Menu

Mode Gelap
Elon Musk Beli Twitter: Pembaruan Twitter Siap Datang Seberapa Penting Kesehatan Untuk Kehidupan Perempuan Adalah Akar Peradaban Dunia Arti Orang Terdekat Dalam Kesuksesanmu

Life Hack · 24 Apr 2022 11:38 WIB ·

Adab Bergawai dan Berselancar di Dunia Maya


instagram/@chandradietya Perbesar

instagram/@chandradietya

Masalah ironi hari ini ialah teknologi informasi berkembang pesat, tetapi masyarakat justru kesulitan menemukan informasi yang akurat. Tua-muda dijerat oleh pesona gawai dan kemudahan berselancar di dunia maya. Tak ayal bila kemajuan digitalisasi justru mengikis pola kerja mekanis dan manual yang sebelumnya diterapkan manusia.

Dunia maya sekaligus menjadi kemasan citra diri para pengguna. Orang-orang mengunduh media sosial bukan sekadar untuk bersua atau menemukan kawan lama, berbagi kabar pada lingkar pertemanan, menawarkan barang atau jasa untuk dijual. Akan tetapi, orang gemar nian bersolek ria, berdandan necis, dan memamerkan kebolehan atau pencapaian.

Aplikasi pun kini mendukung kecenderungan tersebut dengan menambahkan fitur pengedit foto. Orang tak perlu bersusah-payah di depan cermin untuk mengulas bedak dan gincu. Tinggal pilih filter yang cocok di aplikasi, dan jadi.

Banyak dampak yang membuat orang-orang sebetulnya justru menjadi koyak. Ia jadi lebih mengejar hal-hal yang sifatnya semu. Lalu, bagaimana agar kita bisa lebih bijak dalam memanfaatkan benda mewah yang kini jadi kebutuhan primer tersebut?

  • Tentukan prioritas

Sebelum memutuskan membeli gawai, kita harus menentukan arah penggunaan kita. Apakah sekadar untuk berkomunikasi, belajar daring, pemekaran lapak jualan, atau sekadar bergaya biar tidak dianggap cupu, kudet, kuper, kampungan, dan ketinggalan zaman? Pondasi ini harus kuat. Sebab, saat gawai sudah di tangan, kita akan rawan tergiur dengan berbagai fitur yang disajikan.

  • Maksimalkan komunikasi

Ada lagi ironi zaman digital. Orang dipermudah dengan aplikasi berkirim pesan. Akan tetapi, yang terjadi adalah centang satu, centang dua abu-abu, atau centang biru tanpa balasan kepastian. Bikin gemas, kan? Tentu saja. Banyak pro-kontra tentang hal ini. Beberapa menganggap bahwa hal ini wajar. Beberapa menganggap bahwa hal ini adalah salah satu permasalahan. Namun, intinya adalah kembali pada fungsi utama gawai, yakni berkomunikasi.

Tidak hanya perihal membalas pesan, permasalahan komunikasi melalui dunia digital juga terkait perihal sopan santun. Ghosting adalah istilah paling tepat untuk menggambarkan ketidaksopansantunan dalam pergaulan digital. Sama halnya di kehidupan nyata, seseorang akan merasa tidak nyaman bila digantung, diberi harapan palsu, atau tidak diberi kepastian.

Hal yang tidak kalah penting dari memaksimalkan komunikasi adalah justru meminimalkan komunikasi. Jangan salah paham, ini jelas bukan imbauan untuk ghosting. Akan tetapi, gunakan gawai untuk mengomunikasikan hal-hal yang bersifat mendesak atau alasan waktu dan jarak.

Artinya, jangan berkomunikasi hanya karena mengutamakan sisi praktis saja. Tetap utamakan berkomunikasi secara langsung, bertemu, berhadap-hadapan. Bukankah tiada kesan tanpa suatu kehadiran? Ingat, gawai hanyalah benda canggih yang fungsinya memudahkan sesuatu yang dianggap sulit, bukan mengganti segala hal menjadi instan dengan bantuan kecanggihan teknologi digital.

  • Kontrol ekspresi

Dunia maya adalah ajang berekspresi. Orang bebas mengekspresikan segala hal yang ia inginkan. Konten berupa blog, vlog, tutorial, life hack, ceramah, opini, puisi, cover lagu, dlsb. beredar bebas. Hal tersebut dipengaruhi oleh sisi narsistik manusia yang ingin mempertahankan eksistensinya. Tak ayal bila seseorang yang pendiam di dunia nyata menjadi sangat terbuka dan ekspresif di dunia maya.

Kebebasan berekspresi tersebut berdampak pada setidaknya dua hal; bias informasi dan konsumtif tontonan. Pertama adalah bias informasi. Kini, motivasi orang-orang dalam mengunggah konten bukan lagi didorong oleh keinginan berbagi pengetahuan semata, melainkan dorongan untuk menjadi terkenal dan mendapat tambahan cuan. Hal tersebut berpengaruh pada kualitas konten yang diunggah. Banjir konten justru mengaburkan inti dan berbagai poin penting dari topik yang ingin disampaikan.

Kedua adalah konsumtif tontonan. Orang cenderung menghabiskan waktu, tenaga, energi, dan kuota untuk membuka tulisan, audio, ataupun video tentang berbagai hal. Beberapa di antaranya terkesan positif, seperti tutorial membuat atau melakukan sesuatu, nasihat-nasihat motivatif, vlog para influencer, dan semacamnya. Akan tetapi, rupanya hal-hal positif tersebut hanya menumpuk di benak, tidak lekas dijadikan sebagai pemecut dalam berbuat. Orang-orang cenderung mengonsumsi tanpa henti, tetapi tidak lekas menjadi produktif.

Konsumtif tontonan juga berakibat pada penggiringan atau pendiktean selera. Orang yang lemah dalam menyaring informasi akan cenderung mengikuti segala yang ditonton, alias bersikap imitatif. Hal tersebut justru berpotensi mereduksi daya kreativitas seseorang.

Lantas, apakah para kreator konten tersebut salah? Silakan jawab pertanyaan ini dalam pikiran masing-masing. Kenyataan yang terjadi adalah, khususnya, para pengguna media sosial mudah didikte oleh suguhan konten di explore Instagram, beranda Facebook ataupun Youtube, dlsb. Alih-alih, mengomando jari-jari untuk mengetik hal yang dibutuhkan di mesin pencarian.

Intinya adalah seorang penonton perlu menyaring informasi yang diperoleh, mengedukasi diri sendiri untuk memanajemen banjir pengetahuan yang diperoleh dari tontonan, dan lebih selektif dalam memilih tontonan. Adapun para kreator perlu lebih berhati-hati agar tidak membuat karya-karya polutif yang dapat berdampak panjang pada para penontonnya.

Satu hal terakhir sebagai kunci pamungkas dalam menjalankan adab bergawai dan berselancar di dunia maya adalah bertindak kebalikan. Ketika kita sedang berbicara, tiba-tiba ada kendaraan yang lewat, suara mesinnya mengganggu telinga dan pembicaraan kita. Biasanya, kita jadi harus ngotot dalam bersuara agar tak kalah saing dari suara mesin.

Pada saat seperti itu, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah mengeraskan suara, melainkan diam sejenak, menunggu berlalu, atau melakukan aktivitas lain. Demikian pula dalam berselancar di dunia maya; ketika orang lain memenuhi beranda dengan suara-suara mereka, kita perlu menggali kreativitas untuk menjadi berbeda dan khas. Menjadi diri sendiri jauh lebih menyenangkan daripada mengikuti tren yang dikembangkan. Apabila hal itu terlalu sulit, maka lakukan seperti ketika kendaraan lewat, kita hanya perlu untuk diam.

Kontributor Media Edukasi Indonesia : Hilda Alayda 

Komentar
Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya

Introvert dan Ekstrovert, Kenali Perbedaannya.

15 September 2023 - 11:08 WIB

Introvert dan Ekstrovert

4 Game Typing Seru Untuk Menguji Kecepatan Mengetik

18 Juli 2023 - 12:00 WIB

4 Mata Uang Terendah di Dunia

3 Juli 2023 - 18:00 WIB

4 Mata Uang Terendah di Dunia

Tanda-Tanda Kamu Kurang Mendukung Diri Sendiri

9 Juni 2023 - 12:00 WIB

Tanda-Tanda Kamu Kurang Mendukung Diri Sendiri

5 Rekomendasi Perpustakaan Digital Gratis untuk Umum

6 Juni 2023 - 18:00 WIB

5 Rekomendasi Perpustakaan Digital Gratis untuk Umum

5 Makanan yang Cocok Dibawa Saat Traveling

28 Mei 2023 - 18:00 WIB

5 Makanan yang Cocok Dibawa Saat Traveling
Trending di Life Hack