Menu

Mode Gelap
Elon Musk Beli Twitter: Pembaruan Twitter Siap Datang Seberapa Penting Kesehatan Untuk Kehidupan Perempuan Adalah Akar Peradaban Dunia Arti Orang Terdekat Dalam Kesuksesanmu

Buku · 22 Mar 2022 01:28 WIB ·

Kekuatan Memahami dan Perempuan-Perempuan Kalah dalam “Penggali Sumur”


Penggali Sumur - Kumpulan Cerita Pendek Perbesar

Penggali Sumur - Kumpulan Cerita Pendek

Dalam artikel ini, saya akan mencoba menafsir buku “Penggali Sumur” dan isi di dalamnya, lalu memberikan pandangan sederhana bahwa menulis membutuhkan dimensi kreatif dan provokatif.

Tentang “Penggali Sumur”

Selo Lamatapo menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul “Penggali Sumur”. Buku yang  berisi 15 cerpen ini diberi “prolog” oleh P. Charles Beraf, SVD dan ditestimoni oleh Ignas Kleden.

Sebagai seorang pembaca, saya tentu memiliki interpretasi tersendiri atas buku kumpulan cerpen ini. Otonomi pembaca tentu menjadi sah ketika sebuah pemikiran/buku dilemparkan ke ruang publik. Basis argumentasi saya dan menjadi semacam legitimasi atas otonomi pembaca  pada pernyataan Budi Darma berikut ini: “Dalam sastra terdapat banyak kemungkinan. Sesuatu dalam sastra mungkin bisa menjadi benar dan bisa menjadi salah, pokoknya disertai dengan argumentasi yang meyakinkan,” (Budi Darma, Solilokui: Kumpulan Esei Sastra, cet. II (Jakarta: Gramedia, 1984), hlm. 89).

Oleh karena itu, sebelum masuk pada isi buku, saya hendak melihat dua poin penulisan cerpen dalam buku ini. Pertama, menulis “sastra kontekstual”: menulis dari kisah pergumulan bersama orang-orang di sekitarnya. Selo menulis dengan ‘terjun’ ke dalam realitas masyarakat di kampungnya, Lembata. Selo tidak menulis dengan sebuah imajinasi kosong tanpa pengalaman konkrit yang dialaminya. Singkatnya, Selo ‘ada bersama’, merasakan pengalaman dan curahan hati orang-orang dekatnya, sembari merenungkan betapa getirnya hidup yang dialami masyarakat sekitarnya.

Dengan ini, secara implisit, Selo membangkitkan kembali perdebatan publik menegenai “sastra kontekstual” yang pernah digaungkan oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto pada tahun 1984. Meski “sastra kontekstual” yang dicanangkan oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto ini dikritik oleh Saut Situmorang sebagai sebuah kelemahan dengan menegaskan bahwa siapa yang bisa menentukan bahwa sebuah karya sastra kontekstual merupakan representasi dari kontekstualisme sastra itu sendiri, setidaknya Selo menunjukkan kepada pembaca buku ini bahwasanya menulis dari ‘ada bersama’ dengan lokus lokal seraya mengolahnya lewat kontemplasi dan imajinasi kreatif merupakan kecakapan yang mesti dimiliki oleh seorang penulis karya sastra (catatan: perdebatan mengenai “sastra kontekstual” dapat dibaca dalam buku “Perdebatan Sastra Kontekstual” yang ditulis oleh Ariel Heryanto dan diterbitkan tahun 1985. Selain itu, kelemahan-kelemahan lain dari “sastra kontekstual” yang dikritik Saut Situmorang dapat dibaca lebih lanjut dalam boemipoetra.wordpress.com).

Kedua, menulis karya sastra membutuhkan waktu dan usaha yang gigih. Kumpulan cerpen yang ada dalam buku ini merupakan pilihan dari cerpen yang pernah dimuat di media (nasional dan lokal) dan cerpen yang diseleksi dari hasil karya dan konsumsi pribadi (dari rentang waktu tahun 2016-2021). Selain itu, ‘pengakuan’ Selo saat peluncuran buku “Penggali Sumur” dan diskusi atas buku yang diselenggarakan oleh Seksi Aletheia Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada 28 Februari 2021 lalu juga menegaskan hal yang sama. Kira-kira demikian pengakuan Selo: “Saya melihat kembali cerpen yang pernah saya buat dan ada yang berhasil tayang di beberapa media. Saya mengambil kesempatan emas saat masa probasi (masa sesudah pulang berpraktik pastoral dan momen refleksi sebelum mengikrarkan kaul kekal) di mana suasana hening yang tercipta saya pakai untuk mengutak-atik kembali cerpen. Saya pernah menulis sampai pada taraf bosan atau tidak suka dengan cerpen-cerpen saya. Sampai pada akhirnya saya merasa nyaman untuk diterbitkan menjadi buku.” Pengakuan Selo ini diberi makna yang luas oleh P. Charles Beraf, SVD. Mengutip pernyataan P. Jozef Pieniazek, SVD, Pater Charles mengatakan: “Kalau seorang penulis sampai pada tingkat merasa muak dengan tulisan sebelumnya, itu berarti ia sudah berkembang dalam penulisan.”

Itu artinya, Selo menunjukkan kepada publik bahwa menulis karya sastra selalu membutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketekunan. Karya sastra bukanlah sebuah karya yang dihasilkan dari mimpi siang bolong atau sistem kebut semalam. Dan, ini yang terjadi pada berbagai karya sastra yang marak akhir-akhir ini. Hasilnya, sejauh pengamatan saya, karya sastra tersebut tidak memiliki “marwah” sastra. Karya tersebut rentan jatuh pada fatalism ini: terdiri dari susunan kata-kata indah yang hampir sama dengan penguatan/quotes rohani. Dan, karya Selo memberikan demarkasi yang tegas akan “marwah” sebuah karya sastra yang sebenar-benarnya.

Mari kita masuk ke bagian isi buku. Sebelum itu, dalam tulisan ini, saya hanya mencoba memberi makna dengan dua poin tafsiran, yakni kekuatan memahami dan perempuan-perempuan kalah. Hal ini beralasan, perspektif menafsir dalam “Prolog” yang ditulis P. Charles Beraf, SVD, testimoni Ignas Kleden di bagian sampul belakang buku, dan tafsiran P. Ve Nahak, SVD dalam diskusi yang diadakan oleh Seksi Aletheia Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada tanggal 28 Februari 2021 sudah memberikan ‘asupan’ berarti bagi buku ini.

Pertama, kekuatan memahami. Sebagaimana karya Selo merupakan sebuah karya ‘ada bersama’, kekuatan memahami mendapat peran sentral. Memahami di sini mesti dilihat sebagai kecakapan untuk menjangkau orang lain. Berbeda dengan mengetahui, memahami selalu megandalkan keterlibatan dalam hidup orang lain yang memampukan seseorang menangkap ‘makna’ dari perjumpaan tersebut (F. Budi Hardiman: 2015, hlm. 9).

Dalam beberapa cerpen, Selo mengajak forum pembaca untuk melihat betapa urgen dan mendesaknya kekuatan memahami. Hal ini dapat dijumpai dalam cerpen “Penggali Sumur”:

“Om Banus masih berdiri tercenung di sumur itu. Aku tergerak untuk menemuinya. Kudapati ember dan bergegas ke sumur. Ada bersama Om Banus adalah suatu kebahagiaan bagiku. Apalagi mendengar ia bercerita tentang perjuangannya menggali sumur” (hlm. 3).

Selain itu, dalam cerpen “Jari Kecil Ari”, Selo secara gambling menggambarkan si “Aku” yang mengalami peralihan dari tahap “mengetahui” ke tahap “memahami”. Si “Aku” yang awalnya hanya “mengetahui” kerinduan adiknya akan sosok ibu dan tidak memahami secara pasti  apa yang ditulis adiknya “di tanah jalanan dan debunya diterbangkan ke arah lautan”, akhirnya mampu membongkar tabir itu berkat kekuatan memahami.

“Pada tanah jalan kemarin, saat angin belum sempurna menerbangkan debunya pagi ini, aku menemukan tulisan dari jari kecilnya yang nyaris tidak bisa kubaca: “Pulanglah, Ma.’ Tulisan ini berbaring hening di tanah dan memiliki napasnya sendiri. Aku percaya, kerinduan ini tak akan pernah lekang, sebab ia dibaringkan pada tanah di mana rindu dan manusia tercipta. Ia merindukan kebersamaan yang tak akan lagi terpisahkan serupa debu tanah dan jalanan. Namanya Ari. Ia merindukan ibu diNegeri Jiran melalui tanah di perempatan jalan yang diterbangkan angin kea rah lautan” (hlm.103-104).

Sementara itu, dalam cerpen “Ibu yang Merindu”, Selo membeberkan kepada pembaca pentingnya sebuah perspektif memahami dalam dimensi yang lebih luas, yakni politik (sebuah megaproyek kesejahteraan bersama). Dalam narasinya, si “Aku” membongkar kedok ‘dosa’ karena ketakbecusan para penguasa: dermaga yang belum diperbaiki karena ada beberapa titik berlubang dibumbui dengan sampah plastik yang berserakan, jalanan kota yang masih berlubang, taman kota yang mirip seperti taman rumput kering, aspal-aspal yang tercabut, kerikil yang tercecer di mana-mana, dan debu jalanan yang mengakibatkan batang pohon menjadi gelap.

Pemahaman ‘politis’ si “Aku’ bisa dilihat dalam perjumpaan dengan ibu yang tak mampu diungkapkan si “Aku” sebagai berikut:

“Ah, Ibu. Perubahan yang adil adalah perubahan yang merata. Kasihan kampung-kampung yang tak kedapatan perbaikan jalan, kekurangan air bersih, tidak ada listrik yang masuk lantaran anggaran dana pembangunan telah lenyap entah ke kantong mana” (hlm. 111).

Dan, pemahaman akan dimensi ‘politis’ ini terangkaum dalam kritik yang sangat progresif:

“Semestinya jalanan di kampungku lebih baik dari sekarang dengan dana yang ada, tetapi masyarakat hanya merasakan yang begitu-begitu saja lantaran keegoisan para petinggi rakyat. Dan ibu yang kian tua tak akan pernah memahami hal ini” (hlm. 112).

Kedua, perempuan-perempuan kalah. Seperti yang saya tegaskan sebelumnya, Selo menulis kisah ini berdasarkan ‘ada bersama’ orang-orang di sekitarnya. Dan, Selo menulis apa adanya: apa yang terjadi, apa yang ia lihat dan alami. Meski ada kesederajatan/kesetaraan antara perempuan dan laki-laki yang dibuat Selo dalam cerpen pertama tentang “Penggali Sumur” (P. Charles Beraf, SVD membahasakan ini dalam diskusi sebagai sebuah sintesis: perempuan diposisikan sama tinggi dengan laki-laki), dalam cerpen-cerpen berikutnya, ada realitas perempuan-perempuan yang kalah.

Dalam cerpen “Lubang Besar di hutan Tebu”, tokoh Sarinah dilukiskan sebagai tokoh yang pasrah berhadapan dengan Tohar, suaminya. Tohar yang marah dengan tanpa belaskasihan menyumpahi, menggebuk/membunuh, dan menguburkan kucing yang memakan ikan goreng tangkapannya (ikan tersebut merupakan lauk saat makan malam bersama anggota kelompoknya – Tohar bersama beberapa temannya tergabung dalam kelompok yang dicuragai merusak kenyamanan warga kampung) dan tikus yang terperangkap dalam perangkap. Lukisan kekalahan Sarinah dapat dilihat dalam percakapan berikut:

“Pisahkan kucing dan tikus itu, Tohar. Jangan dikuburkan bersama-sama.’

‘Biarkan saja! Binatang yang merugikan tidak perlu dikasihani, Sarinah.’

‘Tidakkah kau takut kalau kita mati dan dikuburkan seperti ini, Tohar?’

‘Tidak perlulah kau terlampau cemas, Sarinah” (bdk. hlm. 12-13, 14-15, 19).

“Tohar menutup kembali lubang itu dengan gundukan tanah. Sarinah diam. Di barat, matahari terbenam menyisakan gelap. Sarinah masuk ke dalam rumah, menyalakan pelita, menyiapkan segala hal untuk pertemuan yang diadakan Tohar bersama anggotanya di rumah mereka” (hlm. 15 dan 19).

Selain itu, kekalahan Sarinah dapat dilihat dalam dialog lain dari cerpen yang sama:

“Sarinah yang mendengar desas-desus warga kerap meminta Tohar untuk berhenti terlibat dalam kelompok itu.

‘Saya takut kejadian sebagaimana dialami ayah terulang lagi, Tohar.’

‘Tidak apa-apa, Sarinah. Ini untuk misi tertentu. Jangan percaya desas-desus warga setempat.’ Sarinah diam” (hlm. 17-18).

Di sini, relasi kuasa sangat kental. Perempuan (Sarinah) mesti mengalah berhadapan dengan laki-laki (Tohar) karena laki-laki menentukan berbagai keputusan dalam hidup berkeluarga. Perempuan hanya menjadi semacam the second sex yang hanya diam, mendengar, dan melaksanakan tugas. Selesai.

Hal yang sama dapat kita temui dalam cerpen “Dua Cangkir Kopi di hari Ulang Tahun Pernikahan”. Hanya dengan alasan kopi yang tidak sesuai selera, perempuan (Jesica) disalahkan oleh laki-laki (Philipus Lodo) dan berujung pada pertengkaran dalam rumah tangga. Sementara, “ia (Jesica) telah menyeruput dan merasa kopi buatannya adalah kopi terbaik” (hlm. 46).

Dalam cerpen ini juga, Selo menggunakan teknik alur mundur. Selo mengisahkan perceraian antara ayah dan ibu Jesica terjadi karena hal yang sama: kopi buatan ibunya yang tidak enak. Pernyataan lengkap berbunyi demikian:

“Ayahnya (Jesica) marah-marah karena kopi buatan ibunya tidak sesuai rasa ayahnya. Hampir tidak pernah ada pujian untuk ibunya. Hingga suatu pagi, ketika kejenuhan telah menumpuk dan menjadi sesak, ibunya memutuskan untuk meninggalkan ayahnya dan mereka bertiga. Ibunya pergi usai bertengkar begitu hebat dengan ayahnya di suatu pagi musim panas. ‘Kopi buatanku selalu tidak sesuai rasamu. Selalu saja salah, salah, dan salah! Tidak pernah sedikit pun engkau berterima kasih dan sedikit memuji.’ Ibunya meraung-raung di ruang makan…” (hlm. 49).

Dalam cerpen “Lelaki yang Ingin Menjadi Laut”, ada semacam sintesis di sana. Untuk meruntuhkan kisah laut yang kejam, si “Aku” memilih untuk mendengar nasihat dari Deran, kekasihnya, yang memintanya untuk mencitai laut; membongkar sekat pemisah yang dibuat ibunya agar akrab dengan suasana laut. Dan, akhirnya, si “Aku” memutuskan untuk ‘ingin menjadi laut’. Meskipun demikian, ketika pembaca mengarahkan pandangannya untuk melihat sosok Deran, ada semacam narasi perempuan yang kalah. Deran meninggal karena penyakit yang dideritanya (mungkin ini sejenis penyakit menular. Hal ini bisa dilihat dalam gambaran Deran yang tubuhnya kian kurus dari hari ke hari dan sakit-sakitan. Juga penyataan Dokter kepada si “Aku” tentang penyakit mematikan yang diderita Deran). Dan, penyebab kematian Deran yang diwanti-wanti mengidap penyakit menular inilah, orang-orang dekat menjauhi, menghindar, dan membentengi diri dari pergaulan dengan si “Aku” (bdk. hlm. 80). Dengan ini, pembaca bisa dikejutkan, ada semacam stigmatisasi yang menghasilkan diskriminasi bagi si “Aku” karena sang perempuan (Deran).

Narasi perempuan kalah juga dapat ditemui dalam cerpen “Warisan Sopir”. Meski dalam keadaan marah, sang istri (Maria) mesti akhirnya menuruti permintaan suaminya (si “Aku”) untuk membelikan mobil mainan bagi anak mereka (Petrus Pulo, seorang lelaki). Maria pun mesti mengalah ketika sang suami menginkan anaknya bercita-cita menjadi seorang sopir seperti keinginan suaminya, seperti status suaminya (bdk. hlm. 83-96).

Dalam cerpen “Jari Kecil Ari”, perempuan kalah digambarkan sebagai ibu dari si “Aku” yang berselingkuh dengan suami Rosa (kakak kandung sang ibu) dan mengandung Ari. Karena peristiwa ini, “Ibu hidup dalam cemoohan anggota keluarga dan masyarakat kampung kami. Namun, ia menerima semua itu dengan tabah yang kekal. Serupa ketabahannya memasrahkan diri kepada suami Rosa” (hlm. 100-101). Sebagaimana sebuah perselingkuhan, mengapa perempuan seorang diri yang mesti dihakimi? Bukankah perselingkuhan mengandaikan laki-laki dan perempuan? Pepatah kuno menjadi berkonteks di sini: sudah jatuh, tertimpa tangga lagi; sudah menyerahkan diri pada suami orang, dicemooh lagi.

Senada dengan cerpen di atas, “Ibu yang Merindu” juga memperkokoh kelemahan perempuan. Berbeda dengan Bang Sius (seorang ojek) yang mengetahui dengan baik jalan yang berkualitas dan tidak berkualitas, si “ibu” ditonjolkan sebagai tokoh yang tidak memahami apa-apa tentang situasi politik di daerahnya. Padahal, kondisi jalan yang rusak disebabkan karena pemerintah yang kurang bercus mengemban tanggung jawab dan amanat rakyat. Selo melukiskan demikian: “Namun, begitulah orang-orang yang tak paham politik yang ada… Apa yang mereka alami sekarang itulah perubahan, walau banyak kepalsuan. Maka, tak heran ibu selalu membanggakan pemimpin saat ini da sekaligus mendorongku untuk memilih pemimpin itu pada periode berikut” (hlm. 112).

Dalam “Tukang Cukur dan Bayangan Kenangan” juga dijumpai hal yang sama. Atas kerja sama busuk antara Philipus Lodo (Kepala Desa) dan dukun Bengko, istri om Banus (Vero Peni) dituduh sebagai orang yang menyantet anak Philipus Lodo sehingga meninggal. Berita bohong ini pun tersebar di tengah masyarakat dan Vero Peni menjadi korban pembunuhan (bdk. hlm. 125-128).

Dan, akhirnya cerpen “Perempuan Sekarat dalam Lukisan” menjadi babak akhir perempuan kalah. Selain dalam lukisan yang pada awalnya adalah seorang perempuan hamil dengan nuansa teduh dipandang mata tetapi pada akhirnya diubah menjadi sesosok perempuan yang mesti mati menggenaskan karena kekurangan oksigen, istri Urbanus digambarkan sebagai tokoh yang tidak memahami seni (bdk. hlm. 143).

Pelukisan perempuan kalah dalam kumpulan cerpen Selo ini tentu beralasan. Selain Selo menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang laki-laki dalam berbagai cerpen, situasi di kampungnya memang terjadi demikian. Perempuan selalu melayani laki-laki. Dan, ini dianggap sebagai sesuatu yang natural terjadi. Selo pun menulis apa adanya, tanpa tedeng aling. Selo menulis realitas yang terjadi di kampungnya.

Namun, pertanyaan gugatan yang mesti diajukan adalah: Bukankah hal yang biasa ini menggambarkan diskriminasi atas perempuan?

Menulis: Kreatif dan Provokatif

Saya hendak membuat semacam simpul yang menghubungkan antara penulisan buku ini dan isi yang sudah dibahas sebelumnya dengan memberikan perspektif baru dalam menulis: kreatif dan provokatif.

Menulis itu sebuah megaproyek raksasa yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan. Oleh karena itu, sebelum menulis, hal pertama yang mesti dilakukan adalah membaca. Sebab, orang tidak bisa menulis dari sebuah ruang hampa, dari kekosongan, dari alam yang antah berantah. Orang mesti membaca lebih dulu.

Patut diketahui, membaca yang dimaksudkan di sini tidak sekadar membaca buku sebagai sebuah jendela dunia. Lebih dalam, aktus membaca mesti sampai pada tahap membaca tanda-tanda zaman. Tanda zaman ini teakomodasi dalam realitas sehari-hari. Realitas ini acapkali dibiarkan begitu saja, bahkan dilupakan. Singkatnya, dengan aktus membaca, seseorang tidak terkekang dalam dunianya sendiri, merasa nyaman dengan menara gadingnya, serentak melupakan feomena yang terjadi setiap hari.

Pertanyaannya: Seusai membaca, apa? Menulis. Menulis bukan hanya bersifat hic et nunc (sini dan kini), melainkan proyek berkelanjutan. Penegasan Pramoedya Ananta Toer sebelumnya menjadi penanda bagi kita: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Untuk merealisasikan hal tersebut, menulis itu seumpama dua bagian dari mata uang logam yang sama: kreatif, serentak provokatif. Dikatakan kreatif karena dengan menulis, seseorang berusaha menghidupkan dan menuangkan ide-ide dalam bentuk kata-kata. Ide tidak terkurung dan mati dalam dirinya. Ide berbuah dalam kata-kata. Ide menghasilkan refleksi kritis atas sesuatu. Setiap orang yang berhasil menulis, ia berhasil mengembangkan potensi kreatif dalam dirinya.

Selain dimensi kreatif, menulis juga merupakan sebuah aktus provokatif. Provokatif di sini lebih dipahami sebagai sebuah katarsis; sebuah tindakan pembersihan jiwa. Katarsis akan membawa manusia pada perenungan lebih lanjut mengenai makna dan tujuan hidup yang telah dijalani (Ahmad Norma: 2017, hlm. xxi). Menulis adalah tindakan provokatif untuk menegakan bonum commune; provokatif artinya sebuah ikhtiar keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari.

Hemat saya, buku “Penggali Sumur” karya Selo mengandung dua dimensi ini: kreatif dan provokatif. Kreatif karena Selo mampu menulis dengan sangat teliti keseharian hidup masyarakat dengan gaya bahasa yang memungkinkan publik melihat menikmati cerita yang ada. Dengan gaya bahasa yang akurat, Selo mampu mengangkat kebaikan-kebaikan lokal yang ada untuk direnungkan kembali oleh pembaca di tengah gempuran arus globalisasi.

Sementara itu, “Penggali Sumur” merupakan sebuah karya provokatif karena membuka kemungkinan perdebatan publik yang lebih luas. Selo mengajak kita untuk membaca sembari merenungkan kembali realitas yang terjadi di tengah masyarakat kita. Apakah konstruksi sosial yang dibuat masyarakat masih relevan dengan situasi saat ini?

Atas dasar dua kebajikan dari menulis (kreatif, serentak provokatif), saya melihat buku “Penggali Sumur” karya Selo Lamatapo adalah sebuah jembatan yang mampu mengantar masyarakat kita bertumbuh dalam kecakapan dan budaya kritis. Dengan itu, sebagai sebuah karya untuk keabadian, Selo mengajak kita untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama (bonum commune) di negeri tercinta ini.

Akhirnya, di hadapan “Penggali Sumur”, kita bertanya: Sudahkah kita menggali kedalaman hidup masyarakat di sekitar kita?***

Kontributor Media Edukasi Indonesia : Krispinus Ibu

Komentar
Artikel ini telah dibaca 235 kali

Baca Lainnya

4 Rekomendasi Buku Bertema Perempuan yang Menarik untuk Dibaca

7 Juni 2023 - 18:00 WIB

4 Rekomendasi Buku Bertema Perempuan yang Menarik untuk Dibaca

3 Rekomendasi Novel Pendidikan Karya Anak Bangsa

19 Mei 2023 - 18:00 WIB

4 Buku Untuk Menemani Kamu Saat Pergantian Tahun

11 Desember 2022 - 12:13 WIB

Buku Untuk Menemani Kamu Saat Pergantian Tahun

Tips Anti Ngantuk saat Membaca Buku

2 November 2022 - 09:00 WIB

3 Rekomendasi Buku tentang Leadership, Bantu Kamu Jadi Pemimpin yang Baik

7 Oktober 2022 - 09:00 WIB

3 Film Terkenal Hasil Adaptasi Buku Karya Roald Dahl

6 Oktober 2022 - 20:00 WIB

Trending di Buku