Menu ✖

Mode Gelap

Karier & Lowongan Kerja · 13 Okt 2026 19:17 WIB ·

Kesalahan Umum seputar Kerja Remote dan Cara Memperbaikinya


Ilustrasi Wawancara Kerja Online (img: pexels.com by shvets production) Perbesar

Ilustrasi Wawancara Kerja Online (img: pexels.com by shvets production)

Kerja remote sudah bukan lagi sekadar tren sesaat. Sejak pandemi melanda beberapa tahun lalu, banyak perusahaan yang akhirnya sadar bahwa karyawan bisa tetap produktif meski tidak duduk di kantor. Tapi jujur saja, bekerja dari rumah atau dari mana pun bukan berarti semuanya berjalan mulus. Justru ada banyak jebakan yang sering tidak disadari, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menjalaninya.

Saya sendiri sudah beberapa tahun menjalani kerja remote, dan percaya atau tidak, kesalahan-kesalahan yang saya lakukan di awal dulu masih sering saya temui pada teman-teman yang baru pindah ke mode kerja ini. Jadi, mari kita bahas beberapa kesalahan yang paling sering muncul, plus bagaimana cara memperbaikinya tanpa harus merasa bersalah berlebihan.

1. Menganggap kerja remote sama dengan kerja santai

Ini kesalahan paling klasik. Banyak yang berpikir, “Ah, kan di rumah, bisa sambil rebahan.” Padahal, kerja remote justru menuntut disiplin yang lebih tinggi. Tanpa pengawasan langsung, godaan untuk menunda pekerjaan jadi lebih besar. Buka media sosial sebentar, eh tahu-tahu sudah satu jam.

Cara memperbaikinya: buat rutinitas yang mirip dengan saat bekerja di kantor. Tetapkan jam mulai dan jam selesai. Pakai pakaian yang rapi, minimal kemeja atau kaos bersih, bukan piyama. Otak kita perlu sinyal bahwa ini waktu bekerja, bukan waktu bersantai.

2. Tidak punya ruang kerja khusus

Bekerja dari kasur atau sofa memang terasa nyaman di awal. Tapi lama-lama, punggung sakit dan fokus buyar. Lebih parah lagi, kasur yang seharusnya jadi tempat istirahat malah berubah jadi meja kerja. Akibatnya, kualitas tidur menurun karena otak mengasosiasikan kasur dengan pekerjaan.

Cara memperbaikinya: cari sudut ruangan yang bisa dijadikan area kerja tetap. Tidak perlu mewah, cukup meja dan kursi yang ergonomis. Kalau ruangan terbatas, setidaknya pisahkan area kerja dari area tidur dengan sekat atau tanaman. Yang penting, setiap kali duduk di situ, pikiran langsung tahu bahwa waktunya produktif.

3. Komunikasi yang serba tidak jelas

Salah satu tantangan terbesar kerja remote adalah komunikasi. Tanpa tatap muka, nada bicara bisa salah ditafsirkan. Chat singkat seperti “oke” atau “nanti saja” bisa terdengar dingin atau tidak peduli. Belum lagi kalau ada anggota tim yang tinggal di zona waktu berbeda.

Cara memperbaikinya: biasakan menulis dengan jelas dan ramah. Tambahkan emoji secukupnya, bukan berlebihan. Kalau ada hal penting, jangan hanya mengandalkan chat—angkat telepon atau adakan video call singkat. Sepakati juga jam-jam di mana semua orang harus online, sehingga tidak ada yang merasa dituntut balas pesan tengah malam.

4. Terlalu banyak rapat online

Justru karena semua serba online, rapat jadi mudah dijadwalkan. Akibatnya, kalender penuh dengan Zoom atau Google Meet. Padahal belum tentu semua rapat itu perlu. Banyak yang akhirnya menghabiskan waktu di depan layar tanpa sempat menyelesaikan pekerjaan utama.

Cara memperbaikinya: sebelum mengundang rapat, tanyakan dulu, “Apakah ini bisa diselesaikan lewat pesan atau dokumen bersama?” Kalau memang harus rapat, buat agenda yang jelas dan batasi waktunya. Beri juga waktu jeda minimal 10 menit antar rapat agar tidak kelelahan.

5. Batas antara kerja dan hidup pribadi jadi kabur

Ini yang paling berbahaya. Karena tidak ada perjalanan pulang dari kantor, kita cenderung terus membuka laptop sampai malam. Notifikasi dari grup kerja tetap masuk, dan kita merasa wajib membalas segera. Akibatnya, waktu bersama keluarga atau untuk diri sendiri jadi terganggu.

Cara memperbaikinya: tentukan jam “off”. Misalnya, setelah pukul 6 sore, matikan notifikasi aplikasi kerja. Beri tahu rekan tim bahwa kamu tidak akan merespons di luar jam kerja, kecuali darurat. Lakukan ritual kecil untuk menandai berakhirnya hari kerja, seperti jalan kaki sebentar atau menyeduh teh.

6. Kurang gerak dan makan tidak teratur

Duduk di depan laptop selama berjam-jam tanpa disadari membuat badan kaku dan mata lelah. Belum lagi godaan untuk ngemil terus-menerus karena dapur hanya beberapa langkah dari meja kerja. Pola makan jadi berantakan, dan berat badan naik tanpa terasa.

Cara memperbaikinya: pasang alarm setiap satu jam untuk berdiri, meregangkan badan, atau sekadar mengambil air minum. Siapkan camilan sehat seperti buah atau kacang-kacangan, dan hindari menyimpan stok keripik di laci meja. Kalau bisa, lakukan olahraga ringan di pagi hari sebelum mulai bekerja.

7. Merasa terisolasi dan kesepian

Kerja remote bisa sangat menyenangkan bagi introvert, tapi lama-kelamaan rasa kesepian bisa muncul. Tidak ada obrolan ringan di pantry, tidak ada teman makan siang. Semua interaksi serba formal dan terjadwal.

Cara memperbaikinya: cari komunitas. Bisa komunitas online sesama pekerja remote, atau ikut coworking space beberapa hari dalam seminggu. Jadwalkan juga “kopi virtual” dengan teman kerja, bukan untuk membahas proyek, tapi sekadar ngobrol santai. Kesehatan mental sama pentingnya dengan produktivitas.

8. Mengabaikan keamanan data

Bekerja dari kafe atau tempat umum memang fleksibel, tapi risikonya besar. Jaringan Wi-Fi publik bisa disadap, dan orang di sebelah bisa melihat layar laptop. Tanpa sadar, data perusahaan jadi taruhannya.

Cara memperbaikinya: selalu gunakan VPN saat terhubung ke Wi-Fi publik. Aktifkan verifikasi dua langkah untuk semua akun kerja. Kalau membawa laptop ke luar, pasang screen protector anti-spy. Dan jangan pernah meninggalkan perangkat tanpa kunci meski hanya sebentar ke toilet.

9. Terlalu perfeksionis dengan setup

Ada kalanya kita terlalu fokus membeli meja mahal, kursi gaming, lampu ring, sampai mikrofon studio, tapi pekerjaan justru terbengkalai. Memang lingkungan kerja yang nyaman itu penting, tapi jangan sampai menghabiskan energi hanya untuk urusan perlengkapan.

Cara memperbaikinya: mulailah dengan apa yang ada. Meja makan bisa jadi meja kerja sementara. Kursi biasa ditambah bantal duduk sudah cukup. Tambah perlengkapan hanya jika benar-benar dibutuhkan dan mengganggu produktivitas.

10. Tidak punya sistem pencatatan yang baik

Tanpa atasan yang menepuk bahu, mudah sekali lupa pada tugas-tugas kecil. Apalagi kalau ada banyak proyek berjalan bersamaan. Ujung-ujungnya ada deadline yang terlewat atau pekerjaan yang terduplikasi.

Cara memperbaikinya: gunakan aplikasi manajemen tugas sederhana seperti Trello, Notion, atau bahkan buku catatan biasa. Setiap pagi, tulis tiga prioritas utama hari itu. Setiap sore, evaluasi apa yang sudah selesai dan apa yang perlu dilanjutkan besok.

Menutup dengan renungan kecil

Kerja remote memberi kebebasan yang luar biasa, tapi kebebasan itu datang dengan tanggung jawab. Tidak ada supervisor yang mengingatkan kita untuk istirahat atau pulang tepat waktu. Semua kembali ke kesadaran diri masing-masing. Kesalahan-kesalahan di atas bukanlah hal yang memalukan—hampir semua orang pernah mengalaminya. Yang penting adalah mau memperbaiki dan terus menyesuaikan cara kerja dengan kebutuhan pribadi.

Pada akhirnya, kerja remote yang sehat bukan tentang bekerja lebih banyak, melainkan bekerja dengan lebih sadar. Kalau tubuh dan pikiran tetap terjaga, hasilnya pun akan lebih berkualitas. Selamat mencoba, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri ketika sesekali tergelincir.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya

Kesalahan Umum seputar Career Switch dan Cara Memperbaikinya

13 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Tips Menjalani Masa probation

Career Switch: Panduan Praktis agar Lebih Siap Masuk Dunia Kerja

13 Oktober 2026 - 20:37 WIB

Promotor adalah

Kesalahan Umum seputar Resign yang Profesional dan Cara Memperbaikinya

13 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Mahasiswa Ingin Jadi Volunteer

Resign yang Profesional: Panduan Praktis agar Lebih Siap Masuk Dunia Kerja

13 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Quarter Life Crisis

Kesalahan Umum seputar Freelance OnlineKesalahan Umum seputar Freelance Online dan Cara Memperbaikinya

13 Oktober 2026 - 19:55 WIB

Freelance Online: Panduan Praktis agar Lebih Siap Masuk Dunia Kerja

13 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Kuliah di tahun 2025
Trending di Karier & Lowongan Kerja