Menu

Mode Gelap
Elon Musk Beli Twitter: Pembaruan Twitter Siap Datang Seberapa Penting Kesehatan Untuk Kehidupan Perempuan Adalah Akar Peradaban Dunia Arti Orang Terdekat Dalam Kesuksesanmu

Inspirasi · 24 Apr 2022 08:57 WIB ·

Inovasi Millenial, Pahlawan Masa Kini


Ilustrasi Pahlawan Masa Kini - Instagram/@liamtanu Perbesar

Ilustrasi Pahlawan Masa Kini - Instagram/@liamtanu

Kegigihan dan ketekadan tokoh para pejuang pendiri bangsa menjadi cerita insipirasi bagi setiap kalangan khususnya generasi muda. Generasi muda yang penuh ide-ide briian, semangat yang tidak sirna seperti para generasi muda bangsa Indonesia dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Cerita kepahlawanan yang disampaikan oleh orang tua di meja keluarga kepada anak-anaknya jadi pemantik semangat dalam hidup bahwasanya Indonesia hadir karena generasi muda yang berani dan tangguh. Cerita tersebut terus terbenak dan terngiang di kepala, seolah jati diri merupakan warisan para pejuang yang tidak takut dan gagah. Keinginan ingin menjadi tokoh utama yang selalu diceritakan oleh orang tua dahulu, zaman pun sudah berbeda. Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk maju, minimal adalah jadilah pahlawan bagi diri sendiri, kerabat, kolega dan keluarga yang selalu menampilkan budi pekerti kehidupan sehari-hari.

Watak gigih, pintar, berani, punya tekad kuat dan sebagainya. Sifat yang tercerminkan para Pahlawan bangsa yang sejatinya tidak pernah ingin dianggap diri sendiri, gelar pahlawan diberikan oleh orang lain sebagai suatu kehormatan dan tanda jasa. Bahwasanya, mendapatkan gelar pahlawan nasional, ada 2 syarat, yaitu syarat umum dan khusus. Adapun yang termasuk ke dalam syarat umum adalah 1) WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI, 2) Memiliki integritas moral dan keteladanan, 3) Berjasa terhadap bangsa dan negara,  4) Berkelakuan baik, 5) Setia dan tidak menghianati bangsa dan negara, dan 6) Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun (Kurniawati E. 2021).

Sementara itu, yang termasuk ke dalam syarat khusus adalah 1) Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, 2) Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan, 3) Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya, 4) Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara, 5) Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa, 6) Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi,  dan/atau 7) Melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional (Kurniawati E. 2021).

‘Phala’ (Bahasa Sansekerta) memiliki arti hasil atau buah, yang merupakan makna asal dari kata “Pahlawan” . Menurut KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia), pahlawan dimaknai sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Di Indonesia, pahlawan menjadi gelar yang ditetapkan secara legal oleh pemerintah yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan merupakan konstitusi yang mengatur mengenai gelar kepahlawanan secara formal, lebih tepatnya gelar pahlawan nasional (UNESA, 2016). Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia yang berjuang melawan penjajahan yang gugur demi membela bangsa dan negara Indonesia, atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia (UNESA, 2016).

Para pejuang telah mewujudkan semangat kepahlawanan yang menjadi amal perjuangan serta persembahan untuk bangsa dan tanah air Indonesia. Perjuangan mereka berdasar jiwa dan semangat rela berkorban untuk bangsa dan negaranya. Nilai-nilai kepahlawanan yang  relevan dan patut menjadi suri teladan bagi generasi muda adalah semangat juang yang menggelora, keberanian, rasa kesetiakawanan yang tinggi, strategi dan  perhitungan yang tepat, rela berkorban, sifat kegotongroyongan, cinta tanah air dan bangsa, tidak mengenal menyerah serta percaya pada kemampuan diri sendiri. Nilai-nilai Kepahlawanan perlu dijunjung tinggi dengan penuh kebanggaan dan diamalkan dalam berbagai kegiatan pembangunan serta kehidupan sehari-hari (Chaerulsyah, 2014).

Berkat perjuangan yang sangat heroik, Pahlawan Nasional diabadikan namanya sebagai nama jalan provinsi ataupun jalan lokal. Seperti di daerah Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur terdapat nama jalan H.O.S Tjokroaminoto yang merupakan pahlawan nasional yang berasal dari daerah tersebut. Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Tjokroaminoto lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur pada 16 Agustus 1882. H.O.S Tjokroaminoto mewarisi turunan bangsawan, ayahnya, R.M. Tjokroamiseno adalah seorang wedana atau asisten bupati. Sedangkan kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah menjadi Bupati Kabupaten Ponorogo. Sang pejuang merupakan salah satu pemimpin organisasi pertama di Indonesia, yaitu Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912. Seorang pahlawan nasional berjuluk Bapak Bangsa sekaligus pemimpin Sarekat Islam (SI), dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja. Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam (Chandara EM, dkk. 2021)

Kiprahnya sebagai guru menghasilkan murid yang menjadi tokoh-tokoh yang berpengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia. Mulai dari soekarno yang menjadi presiden pertama Indonesia, Semaoen, Musso, hingga Kartosoewirjo. Dalam berpikir dan berorasi Soekarno disebut mencontoh sang guru besar. Selain itu,  Soekarno meniru HOS Tjokroaminoto dalam penampilan. “Salah satu yang terpengaruh dan mengikuti jejak Pak Tjokro itu adalah Sukarno. Sebelumnya dia mengenakan blangkon tapi kemudian menggantinya dengan kopiah seperti Tjokro. Kopiah lantas tak lagi menjadi monopoli kalangan santri tapi sudah menasional,” tulis Abdul Mun’im DZ dalam buku ‘Fragmen Sejarah NU, Menyambung Akar Budaya Nusantara’ yang diterbitkan Pustaka Compass. Peci yang kini menjadi identitas nasional berawal dari kesadaran yang dibangun H.O.S  Tjokroaminoto, untuk menjadi bagian pemersatu bangsa Indonesia. (Chandara EM, dkk. 2021)

H.O.S  Tjokroaminoto hingga saat ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergerakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis. Kata-kata mutiaranya seperti “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotik, dan beliau menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan politik dan perdagangan Indonesia.

Tjokroaminoto mengajarkan rasa kecintaan pada tanah tumpah darah melalui cara mempelajari budaya dan adat istiadat bangsa nya sendiri. Pada praktiknya, setiap satu atau bahkan dua minggu sekali, beliau menyelenggarakan latihan wayang orang di sanggar seni Panti Harsoyo dengan anak-anaknya dan anak di pondokannya. Beliau juga senang memainkan gamelan juga menari. Tjokroaminoto sendiri selalu berusaha mengadakan pendidikan nasionalisme yang selalu menanamkan keberanian. Oleh sebab itu, pemuda harus memiliki akal yang pintar, budi pekerti yang halus, hidup yang sederhana, keberanian, mandiri, serta mencintai Tanah Air nya.

Tjokroaminoto mengajarkan benih keberanian yang luhur, hati yang ikhlas, kesetiaan, serta cinta pada yang benar. Menurut beliau, semua itu harus menjadi karakter bangsa Indonesia. Tjokroaminoto pernah dimusuhi oleh mertuanya karena dianggap gagal menjadi bangsawan. Kemudian, beliau meninggalkan profesinya juga gelar ningratnya sebab dirasa sang mertua sangat 

patuh dan taat kepada pemerintah colonial belanda dan pikirannya sangat kolot (Wicaksono, 2020).

Tjokroaminoto selalu menyemai benih perikebatinan yang lembut, keutamaan budi pekerti serta kebaikan perangai dan perilaku, serta kehidupan yang soleh. Beliau menunjukkannya dengan tulisan-tulisannya yang menggambarkan cara seorang pribadi harus berkelakuan baik, paling tidak tiap umat muslim seutuhnya. Beliau juga memasukkan pemikiran tersebut dalam silabus dan kurikulum untuk sekolah-sekolah Tjokroaminoto di setiap cabang Sarekat Islam (Wicaksono, 2020).

Menurut Tjokroaminoto, ilmu wajib didapat melalui akal, namun tidak boleh dipisahkan dari pendidikan budi pekerti serta pendidikan rohani. Islam yang berpegang kepada al-Qur’an serta hadits bertujuan meningkatkan beragam ilmu.Maka dari itu, pendidikan mesti berdasar serta tidak menyimpang dari pegangan serta sumber Islam tersebut (Wicaksono, 2020)

Tjokroaminoto sebagai pendidik yang toleran dan moderat layak kita jadikan teladan. Meskipun tidak mengambil pendidikan khusus guru, bahkan tidak terlahir dari keluarga pendidik, ia mampu memahami bahwa pendidik tidak berhak mencampuri pemikiran dan cara berpikir muridnya. Pendidik hanya berhak mentransfer ilmunya, mendukung, serta membantu perkembangan cara berpikir muridnya.

Dalam mewarisi cita-cita dan semangat berjuang H.O.S Tjokroaminoto mayoritas para pemuda di Ponorogo mempunyai tekat menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya hingga bangku perkuliahan. Banyak pemuda yang aktif berkontribusi dalam memajukan desa tempat tinggalnya, seperti kegiatan pengabdian mahasiswa dalam kegiatan Innovation Village di Desa Krebet, Ponorogo. Berlatar belakang kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat disabilitas yang ada di Desa Krebet, salah satu pemudi ponorogo berhasil mengimplementasikan ide atas permasalahan pemasaran produk yang dihasilkan masyarakat disabilitas dengan inovasi digital marketing yang dibesut adaptif. Atas keberhasilan implementasi digital marketing untuk penjualan produk masyarakat disabilitas Desa Krebet implementasi tersebut mendapatkan perhatian serta dukungan dari Wakil Bupati Ponorogo untuk terus berkontribusi aktif dalam mengembangkan desa tertinggal menjadi desa digital.

Selama satu minggu, pemasaran produk melalui inovasi digital marketing telah mendapatkan 9 transaksi dan lebih dari 20 produk terjual yang terdiri dari 4 provinsi berbeda. Dari penjualan tersebut dapat mencapai terget untuk memperluas pasar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat disabilitas untuk bisa survive ditengah keterbatasan yang ada. Dengan berjalannya pemasaran produk masyarakat disabilitas menjadikan mereka individu kreatif, produktif, mandiri serta meningkatkan sistem imun tubuh masyarakat disabilitas karena mereka merasa terapresiasi atas produk yang telah dibuat dapat diterima dan diminati oleh masyarakat lokal higga mancanegara, tentunya hal ini akan sesuai dengan SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) dan 3 (Desa Sehat dan Sejahtera). Implementasi digital marketing di Desa Krebet pada saat ini hingga kedepanya akan terus konsisten dan berkomitmen untuk memproduksi produk kerajinan dari bahan bekas dan kerajinan yang dibuat tidak menjadi barang sekali pakai karena kami memiliki tujuan sesuai dengan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi uang Bertanggung Jawab). 

Dampak nyata yang dirasakan masyarakat disabilitas dari implementasi ide pemudi yang peduli dengan desa tempat tinggalnya, dapat menjadi motivasi untuk daerah lainnya. Ide sederhana yang berdampak luar biasa untuk masyarakat disabilitas dalam menujang kesejahteraan serta menjadikan individu mandiri dan menghilangkan julukan kampung idiot  yang sudah lama melekat pada Desa Krebet. Sebutan “Kampung Idiot itu muncul tahun 2008, karena saat itu banyak sekali warga dengan disabilitas, mulai dari tuli, bisu, dan pola pikir yang lemah,” tulis Erwin Renaldi dalam artikel yang dimuat oleh  News pada tahun 2018. 

Dari pemaparan diatas, kita sebagai pemuda Indonesia sudah sepantasnya meneladani sikap dan semangat juang pahlawan nasional untuk meningkatkan kapasitas diri. Dimulai dari hal kecil seperti semangat belajar, berbakti kepada orang tua, sampai  hal besar seperti bisa memberikan dampak nyata untuk lingkungan sekitar kita. Selain itu, kita sebagai pemuda Indonesia harus bisa meneladani sikap atau perjuangan pahlawan nasional maupun pahlawan lokal yang ada di daerah tempat tinggal. 

Kontributor Media Edukasi Indonesia : Windi Indah Purnamasari

Komentar
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Dari Komedian Jadi Sutradara Gemilang, Inilah Kisah Sukses Jordan Peele

10 Agustus 2023 - 18:00 WIB

Jordan Peele

Habis Gajian? 4 Buku Keuangan yang Membantu Pengeluaranmu!

9 Agustus 2023 - 18:00 WIB

Buku Keuangan

Menembus Atmosfer, Kisah Inspiratif di Balik Penemu Roket

7 Agustus 2023 - 18:00 WIB

Penemu Roket

Sukseskan Perayaan 17 Agustus dengan 5 Lomba Kreatif!

3 Agustus 2023 - 15:00 WIB

Lomba Kemerdekaan Indonesia

Meneladani Semangat 4 Tokoh Inspiratif yang Tak Kenal Menyerah

1 Agustus 2023 - 18:00 WIB

Tokoh Inspiratif Tak Kenal Menyerah

Intip 4 Karir Cemerlang untuk Lulusan Sastra Inggris

9 Juni 2023 - 18:00 WIB

Intip 4 Karir Cemerlang untuk Lulusan Sastra Inggris
Trending di Inspirasi