Menu

Mode Gelap
Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2026 20 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia Versi QS Asia 2026 Materi Belajar SD/MI Kelas 1 Kurikulum Merdeka Tips Mendidik Anak Menjadi Pelajar Berprestasi

Fun Facts · 11 Jul 2026 21:07 WIB ·

Asal Usul Emoji yang di Pakai Setiap Hari


Img: pixabay.com Perbesar

Img: pixabay.com

Pernah nggak sih, kamu bangun tidur, buka ponsel, dan langsung mengirim pesan berisi emoji senyum ke pacar atau teman? Atau mungkin kamu ngetik kalimat panjang, lalu diakhiri dengan emoji tertawa terbahak-bahak biar obrolan terasa lebih santai? Rasanya sekarang hampir nggak ada percakapan digital yang lepas dari kehadiran emoji. Tapi, pernah terpikir nggak olehmu, dari mana sebenarnya asal muasal deretan ikon mungil yang ternyata punya pengaruh besar dalam cara kita berkomunikasi ini?

Biar nggak penasaran, yuk kita kupas tuntas sejarah panjang di balik emoji yang setiap hari kamu pakai. Bukan cuma sekadar gambar lucu, emoji punya perjalanan budaya dan teknologi yang cukup mengejutkan.

Zaman Prasejarah Digital, Lahirnya “Emoticon”

Sebelum emoji yang berwarna-warni dan beragam itu ada, sebenarnya manusia sudah mulai bermain-main dengan simbol untuk mengekspresikan perasaan lewat teks. Jauh sebelum iPhone atau Android lahir, tepatnya di tahun 1982, seorang ilmuwan komputer bernama Scott Fahlman dari Carnegie Mellon University mengusulkan penggunaan tanda baca untuk menunjukkan lelucon atau serius di forum diskusi daring. Ia menuliskan dua usulan: :-) untuk bercanda dan :-( untuk serius.

Inilah yang kemudian dikenal sebagai emoticon. Bedanya dengan emoji, emoticon adalah rangkaian karakter dari keyboard yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk wajah. Coba bayangkan, pada masa itu internet masih sangat tekstual. Nggak ada warna, nggak ada gambar. Orang-orang harus pinter-pinter menerjemahkan nuansa pembicaraan. Emoticon jadi penyelamat agar pesan nggak disalahartikan.

Namun, emoticon tetap terbatas. Mereka hanya bisa membentuk ekspresi dasar dan tentunya nggak begitu menarik secara visual. Dari sinilah kebutuhan akan simbol visual yang lebih kaya mulai tumbuh.

Negeri Matahari Terbit dan Kelahiran Emoji Modern

Nah, kalau kamu bertanya siapa yang pertama kali menciptakan emoji seperti yang kita kenal sekarang, jawabannya adalah Shigetaka Kurita, seorang desainer asal Jepang. Tahun 1999, ketika Kurita bekerja untuk perusahaan telekomunikasi NTT DoCoMo di Jepang, ia mendapat tugas untuk merancang ikon-ikon visual yang bisa digunakan di layar ponsel. Saat itu, ponsel sudah mulai bisa mengirim email dan pesan singkat, tapi tampilannya masih sangat membosankan.

Kurita terinspirasi oleh berbagai hal sederhana. Ia mengamati ramalan cuaca di koran, papan informasi di stasiun kereta, hingga ekspresi wajah orang-orang di sekitarnya. Bahkan, ia juga terpengaruh oleh seni manga dan karakter-karakter visual yang populer di Jepang. Ia merasa bahwa simbol-simbol ini bisa membantu orang menyampaikan emosi dengan cara yang lebih universal dibandingkan kata-kata.

Awalnya, Kurita merancang 176 emoji dengan resolusi sangat rendah, masing-masing berukuran 12×12 piksel. Bayangkan betapa sederhananya jika dibandingkan dengan emoji HD yang kita lihat di layar ponsel kekinian. Set itu berisi ikon wajah, hati, simbol cuaca, hingga berbagai benda sehari-hari seperti payung dan mobil. Dan uniknya, emoji yang pertama kali rilis ini semuanya berwarna monokrom, alias hitam-putih.

Nama “emoji” sendiri berasal dari bahasa Jepang. Banyak yang mengira itu singkatan dari “emotion” (emosi) dan “ji” (karakter). Tapi sebenarnya, “e” di sini berarti “gambar” dan “moji” artinya “huruf” atau “karakter.” Jadi secara harfiah, emoji artinya “karakter bergambar.” Keren, kan?

Google dan Apple, Mengangkat Emoji ke Panggung Dunia

Meski lahir di Jepang, emoji butuh waktu hampir satu dekade untuk dikenal secara global. Titik baliknya terjadi ketika Google dan Apple mulai memasukkan emoji ke dalam sistem operasi mereka. Pada tahun 2007, tim di Google menyadari bahwa emoji sangat populer di kalangan pengguna Jepang, dan mereka memutuskan untuk mengusulkan emoji ke konsorsium Unicode.

Unicode adalah lembaga yang mengatur standar karakter di seluruh dunia, termasuk huruf, angka, dan simbol. Tanpa persetujuan Unicode, emoji nggak akan bisa tampil seragam di berbagai perangkat. Bayangkan kalau kamu mengirim emoji tertawa dari iPhone, lalu temanmu yang pakai Android melihatnya sebagai kotak kosong atau simbol aneh. Pasti menyebalkan, kan?

Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada tahun 2010, 625 emoji resmi ditambahkan ke standar Unicode 6.0. Sejak saat itulah emoji bukan lagi milik Jepang semata, tapi menjadi bahasa visual global. Apple pun ikut meramaikan dengan merilis emoji berwarna di iOS pada tahun 2011, dan sejak itu pengguna di seluruh dunia mulai berbondong-bondong menggunakan emoji setiap hari.

Evolusi Emoji, Dari Wajah Kuning Hingga Keberagaman

Salah satu hal paling menarik dari perkembangan emoji adalah bagaimana mereka terus berevolusi mengikuti zaman. Awalnya, emoji hanya menampilkan wajah-wajah kuning tanpa perbedaan ras atau gender. Tapi seiring tuntutan inklusivitas yang semakin kuat, Unicode mulai memperkenalkan variasi warna kulit dan profesi dengan berbagai gender.

Pada tahun 2015, Unicode merilis emoji dengan 5 pilihan warna kulit berdasarkan skala Fitzpatrick, yang biasanya digunakan dalam dunia dermatologi. Ini adalah langkah besar agar setiap orang dari berbagai latar belakang bisa merasa terwakili. Nggak hanya soal warna kulit, emoji juga mulai menampilkan pasangan dengan berbagai orientasi, keluarga dengan orang tua tunggal, hingga simbol-simbol penyandang disabilitas.

Kemudian di tahun 2016, emoji yang menggambarkan wanita berprofesi sebagai polisi, dokter, atau juru masak mulai hadir. Sebelumnya, emoji profesi cenderung maskulin. Perubahan ini bukan sekadar desain, melainkan cerminan kesadaran sosial yang berkembang. Emoji menjadi cerminan bagaimana masyarakat ingin dilihat dan dihargai.

Mengapa Kita Begitu Kecanduan Pakai Emoji?

Pernah nggak kamu merasakan kegalauan saat ingin menambahkan emoji yang tepat? Rasanya ada dorongan kuat untuk memilih ikon yang paling sesuai dengan perasaan saat itu. Emoji bukan sekadar aksesori, tapi menjadi semacam pengganti nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh yang hilang dalam komunikasi teks.

Secara psikologis, emoji membantu kita menambah dimensi emosional ke dalam pesan yang cenderung datar. Misalnya, kalimat “Oke” terasa sangat berbeda jika ditambahi emoji acungan jempol dibandingkan dengan emoji wajah cemberut. Dengan begitu, risiko miskomunikasi pun berkurang.

Selain itu, emoji juga bersifat universal. Meski kita nggak bisa berbahasa Inggris atau Jepang, emoji tetap bisa dipahami oleh siapa saja di dunia. Sebuah emoji hati atau api unggun punya makna yang sama lintas budaya. Ini menjadikan emoji sebagai salah satu bentuk komunikasi global yang paling efektif di era digital.

Emoji Kontroversial dan Perubah Makna

Yang nggak kalah seru adalah bagaimana makna emoji ternyata bisa berubah seiring waktu. Contoh paling klasik adalah emoji “wajah tertawa sambil menangis” yang sebenarnya merupakan simbol tertawa terpingkal-pingkal, tapi banyak orang menggunakannya untuk mengekspresikan ironi atau bahkan rasa malu yang berlebihan.

Ada juga emoji yang sempat menjadi kontroversi, seperti emoji pistol yang diubah menjadi pistol mainan berwarna hijau oleh beberapa platform, sebagai respons terhadap isu kekerasan senjata. Begitu pula emoji burger yang susunan lapisannya sempat menjadi perdebatan karena dianggap nggak realistis oleh para penggemar kuliner.

Bahkan, ada emoji “persik” dan “terong” yang oleh sebagian kalangan digunakan sebagai kode vulgar, meskipun secara resmi maknanya adalah buah-buahan. Ini menunjukkan betapa fleksibel dan kreatifnya pengguna dalam menafsirkan ulang simbol-simbol yang ada.

Pilihan Emoji Baru yang Mencerminkan Zaman

Setiap tahun, Unicode selalu merilis set emoji baru yang mencerminkan tren dan isu terkini. Misalnya, munculnya emoji “banci” atau “gender netral”, emoji orang hamil yang bukan hanya perempuan, hingga emoji simbol-simbol keberlanjutan seperti pohon dan daun yang menguatkan kesadaran lingkungan.

Kita juga mulai melihat emoji makanan dan minuman yang lebih variatif, dari roti croissant sampai mangga, yang menunjukkan betapa emoji mulai mengakomodasi budaya kuliner berbagai negara. Bahkan ada emoji “salju” yang tetap bertahan meski global warming makin terasa. Menarik, kan?

Proses pemilihan emoji baru ini ternyata nggak sembarangan. Setiap usulan harus melalui tahap evaluasi panjang dan memenuhi kriteria tertentu, seperti apakah simbol tersebut sering digunakan, apakah sudah ada alternatif, dan apakah bisa ditampilkan dalam ukuran kecil dengan jelas. Jadi nggak semua ikon yang kita usulkan bakal langsung diterima.

Emoji di Dunia Pemasaran dan Branding

Karena popularitasnya yang meledak, emoji kini juga dimanfaatkan oleh berbagai merek untuk berkomunikasi dengan konsumen. Nggak sedikit perusahaan yang membuat kampanye bertema emoji, bahkan ada yang mencoba membuat emoji khusus untuk produk mereka.

Contohnya, Domino’s Pizza pernah membuat sistem pemesanan melalui emoji pizza. Cukup kirim emoji pizza lewat Twitter, dan pesananmu langsung diproses. Ini menunjukkan bahwa emoji bukan lagi sekadar pelengkap, tapi sudah menjadi bagian dari strategi bisnis.

Bahkan, ada kalender khusus yang memperingati Hari Emoji Sedunia setiap 17 Juli. Tanggal ini dipilih karena ikon kalender di iPhone menampilkan angka 17 Juli, yang merupakan hari rilisnya iCal di Apple. Kecil-kecilan memang, tapi ini menunjukkan betapa emoji telah menjadi budaya pop yang mendunia.

Mengapa Kamu Harus Tahu Sejarah Emoji?

Memahami asal usul emoji bukan hanya tentang tahu kapan siapa menciptakannya. Ini tentang menyadari bahwa setiap ikon kecil yang kamu kirimkan sehari-hari membawa sejarah panjang tentang inovasi, perjuangan inklusivitas, dan adaptasi budaya.

Emoji adalah bukti bahwa komunikasi manusia terus berkembang, bahkan di ranah digital yang serba cepat. Mereka adalah jembatan antara logika teks dan emosi manusia. Di balik kesederhanaan wajah kuning atau simbol hati merah, ada cerita tentang bagaimana kita ingin dipahami dan dimengerti tanpa harus menjelaskan panjang lebar.

Jadi, lain kali ketika kamu mengirim emoji sambil menangis atau tepuk tangan, ingatlah bahwa kamu sedang mewarisi tradisi komunikasi visual yang dimulai dari seorang desainer Jepang yang hanya ingin membuat pesan ponsel sedikit lebih berwarna.

Dunia emoji memang terus berubah, tapi satu hal yang pasti: selama manusia masih butuh mengekspresikan perasaan di balik layar, emoji akan selalu punya tempat di hati kita.

Komentar
Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Mengapa Bintang Tampak Berkedip?

11 Juli 2026 - 11:33 WIB

Fenomena Langit

Kenapa Kita Merasa Mengantuk Setelah Banyak Makan?

10 Juli 2026 - 12:17 WIB

Alasan Daun Berubah Warna Saat Musim Gugur

9 Juli 2026 - 23:28 WIB

4 Khasiat Daun Sirih Bagi Kecantikan Wajah

Kenapa Semut Selalu Berjalan Berbaris?

7 Juli 2026 - 22:43 WIB

Kenapa Balon Helium Bisa Terbang ke Atas?

7 Juli 2026 - 22:20 WIB

Kenapa Langit Berwarna Biru saat Siang Hari

7 Juli 2026 - 22:05 WIB

Trending di Fun Facts