Menu

Mode Gelap
Elon Musk Beli Twitter: Pembaruan Twitter Siap Datang Seberapa Penting Kesehatan Untuk Kehidupan Perempuan Adalah Akar Peradaban Dunia Arti Orang Terdekat Dalam Kesuksesanmu

Film · 24 Apr 2022 09:20 WIB ·

Tanah Ibu Kami, Sebuah Rekaman Perjuangan Perempuan Melindungi Ibu Bumi


Img by The Gecko Project & Mongabay Perbesar

Img by The Gecko Project & Mongabay

Tanah Ibu Kami bukan hanya sebuah film, melainkan ulasan perjalanan dan rangkuman pelajaran yang bisa diceritakan oleh Febriana Firdaus mengenai perjuangan, kelembutan dan rasa ingin melindungi ibu bumi oleh perempuan-perempuan mengagumkan di berbagai titik di Indonesia. Film dokumenter berdurasi 55 menit 44 detik ini diproduksi oleh The Gecko Project @geckoproj & Mongabay @mongabayID bersama jurnalis Febriana Firdaus @febrofirdaus. Film ini tayang perdana pada tanggal 2 November 2020 di Kanal Youtube The Gecko Project.

Tanah Ibu Kami dimulai dengan cerita dari Jawa Tengah ketika Febriana bertemu dengan penduduk Kendeng yang pernah melakukan aksi protes di depan Istana Presiden untuk menolak dibangunnya Pabrik Semen di daerah Kendeng. Dikenal sebagai “9 Kartini Kendeng”, para perempuan ini rela keluar dari desa mereka dan berada di garda terdepan saat melakukan protes tersebut, memimpin protes agar berjalan dengan damai dan tertib.

“Ibu-ibu mengendalikan semua agar tidak ada kekerasan apalagi korban jiwa dan untuk memperjuangkan lingkungan ini, tidak harus bapak,” tutur Sukinah, salah satu Kartini Kendeng dalam film Tanah Ibu Kami.

Berlanjut ke daerah Mollo, Nusa Tenggara Timur. Para perempuan di Mollo telah berjuang dari tahun 1990 sampai 2000-an, meninggalkan rumah dan sawah mereka untuk melindungi Pegunungan Mollo dari sasaran perusahaan Tambang. Telah mengorbankan banyak hal, para perempuan ini juga mendapatkan perlakuan yang semena-mena dari Perusahaan Tambang tersebut.

“Masyarakat berpikir karena waktu itu sudah parah, kalau kita tidak menggunakan ide menenun diatas batu, orang-orang itu sudah naik untuk menambang. Kita menahan dengan tenun, walaupun bor datang, kami tetap menenun karena masyarakat punya hak miliki,” ujar Mama Lodia.

Febriana melanjutkan perjalanan ke kota Luwuk, Banggai, Sulawesi Selatan. Ia bertemu dengan Eva Bande, perempuan aktivis lingkungan yang memimpin aksi demo terhadap perusahaan melawan ekspansi hutan sawit. Aksi ini berakhir dengan Eva dan beberapa petani lelaki ditangkap aparat.

“Insiden pembakaran alat berat perusahaan dan camp perusahaan diawali karena provokasi yang dilakukan oleh ratusan aparat militer di areal ini dengan alasan untuk latihan perang,” kata Eva.

Perjalanan Febriana diakhiri dengan pertemuannya dengan Farwiza di Aceh, dimana Febriana menceritakan perjalanannya dari Kendeng, Mollo, serta Banggai serta bagaimana para perempuan berhubungan langsung dengan ekonomi maupun alam dan lingkungan. Farwiza sendiri merupakan aktivis lingkungan sekaligus pendiri organisasi HakA, yang meneliti dan menggandeng media untuk melindungi Hutan yang merupakan paru-paru dunia.

“Perempuan punya peran yang sangat besar untuk memajukan ekonomi, untuk melindungi lingkungan, bahkan kita menggambarkan bumi saja sebagai sosok perempuan. Ibu Bumi.” 

Film ini didasari keingintahuan Febriana akan alasan di balik keinginan kuat para perempuan dan tantangan yang harus mereka hadapi selama memperjuangkan hak lahan milik mereka sendiri. Obrolan yang tercipta antara Febriana Firdaus dengan perempuan-perempuan dalam film tersebut secara tak langsung menyadarkan kita akan hal yang mungkin belum banyak disadari masyarakat. Kenapa perempuan setempat terlihat sangat vokal terkait permasalahan ini?

Selain itu, kenapa perempuan mesti bertindak sangat jauh, bahkan bisa dibilang ‘ekstrem’, demi didengar oleh masyarakat luas? Belum lagi pertanyaan-pertanyaan terkait nasib dari para perempuan itu setelah spotlight-nya sudah tidak ada pada mereka lagi. bagaimana hidup para kartini kendeng setelah ditinggal salah satu temannya yang meninggal ketika memperjuangkan hak bersama-sama? 

Apa yang mereka rencanakan selanjutnya, atau mungkin perasaan yang mereka rasakan ketika mengetahui kalau pabrik semen yang mereka perjuangkan akhirnya tetap dibangun juga? Atau mungkin bagaimana hidup mama lodia dan mama aleta selepas caci maki dan kekerasan fisik yang mereka terima ketika melakukan aksi menenun? Bagaimana respon anak dan cucu mereka, apa yang mereka bisa ajarkan pada anak cucun mereka ke depannya? Dan bagaimana respon anak Eva Bande ketika akhirnya sang ibu bisa pulang kembali ke rumah?

Saya jadi sadar, bahwa perjuangan perempuan di indonesia tak hanya sebatas apa yang diperlihatkan oleh media saja. Banyak cerita di dalamnya, salah satunya termasuk bagaimana para perempuan mesti berusaha lebih agar bisa suaranya didengar masyarakat yang lebih fokus pada lelaki. Mereka juga memiliki luka-luka psikologis, luka yang mungkin takkan pernah sembuh. Namun tak sekalipun mematahkan semangat mereka dan malah membuktikan kalau mereka memiliki peran penting juga kekuatan setara laki-laki ketika berjuang.

Kekuatan kolektif para perempuan juga ditunjukkan tak hanya selama berjuang, namun juga ketika mereka bersatu dan merangkul satu sama lain dalam duka. Kemudian berusaha bangkit dengan semangat kolektif yang sama besarnya, yang ditunjukkan oleh kelompok koperasi di luwuk banggai.  

Namun begitu, semangat kolektif yang ditunjukkan oleh para perempuan tidak hanya pada sesamanya, melainkan juga pada alam. Sebab sebagai perempuan yang dipaksa untuk memenuhi tugas di dapur, mereka menumbuhkan rasa lebih mengerti, dan menyadari urgensi untuk selalu melindungi alam yang telah memberikan mereka rezeki secara cuma-cuma.

Pada akhirnya, film ini memberi gambaran mendetail bagaimana perempuan di seluruh indonesia, baik yang terekspos media massa maupun tidak, memperjuangkan hak-haknya sendiri sembari melakukan hal yang memang dipaksakan menjadi kewajiban mereka. Tidak hanya pada konflik lahan seperti di film Tanah Ibu Kami, namun juga pada sektor lainnya seperti Sanita, seorang yang pada 2017 lalu berusaha menempuh pendidikan yang layak, para perempuan yang masih berjuang demi representasi yang setara pada dunia politik, dan lainnya.

Jadi setelah membaca ulasan di atas dan menonton film tanah ibu kami, perspektif apa yang kamu dapat selama menonton film tersebut? Siapkah kamu menjadi agen pencerita kisah perempuan-perempuan yang memperjuangkan haknya di indonesia pada khalayak luas?

Kontributor Media Edukasi Indonesia : Izzah Ilma Rohmatin 

Komentar
Artikel ini telah dibaca 396 kali

Baca Lainnya

Rekomendasi Film Korea Cocok Untuk Gen Z, Ada Train to Busan

2 November 2023 - 19:46 WIB

Rekomendasi Film Korea

Film yang Bikin Mahasiswa Tertawa dan Terinspirasi, Apa Saja?

25 Oktober 2023 - 19:08 WIB

Pecinta Film Mitologi Wajib Tahu! 3 Film tentang Dewa yang Spektakuler

10 Agustus 2023 - 15:00 WIB

Film Mitologi

Bikin Jantungan, 3 Film Pendakian Gunung yang Menegangkan!

9 Agustus 2023 - 15:00 WIB

Film Pendakian Gunung

Di Luar Nalar, 3 Film Misteri dengan Alur Tak Terduga

7 Agustus 2023 - 15:00 WIB

Film Misteri

Rahasia Tersembunyi pada Film Prekuel The Hunger Games 2023

3 Agustus 2023 - 18:00 WIB

The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes 2023
Trending di Film