Ada sensasi tersendiri saat membuka halaman pertama buku fantasi yang membawa kita melompat ke dunia lain. Udara dingin pegunungan fiktif, bau pedas rempah-rempah dari pasar ajaib, atau debu jalan setapak di hutan larangan semuanya terasa nyata di kepala. Buat yang hatinya selalu berdegup kencang setiap kali tokoh utama mengambil risiko, daftar berikut mungkin cocok disimpan di rak favorit.
1. The Priory of the Orange Tree – Samantha Shannon
Bayangkan dunia terbelah dua oleh ketakutan akan naga. Timur menganggapnya dewa, Barat menyebutnya iblis. Shannon meracik petualangan laut yang epik dengan dua tokoh wanita yang tangguh. Ada pembunuh bayaran yang setia pada ratu, perpustakaan bawah tanah yang menyimpan rahasia ribuan tahun, dan perjalanan menyeberangi lautan penuh badai. Cocok buat yang suka buku tebal seperti buku telepon, karena setiap babnya terasa seperti babak baru dalam film panjang.
2. Neverwhere – Neil Gaiman
London bawah tanah. Bukan stasiun kereta, tapi kota sihir di balik rel dan pipa ledeng. Tokoh utama Richard Mayhew, pria biasa yang tiba-tiba terlempar ke dunia di mana para bangsawan membunuh dengan belati dan pasar gelap menjual mimpi. Gaya tulis Gaiman ringan tapi menggigit. Petualangan di sini bukan tentang mengumpulkan permata atau bertarung dengan orc. Lebih ke berlari menyusuri lorong gelap dengan pedang karatan, sambil berteman dengan seorang gadis bernama Door yang bisa membuka… ya, pintu ke mana saja.
3. The Bone Ships – R.J. Barker
Kalau bosan dengan kapal bajak laut biasa, bayangkan kapal yang di bangun dari tulang-tulang monster laut raksasa. Dunia di sini keras, lautnya buas, dan hukumnya ditulis dengan darah. Tokoh utama adalah kapten buangan yang di beri misi mustahil: menyelamatkan bayi naga laut terakhir. Bukan cerita tentang pahlawan sempurna. Ini tentang orang-orang kumal, kapten dengan satu mata, awak kapel yang di asingkan. Petualangannya kasar, berisik, dan bau garam. Cocok banget buat yang suka nuansa grimdark tapi tetap ada secercah harapan.
4. Strange the Dreamer – Laini Taylor
Lazlo Strange, seorang pustakawan muda yang terobsesi dengan kota mitos bernama Weep. Suatu malam, kota itu benar-benar memanggilnya. Petualangan di sini unik bukan sekadar melawan monster, tapi membongkar sejarah yang sengaja di hapus. Ada dewa-dewa yang tidur, sayap yang patah, dan cinta yang tumbuh di antara reruntuhan. Bahasa Taylor liris banget, kadang seperti membaca puisi panjang tentang rasa rindu dan keberanian. Selesai baca, kamu bakal merasa seperti baru pulang dari mimpi paling indah sekaligus paling menyedihkan.
5. The Books of Babel (seri pertama: Senlin Ascends) – Josiah Bancroft
Thomas Senlin, kepala sekolah sederhana yang kehilangan istrinya di menara raksasa bernama Menara Babel. Menara ini bukan bangunan biasa. Setiap lantai adalah dunia sendiri: ada lantai yang jadi taman hiburan kacau, lantai yang jadi teater pembunuhan, lantai yang penduduknya memakai topeng logam. Senlin bukan petarung, bukan penyihir. Dia cuma pria tua dengan payung dan buku panduan usang. Lihat dia beradaptasi, berbohong, dan kadang bertindak kejam demi bertahan itu yang bikin perjalanan ini terasa real. Sangat di rekomendasikan buat yang suka karakter berkembang perlahan tapi membekas.
6. The Ten Thousand Doors of January – Alix E. Harrow
Januari, gadis kulit hitam di Amerika awal 1900-an, menemukan buku tua yang berisi cerita tentang pintu-pintu menuju dunia lain. Ternyata, pintu itu nyata. Petualangan di sini diceritakan dengan hangat dan pedih. Ada pelarian dari rumah, mengejar ayah yang hilang, dan melawan masyarakat yang ingin menutup semua keajaiban. Setiap pintu yang di buka Januari terasa seperti mengintip ke alam mimpi hutan yang bicara, kota di bawah laut, padang rumput tanpa gravitasi. Bacaan yang cocok di temani secangkir teh jahe di malam hujan.
7. The Legend of Podkin One-Ear – Kieran Larwood
Jangan remehkan karena ini dari kategori middle grade. Kelinci-kelinci penyamun dengan satu telinga, pedang dari batu meteor, dan perjuangan melawan raja kelinci jahat yang memakai topeng besi. Nuansa petualangannya klasik: hutan, gua, persembunyian, dan kode kehormatan. Tapi eksekusinya segar. Cocok buat yang kangen cerita seperti Watership Down tapi lebih ringan dan penuh aksi. Bikin kamu kembali ke masa kecil, saat membaca di bawah selimut dengan senter adalah petualangan tersendiri.
8. The City of Brass – S. A. Chakraborty
Mesir abad ke-18. Nahri, penipu cilik yang pintar membaca bahasa tubuh, tanpa sengaja memanggil prajurit jin. Lalu dia terseret ke Kota Tembaga, kota jin yang penuh intrik politik, kasta, dan sihir darah. Petualangan di sini seperti One Thousand and One Nights versi Game of Thrones. Ada jalanan berdebu, istana penuh racun, roh-roh yang terperangkap dalam botol kuningan. Chakraborty risetnya dalem banget, budaya Timur Tengah terasa hidup. Kamu bakal ikut bau kunyit dan hisap hookah di tenda pedagang saat membaca.
Jadi, mana yang mau kamu baca pertama kali?
Saran kecil, jangan cuma lihat ketebalannya. Buku fantasi terbaik adalah yang bikin kamu lupa waktu, sampai lampu kamar menyala sendiri karena subuh sudah tiba. Dan satu lagi biarkan dirimu tersesat. Karena dalam dunia fantasi, tersesat seringkali adalah cara paling indah untuk pulang.










