Kalau ngomongin kota besar di Indonesia, nama Surabaya hampir selalu masuk daftar teratas. Kota ini bukan cuma besar secara ukuran dan ekonomi, tapi juga besar secara sejarah dan karakter. Surabaya punya vibe yang beda: keras tapi hangat, modern tapi tetap penuh cerita masa lalu. Dari pelabuhan tua, kisah heroik perang kemerdekaan, sampai transformasi jadi kota metropolitan — semuanya bikin sejarah Surabaya menarik banget buat dikulik.
Yuk, kita bahas perjalanan panjang Kota Surabaya dengan gaya santai tapi tetap berisi!
Awal Mula Surabaya: Dari Cerita Legenda ke Fakta Sejarah
Nama “Surabaya” sering dikaitkan dengan legenda pertarungan antara ikan sura (hiu) dan baya (buaya). Cerita ini terkenal banget dan bahkan jadi simbol resmi kota sampai sekarang. Meski begitu, sejarawan bilang kalau asal-usul nama Surabaya kemungkinan lebih kompleks daripada sekadar legenda.
Secara historis, Surabaya sudah dikenal sejak abad ke-13 saat wilayah ini berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit. Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa Timur bikin kawasan ini berkembang sebagai pelabuhan penting. Surabaya jadi titik temu perdagangan antarpulau bahkan antarnegara.
Di masa itu, jalur laut adalah “jalan tol” utama perdagangan. Kapal-kapal dari berbagai daerah mampir di Surabaya buat tukar barang seperti rempah-rempah, beras, hingga hasil kerajinan. Jadi, sejak awal Surabaya memang sudah punya DNA sebagai kota perdagangan dan mobilitas tinggi.
Era Kerajaan dan Perdagangan: Surabaya Jadi Pusat Aktivitas
Setelah era Majapahit mulai meredup, Surabaya tetap eksis sebagai kota penting. Pada abad ke-15 hingga 16, Surabaya berkembang sebagai pelabuhan independen yang cukup kuat di Jawa Timur. Kota ini punya pengaruh besar dalam jaringan perdagangan maritim Nusantara.
Banyak pedagang dari Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa datang ke sini. Hal ini bikin Surabaya jadi kota yang multikultural sejak dulu. Campuran budaya itu masih terasa sampai sekarang lewat kuliner, bahasa sehari-hari, sampai karakter masyarakatnya yang terbuka.
Karena posisi strategisnya, Surabaya juga sering jadi rebutan kekuasaan. Kota ini pernah berada di bawah pengaruh Kesultanan Demak dan kemudian Mataram. Tapi satu hal yang konsisten: Surabaya selalu hidup berkat aktivitas ekonomi dan pelabuhannya.
Datangnya Bangsa Eropa: Awal Perubahan Besar
Masuknya bangsa Eropa, terutama Belanda lewat VOC pada abad ke-17, jadi titik balik besar dalam sejarah Surabaya. Belanda melihat potensi besar kota ini sebagai pusat perdagangan dan militer. Pelabuhan Surabaya diperluas, infrastruktur dibangun, dan kota mulai ditata dengan gaya kolonial.
Di era kolonial, Surabaya berkembang jadi salah satu kota terpenting di Hindia Belanda setelah Batavia (sekarang Jakarta). Jalan-jalan utama dibangun, kawasan bisnis tumbuh, dan jalur kereta api mulai menghubungkan Surabaya dengan kota lain di Jawa Timur.
Meski pembangunan meningkat, sisi gelap kolonialisme juga terasa. Banyak kebijakan yang lebih menguntungkan pihak kolonial dibanding masyarakat lokal. Tapi justru di masa ini juga mulai tumbuh semangat perlawanan dan kesadaran nasional di kalangan penduduk Surabaya.
Surabaya di Awal Abad ke-20: Kota Modern dengan Energi Baru
Masuk abad ke-20, Surabaya berubah menjadi kota modern yang ramai. Industri berkembang, pelabuhan makin sibuk, dan aktivitas sosial-politik meningkat pesat. Banyak organisasi pergerakan nasional muncul di kota ini, menjadikan Surabaya salah satu pusat kebangkitan nasional di Indonesia.
Transportasi umum mulai berkembang, surat kabar terbit, dan pendidikan modern mulai diakses masyarakat. Kota ini jadi melting pot berbagai kelompok sosial: pekerja pelabuhan, pedagang, kaum intelektual, dan komunitas internasional.
Suasana kota yang dinamis ini menciptakan karakter warga Surabaya yang dikenal tegas, berani, dan blak-blakan — karakter yang masih melekat sampai sekarang.
Pertempuran Surabaya 1945: Momen yang Mengubah Segalanya
Kalau ada satu peristiwa yang benar-benar mendefinisikan Surabaya, itu adalah Pertempuran Surabaya pada November 1945. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pasukan Sekutu datang ke Surabaya dengan misi yang menimbulkan ketegangan besar.
Ketegangan memuncak ketika terjadi pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dan pasukan asing. Pertempuran ini berlangsung sangat brutal dan menelan banyak korban. Namun semangat warga Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan tidak pernah padam.
Pidato-pidato penyemangat dari tokoh seperti Bung Tomo membakar semangat perjuangan rakyat. Dari sinilah Surabaya mendapat julukan “Kota Pahlawan”. Tanggal 10 November yang menjadi puncak pertempuran kini diperingati sebagai Hari Pahlawan nasional.
Peristiwa ini bukan cuma bagian dari sejarah lokal, tapi juga simbol perjuangan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Masa Pasca Kemerdekaan: Bangkit dan Berkembang
Setelah masa perang berakhir, Surabaya memasuki fase pembangunan ulang. Infrastruktur yang rusak perlahan diperbaiki, ekonomi mulai pulih, dan kota kembali menjalankan perannya sebagai pusat perdagangan di Jawa Timur.
Di era 1970-an hingga 1990-an, industrialisasi berkembang pesat. Banyak pabrik berdiri, kawasan permukiman meluas, dan arus urbanisasi meningkat. Surabaya tumbuh menjadi kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Pelabuhan Tanjung Perak tetap menjadi jantung aktivitas ekonomi, menghubungkan Surabaya dengan berbagai wilayah Indonesia dan dunia internasional.
Surabaya Modern: Kota Metropolitan dengan Sentuhan Humanis
Masuk era 2000-an, Surabaya mengalami transformasi besar. Pemerintah kota melakukan banyak inovasi dalam tata kota, termasuk pembangunan taman-taman kota, transportasi publik, dan perbaikan fasilitas umum.
Surabaya dikenal sebagai salah satu kota paling bersih dan tertata di Indonesia. Ruang publik diperbanyak, sungai dibersihkan, dan penghijauan menjadi prioritas. Kota ini berhasil menggabungkan perkembangan ekonomi dengan peningkatan kualitas hidup warganya.
Selain itu, sektor kreatif dan digital mulai berkembang. Banyak startup, komunitas kreatif, hingga event budaya hadir di Surabaya, membuat kota ini tidak hanya kuat secara ekonomi tapi juga kaya secara budaya.
Budaya dan Identitas Warga Surabaya
Salah satu hal paling khas dari Surabaya adalah karakter warganya. Orang Surabaya dikenal lugas, berani, dan punya rasa solidaritas tinggi. Bahasa sehari-hari yang ceplas-ceplos sering dianggap keras, tapi sebenarnya mencerminkan keterbukaan dan kejujuran.
Kuliner Surabaya juga bagian penting dari sejarahnya. Mulai dari rawon, rujak cingur, lontong balap, sampai sate klopo — semuanya mencerminkan pengaruh budaya yang beragam sejak masa perdagangan dulu.
Kota ini juga penuh dengan bangunan bersejarah seperti kawasan Kota Lama, Jembatan Merah, dan Tugu Pahlawan yang menjadi saksi perjalanan panjang Surabaya.
Kenapa Sejarah Surabaya Masih Relevan Hari Ini?
Belajar sejarah Surabaya bukan cuma soal nostalgia masa lalu. Ada banyak nilai yang bisa dipetik: semangat perjuangan, keberanian menghadapi tantangan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Surabaya mengajarkan bahwa sebuah kota bisa tetap mempertahankan identitas sambil terus berkembang. Dari pelabuhan kuno sampai kota metropolitan modern, Surabaya membuktikan dirinya sebagai kota yang selalu bergerak maju tanpa melupakan akar sejarahnya.
Sejarah Kota Surabaya adalah cerita tentang perjuangan, perdagangan, keberagaman, dan transformasi. Dari legenda sura dan baya hingga julukan Kota Pahlawan, setiap sudut kota ini menyimpan kisah yang membentuk identitasnya hari ini.
Di tengah modernisasi yang terus berjalan, Surabaya tetap berdiri sebagai kota dengan karakter kuat — berani, terbuka, dan penuh semangat. Mungkin itulah alasan kenapa banyak orang merasa Surabaya bukan sekadar kota besar, tapi juga kota yang punya jiwa.











