, bentuk tugas, hingga rubrik penilaian sesuai kebutuhan.
Penyesuaian tersebut penting karena setiap kelas memiliki karakter yang berbeda. Ada kelas yang lebih aktif berdiskusi, sementara kelas lainnya lebih nyaman belajar melalui membaca dan menulis secara mandiri.
Dengan modul yang fleksibel, pembelajaran cerita fantasi dapat terasa lebih dekat dengan pengalaman siswa. Mereka tidak hanya memahami definisi dan struktur teks, tetapi benar-benar merasakan proses menciptakan sebuah cerita dari ide sederhana hingga menjadi karya yang utuh.
Mengembangkan Kreativitas Melalui Cerita Fantasi
Cerita fantasi memberikan ruang yang luas bagi siswa kelas 7 untuk berkreasi. Mereka dapat menciptakan dunia sendiri, menentukan aturan dalam dunia tersebut, menghadirkan tokoh dengan kemampuan unik, sekaligus membangun konflik yang membuat pembaca penasaran.
Hal yang paling penting bukan seberapa ajaib cerita yang dibuat, melainkan bagaimana siswa mampu menyusun gagasan secara runtut.
Cerita sederhana tentang seorang anak dan seekor naga pun dapat menjadi menarik apabila tokohnya kuat, konfliknya jelas, latarnya hidup, dan penyelesaiannya masuk akal dalam dunia cerita yang dibuat.
Melalui Modul Ajar Semester 1 Bahasa Indonesia Kelas 7: Cerita Fantasi, guru dapat mengarahkan proses tersebut dengan kegiatan yang bertahap dan menyenangkan. Siswa diberi kesempatan untuk membaca karya orang lain, menemukan unsur cerita, berdiskusi, membuat kerangka, menulis, memperbaiki, hingga mempresentasikan hasil karyanya.
Pembelajaran akhirnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal. Siswa juga belajar bahwa bahasa dapat menjadi alat untuk menciptakan dunia, menyampaikan gagasan, dan membuat orang lain ikut membayangkan sesuatu yang sebelumnya hanya ada di dalam pikiran mereka.









